Tulisan Terkini >>

Liberalis Yang Ma'rifatnya Minimalis

Oleh: Ust. Hasan Al-Jaizy 

Beberapa saat setelah terjadi bencana di Aceh, budayawan sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Goenawan Mohamad, berkirim SMS kepada sejumlah teman di JIL, termasuk Ulil Abshar Abdalla. 

SMS itu berbunyi, "Orang yang percaya bahwa tsunami adalah cobaan dari Tuhan, maka dia percaya kepada Tuhan yang buas. Itu bukan Tuhan saya."

(kutipan dari karya Abu Umar Abdillah dalam "Terapi Kerasukan JIL")

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." [Q.S. Al-Baqarah: 155]

Utusan Allah Ta'ala, yaitu Nabi Muhammad -shallallahu alayhi wa sallam-, bersabda:

لَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ أَوِ الْمُؤْمِنَةِ، فِي جَسَدِهِ، وَفِي مَالِهِ، وَفِي وَلَدِهِ، حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ

"Cobaan selalu menimpa orang mukmin dan mukminan (di dunia), baik terhadap jasad, harta dan anaknya hingga dia menjumpai Allah dalam keadaan tidak membawa kesalahan." [H.R. Ahmad, no. 7859, dengan isnad hasan]

Liberalis jangkauan fikirannya minimalis. Tidak bisa atau kesulitan meraih hikmah di balik musibah. Dan kesulitan menerima firman Rabb-nya dan sabda Nabi-Nya. 

Ketika Allah menetapkan bahwa Dia lah yang memberi bala (cobaan) pada makhluk-Nya, liberalis justru mengingkari dengan alasan bodoh, yaitu, "Kalau memang Tuhan yang membuat cobaan ini, maka itu adalah Tuhan yang buas. Dan itu bukan Tuhan saya."
Liberalis begitu iblis.

Takwil Iblis setelah menolak sujud terhadap Adam atas amar Pencipta segalanya, "Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia dari tanah."

Dan Iblis mendasari pengingkaran itu dengan nalar sempitnya semata, tanpa menerawang hikmah di balik amar.

Sebagaimana Liberalis mendasari pengingkaran bahwa cobaan adalah dari Allah dengan nalar sempitnya semata, tanpa menerawang hikmah di balik musibah.

Semoga Allah hancurkan Liberalisme.

4 Butir Kesepakatan Ormas Islam & Parpol Islam

Seperti kita ketahui semua, Kami malam kemarin di sebuah rumah di Cikini telah diadakan pertemuan beberapa tokoh Islam, wakil ormas Islam dan Parpol berbasis Islam. Nampak hadir di antara mereka tokoh reformasi, Mantan Ketua MPR RI, Dr Amien Rais, Ketua MUI Pusat, KH Cholil Ridwan, dan H Amidhan, Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat, Bachtiar Nasir. Beberapa tokoh partai seperti Presiden PKS, Anis Matta didampingi Fahri Hamzah dan belakangan juga datang Dr Hidayat Nur Wahid, Azwar Abu Bakar (PAN), dan wakil dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Bagaimana hasil pertemuan tersebut ? berikut kami redaksi sangpencerah.com mendapatkan info dari salah satu peserta musyawarah, Ust.Fahmi Salim,Lc,MA. Beliau mengirimkan pesan ada 4 butir hasil nya. Berikut pesan dari beliau :


Salam ‪#‎KoalisiPolitikIslam‬: Alhamdulillah Silaturrahim Cikini semalam yg dihadiri puluhan tokoh teras Parpol Islam dan ormas Islam menghasilkan;


1. Ummat tahu kalau aspirasinya ada yg mengelola, khususnya koalisi partai Islam.

2. Ummat tahu kalau sudah ada kekuatan baru yg tengah bergerak dan ummat siap mendukung.

3. Memaksa pimpinan partai dan ormas Islam bersilaturrahim.

4. Terjadi koalisi politik dan keummatan.

Salam, Tim Penggerak Forum Koalisi Umat.


Semoga kedepannya para pemimpin di negeri ini bisa bersatu untuk mementingkan umat, daei kepentingan individunya. [sp/mch]

Besok Pagi Ada Deklarasi "Aliansi Nasional Anti Syi'ah"

Dalam upaya membendung gerakan Syiah Indonesia, hari Ahad pagi (20/04/2014) di Masjid Al Fajr Jalan Cijagra Raya Buah Batu Bandung, Jawa Barat akan dideklarasi Aliansi Nasional Anti Syiah.
Pembentukan aliansi ini merupakan salah satu rekomendasi Musyawarah Nasional Ulama dan Umat Islam Indonesia ke 2 yang diselenggarakan Forum Ulama Ummat Indonesia (FUII) di Bandung, Ahad, 22 April 2012, demikian disampaikan Sony Kumara, salah satu panitia acara pada hidayatullah.com.
Rencananya deklarasi ini akan dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan. Juga akan dihadiri lebih dari 100 ulama maupun tokoh Islam dari seluruh Indonesia.
Berikut tokoh Islam maupun ulama yang direncanakan hadir pada deklarasi Aliansi Nasional Anti Syiah: KH Abdul Hamid Baidlowi (ulama NU),  Prof. Dr. KH Muslim Ibrahim (Ketua MPU Aceh), KH Muhammad Said Abdus Shamad Lc (Ketua LPPI Makassar),  Prof. Dr. KH Maman Abdurrahman(Ketua Persis), Drs. KH Abdul Muis Abdullah (Ketua MUI Balikpapan), KH Ahmad Cholil Ridwan Lc (Ketua MUI Pusat), Alhabib Zein Al Kaff (ulama Jawa Timur), Drs. KH M Nuruddin A Rahman SH (ulama Madura), KH Muhammad Alkhathath (Sekjen FUI), Ust. Farid Ahmad Okbah  MA (MIUMI), Prof. DR. Muhammad Baharun (pakar Syiah), dan KH Athian Ali M Da’i Lc. MA (Ketua FUUI).[sp/hidayatullah]

IMM dan IPM Galang Bantuan Untuk Korban Kebakaran

Musibah kebakaran yang terjadi di Kotabaru, Kal-Sel sekitar pukul 01.00 wita, Rabu (2/4) kembali memantik semangat kawan-kawan Bidang Sosial dan Kemasyarakatan Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kota Banjarmasin untuk kembali ber-Fastabiqul Khairat menolong sesama dengan melakukan penggalangan dana dan mengumpulkan sejumlah bantuan berupa pakaian layak pakai, makanan dls. Musibah kebakaran tersebut mengakibatkan sekitar 64 rumah yang hangus terbakar dilahap si jago merah, dan warga di tempat kejadian sebagian tidak sempat menyelamatkan harta benda mereka. Sehingga sekitar 59 kepala keluarga dan 172 jiwa harus kehilangan tempat tinggal dan mengungsi ke rumah tetangga atau ketempat sanak keluarganya.

Awalnya penggalangan dana ini hanya dilakukan oleh PC IMM Kota Banjarmasin lewat Bidang Sosial dan Kemasyarakatannya. Tetapi, salah seorang kader PC IMM Kota Banjarmasin berinisiatif melakukan penggalangan dana dan mengumpulkan sejumlah bantuan bersama Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Kota Banjarmasin, mengingat IMM dan IPM adalah sama-sama Ortom Muhammadiyah. Apalagi sebagian kader IMM memang berasal dari IPM, sehingga tidak terlalu sulit untuk melakukan koordinasi antara PC IMM dan PD IPM Kota Banjarmasin.

Penggalangan dana dan pengumpulan sejumlah bantuan dilakukan selama lebih kurang 6 hari, dari Minggu (7/4) hingga Jum’at (11/4). Penggalangan dana dan pengumpulan sejumlah bantuan dilakukan di dua tempat berbeda. PC IMM Kota Banjarmasin melakukan penggalangan dana dan pengumpulan sejumlah bantuan di beberapa kampus di Banjarmasin, seperti STIKES Muhammadiyah Banjarmasin, IAIN Antasari Banjarmasin, Unlam Banjarmasin dan Politeknik Negeri Banjarmasin. Sedangkan PD IPM Kota Banjarmasin melakukannya di beberapa Sekolah Muhammadiyah yang ada di Banjarmasin seperti SMA Muhammadiyah 1 Banjarmasin, SMK Muhammadiyah 1 Banjarmasin, SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin, SMK Muhammadiyah 3 Banjarmasin, Ponpes Modern Muhammadiyah Al-Furqan Banjarmasin, dll. Bantuan kemudian diserahkan secara langsung kepada korban pada hari Sabtu (12/4) oleh PC IMM Kota Banjarmasin dan PD IPM Kota Banjarmasin yang dikoordinir oleh Ketua Bidang Sosial dan Kemasyarakatan PC IMM Kota Banjarmasin, IMMawati Ayutria Oktaviana.

Ketua Umum PC IMM Kota Banjarmasin, IMMawan Syarif Hidayatullah mengatakan, “Kegiatan seperti ini memang sudah kerap kali dilakukan oleh PC IMM Kota Banjarmasin. Tetapi ada hal yang agaknya membuat beda kegiatan kali ini dari kegiatan-kegiatan penggalangan dana sebelumnya, yaitu bergabungnya dua Ortom di Banjarmasin untuk melakukan penggalangan dana dan pengumpulan sejumlah bantuan.” Sebelumnya PC IMM Kota Banjarmasin dan PD IPM Kota Banjarmasin sangat jarang melakukan kegiatan bersama-sama, bahkan bisa dikatakan belum pernah. “Melalui penggabungan dua Ortom Muhammadiyah pada kegiatan kali ini tentunya banyak menghasilkan manfaat lebih, diantaranya koordinasi dan kerjasama antar Ortom Muhammadiyah (PC IMM dan PD IPM Kota Banjarmasin) akan lebih kokoh, selain itu bantuan yang didapatkan juga lebih banyak karena dengan melibatkan dua Ortom Muhammadiyah pada kegiatan kali ini otomatis menambah tempat-tempat penggalangan dana dan pengumpulan sejumlah bantuan, tidak hanya di kampus-kampus, tapi juga di sekolah-sekolah.” Pungkas mantan Sekretaris Umum PK IMM STIKES Muhammadiyah Banjarmasin ini.

PD IPM Kota Banjarmasin dan PC IMM Kota Banjarmasin berharap kegiatan sosial kali ini menjadi salah satu spirit perjuangan anak-anak Persyarikatan Muhammadiyah di Banjarmasin. Dua Ortom Muhammadiyah ini juga berharap kerjasama ini dapat berlanjut untuk kegiatan-kegiatan yang akan datang.[sp/rizkon]

Prinsip-prinsip Dasar Ekonomi Syariah

Tiga dekade yang lalu, Bank Syariah sebagai representasi keuangan Islam, belum dikenal oleh masyarakat. Kini sistem keuangan syariah telah beroperasi di lebih dari 55 negara yang pasarnya tengah bangkit dan berkembang (Lewis dan Algaoud, 2007).
Meskipun pemikiran ekonomi syariah baru muncul beberapa tahun terakhir ini di negara-negara muslim, namun ide-ide tentang ekonomi Islam dapat dirunut dalam Alquran yang di turunkan pada abad ke-7.
Makna harfiah syariah adalah “jalan menuju mata air, dan dalam pengertian teknis berarti sistem hukum dan aturan perilaku yang sesuai dengan Alquran dan Hadist, seperti yang dituntunkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. 
Adapun prinsip-prinsip keuangan syariah meliputi:
  1. Riba
    Riba secara bahasa bermakna ziyadah (tambahan). Sedangkan menurut istilah teknis riba berarti pengambilan dari harta pokok atau modal secara batil (Antonio, 1999). Ada beberapa pendapat dalam menjelaskan riba. Namun secara umum terdapat benang merah yang menegaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam-meminjam secara batil atau bertentangan dengan prinsip muamalah dalam Islam.
    Secara garis besar, riba dikelompokkan menjadi dua. Masing-masing adalah riba utang-piutang dan riba jual beli. Kelompok pertama terbagi lagi menjadi riba qardh dan riba jahiliyyah. Adapun kelompok kedua, riba jual beli terbagi lagi menjadi riba fadhl dan riba nasiah.
    Riba Qardh adalah suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang. Riba Jahiliyyah adalah utang yang dibayar lebih dari pokoknya karena si peminjam tidak mampu membayar utang pada waktu yang telah ditetapkan.
    Riba Fadhl adalah pertukaran antar barang sejenis dengan kadar atau takaran berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan itu termasuk dalam jenis barang ribawi. RibaNasih adalah penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba nasiah muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau penambahan antara yang diserahkan saat ini dan yang diserahkan kemudian.
  2. Zakat
    Zakat merupakan instrumen keadilan dan kesetaraan dalam Islam. Keadilan dan kesetaraan berarti setiap orang harus memiliki peluang yang sama dan tidak berarti bahwa mereka harus sama-sama miskin atau sama-sama kaya.
    Negara Islam wajib menjamin terpenuhinya kebutuhan minimal warga negaranya, dalam bentuk sandang, pangan, papan, perawatan kesehatan dan pendidikan (QS. 58:11). Tujuan utamanya adalah untuk menjembatani perbedaan sosial dalam masyarakat dan agar kaum muslimin mampu menjalani kehidupan sosial dan material yang bermartabat dan memuaskan.
  3. Haram
    Sesuatu yang diharamkan adalah sesuatu yang dilarang oleh Allah sesuai yang telah diajarkan dalam Alquran dan Hadist. Oleh karena itu, untuk memastikan bahwa praktek dan aktivitas keuangan syariah tidak bertentangan dengan hukum Islam, maka diharapkan lembaga keuangan syariah membentuk Dewan Penyelia Agama atau Dewan Syariah. Dewan ini beranggotakan para ahli hukum Islam yang bertindak sebagai auditor dan penasihat syariah yang independen.
    Aturan tegas mengenai investasi beretika harus dijalankan Oleh karena itu lembaga keuangan syariah tidak boleh mendanai aktivitas atau item yang haram, seperti perdagangan minuman keras, obat-obatan terlarang atau daging babi. Selain itu, lembaga keuangan syariah juga didorong untuk memprioritaskan produksi barang-barang primer untuk memenuhi kebutuhan umat manusia.
  4. Gharar dan Maysir
    Alquran melarang secara tegas segala bentuk perjudian (QS. 5:90-91). Alquran menggunakan kata maysir untuk perjudian, berasal dari kata usr (kemudahan dan kesenangan): penjudi berusaha mengumpulkan harta tanpa kerja dan saat ini istilah itu diterapkan secara umum pada semua bentuk aktivitas judi.
    Selain mengharamkan judi, Islam juga mengharamkan setiap aktivitas bisnis yang mengandung unsur judi. Hukum Islam menetapkan bahwa demi kepentingan transaksi yang adil dan etis, pengayaan diri melalui permainan judi harus dilarang.
    Islam juga melarang transaksi ekonomi yang melibatkan unsur spekulasi, gharar (secara harfiah berarti “resiko). Apabila riba dan maysir dilarang dalam Alquran, maka gharar dilarang dalam beberapa hadis. Menurut istilah bisnis, gharar artinya menjalankan suatu usaha tanpa pengetahuan yang jelas, atau menjalankan transaksi dengan resiko yang berlebihan. Jika unsur ketidakpastian tersebut tidak terlalu besar dan tidak terhindarkan, maka Islam membolehkannya (Algaoud dan Lewis, 2007).
  5. Takaful
    Takaful adalah kata benda yang berasal dari kata kerja bahasa arab kafala, yang berarti memperhatikan kebutuhan seseorang. Kata ini mengacu pada suatu praktik ketika para partisipan suatu kelompok sepakat untuk bersama-sama menjamin diri mereka sendiri terhadap kerugian atau kerusakan. Jika ada anggota partisipan ditimpa malapetaka atau bencana, ia akan menerima manfaat finansial dari dana sebagaimana ditetapkan dalam kontrak asuransi untuk membantu menutup kerugian atau kerusakan tersebut (Algaoud dan Lewis, 2007).
    Pada hakikatnya, konsep takaful didasarkan pada rasa solidaritas, responsibilitas, dan persaudaraan antara para anggota yang bersepakat untuk bersama-sama menanggung kerugian tertentu yang dibayarkan dari aset yang telah ditetapkan. Dengan demikian, praktek ini sesuai dengan apa yang disebut dalam konteks yang berbeda sebagai asuransi bersama (mutual insurance), karena para anggotanya menjadi penjamin (insurer) dan juga yang terjamin (insured).
    Prinsip Bagi Hasil
    Gagasan dasar sistem keuangan Islam secara sederhana didasarkan pada adanya bagi hasil (profit and loss sharing). Menurut hukum perniagaan Islam, kemitraan dan semua bentuk organisasi bisnis didirikan dengan tujuan pembagian keuntungan melalui partisipasi bersama.  Mudharabah dan musyarakah adalah dua model bagi hasil yang lebih disukai dalam hukum Islam.
    Mudharabah (Investasi)
    Mudharabah dipahami sebagai kontrak antara paling sedikit dua pihak, yaitu pemilik modal (shahib al mal atau rabb al mal) yang mempercayakan sejumlah dana kepada pihak lain, dalam hal ini pengusaha (mudharib) untuk menjalankan suatu aktivitas atau usaha. Dalammudharabah, pemilik modal tidak mendapat peran dalam manajemen. Jadi mudharabah adalah kontrak bagi hasil yang akan memberi pemodal suatu bagian tertentu dari keuntungan/kerugian proyek yang mereka biayai. (Algaoud dan Lewis, 2007)
    Musyarakah (Kemitraan)
    Musyarakah adalah akad kerjasama antara dua belah pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu yang masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.
    Disadur dari Tapak-Tapak Ekonomi Syariah oleh Oktofa Yudha Sudrajad
    Sumber: www.salmanitb.com

    Mengapa Nabi Musa Paling Sering Disebut di Dalam Al Qur’an?

    Pertanyaan ini tiba-tiba dilontarkan, mengapa? Ya, dan baru ku tahu juga bahwa memang demikian. Percaya? Kalau tidak, silakan dihitung sendiri… hehhe… atau lihat saja menggunakan Qur’an counter.:P
    Langsung saja deh… Mengapa ya…ada yang tahu?

    Jawabannya singkat,

    “Karena Allah ingin kisah Musa menjadi pelecut semangat Rasulullah Muhammad Saw”

    Ada banyak alasan mengapa demikian, akan kita bahas di sini.
    “Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekauanku dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.” (Thaha:25-28)

    Ini adalah doa Nabi Musa tatkala akan menghadapi Fir’aun. Musa bukanlah seorang Nabi yang fasih sebagaimana Nabi Muhammad. Sejarahnya entah seperti apa (mungkin ada yang tahu), sehingga menyebabkan lidahnya cacat, dan bicaranya kelu. Meskipun demikian kondisinya, Nabi Musa tetap berdakwah dengan segala keterbatasannya. Maka Allah ingin nabi Muhammad yang lebih fasih berbicara untuk lebih luar biasa lagi semangatnya dalam berdakwah.

    Alasan yang kedua, bahwa ada perbedaan track record antara Nabi Musa dan Nabi Muhammad. Sejak lahir, nabi Muhammad sudah terjaga, nama baiknya, kepribadiannya, bahkan terkenal kejujurannya hingga mendapat gelar Al-Amin. Namun, Nabi Musa tidak begitu. Beliau pergi dari Mesir adalah karena telah membunuh seseorang. Maka sudah semestinya Nabi Muhammad lebih berhasil dalam mendakwahkan Islam kepada kaumnya, karena tidak ada riwayat keburukan atau dosa yang dilakukan Rasul.

    “…. Dan kamu pernah membunuh seorang manusia[917], lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan; maka kamu tinggal beberapa tahun diantara penduduk Madyan[918], kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan[919] hai Musa,”

    Yang dibunuh adalah seorang bangsa Qibti yang sedang berkelahi dengan seorang Bani Israil sebagaimana yang dikisahkan dalam Al Qashash 15.

    Sekali lagi, bahwa kisah Nabi Musa dapat menjadi pelecut semangat Rasulullah. Mengapa? Alasan selanjutnya berdasarkan ayat berikut,

    “Yaitu: "Letakkanlah ia (Musa) didalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir'aun) musuh-Ku dan musuhnya. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku[916]; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku,” (Thaha:39)

    Musa, sejak kecil (bayi) diasuh oleh Fir’aun -musuhnya dan musuh Allah-. Ada semacam perasaan hutang budi Musa kepada Fir’aun. Berbeda dengan Nabi Muhammad, yang tidak punya rasa hutang budi satu pun pada siapapun.

    Alasan terakhir adalah bahwa dalam perjuangannya berdakwah, Nabi Muhammad ditemani oleh begitu banyak sahabat. Sahabat itu yang sedia menjawab setiap seruan dakwah termasuk qital, sahabat yang bahkan sedia menjadi tameng saat nabi terjebak lontaran panah musuh yang tiada henti menyerang. Sahabat yang rela berlapar dan berkorban dalam perjuangan perang demi perang. Dan banyak sekali yang dilakukan sahabat bersama sang Nabi.

    Sebaliknya, Nabi Musa, dia hanya punya seorang sahabat bernama Harun. Bahkan, Musa lah yang memohon hal ini pada Allah, sebagaimana disebut dalam Surat Thaha 29-36.

    “dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku. Teguhkanlah kekuatanku dengan (adanya) dia, dan jadikanlah dia teman dalam urusanku, agar kami banyak bertasbih kepada-Mu, dan banyak mengingat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Melihat (keadaan) kami” Dia (Allah) berfirman, “Sungguh, telah diperkenankan permintaanmu, wahai Musa!”

    Nabi Muhammad kemudian mendapat banyak pengikut, bahkan hingga saat ini. Berbeda dengan Nabi Musa.

    “Dia (Allah) berfirman, “Sungguh, Kami telah menguji kaummu setelah engkau tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri” Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Dia (Musa) berkata, “Wahai kaumku! Bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Apakah terlalu lama masa perjanjian itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan Tuhan menimpamu, mengapa kamu melanggar perjanjian dengan aku?” (Q.S Thaha 85-86)

    Ya, umat Nabi Musa akhirnya menyembah patung sapi yang dibuat oleh Samiri. Hal itu karena mereka (kaum Musa) tidak sabar dengan tenggang waktu 40 malam yang telah diberikan Allah untuk menerima petunjuk (Taurat). Ini disebutkan juga dalam Al Baqarah 51. Nabi musa ditinggalkan oleh kaum yang sebelumnya menjadi pengikutnya dan telah diselamatkan Allah melalui terbelahnya lautan.

    Mereka, kaum yang akhirnya membelot itu malah semakin terang-terangan tidak mengakui Allah dengan berkata pada Musa, “Wahai Musa, Kami tidak tahan dengan satu macam makanan saja, maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi seperti: sayur mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah” (Al Baqarah 61)

    Perhatikan, bahwa kaumnya memakai kata “Tuhanmu”, bukan Tuhan kita. Artinya, memang mereka sudah tidak lagi mengakui tuhannya Musa, karena mereka membelot pada patung anak sapi yang tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak kuasa menolak mudharat maupun mendatangkan manfaat kepada mereka.

    Inilah beberapa hal Rasulullah dapat jadikan pelecut dakwah beliau. Banyak cobaan dan ujian yang dialami oleh musa dalam berdakwah, bahkan akhirnya, kaumnya membelot. Namun, itu tak menghalangi semangat dakwah Nabi Musa.

    Materi ini diambil dari tausyah yang disampaikan ust. Salim dalam acara cermin di universitas Indonesia

    Jurnalisme Islami Mampu Wujudkan 'Khaira Ummah'

    Jurnalisme Islami adalah jurnalisme yang meneladani empat akhlaq mulia Rasulullah, Muhammad SAW. Ke-empatnya meliputi Shiddiq atau mendasarkan pada kebenaran, tabligh atau mendidik, Amanah atau dapat dipercaya serta Fathonah atau arif.

    Hal ini ditegaskan tokoh pers nasional, Parni Hadi saat memberikan kuliah umum kepada mahasiswa baru Universitas Islam Sultan Agung, Semarang.

    Di hadapan ratusan mahasiswa, Parni menegaskan, seperti halnya 'tugas' Rasulullah, jurnalisme Islam juga harus bisa membawa risalah demi kebaikan umat manusia di dunia.

    Jurnalisme Islam harus mampu menyampaikan risalah yang bermanfaat bagi semua orang berdasarkan cinta, sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT.

    "Yakni berani mengungkap kebenaran (truth), menegakkan keadilan (justice), mendukung terciptanya kesejahteraan (prosperity), mampu menciptakan perdamaian (peace) dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan universal (universal humanity)," katanya menjelaskan.

    Untuk dapat melaksanakan jurnalisme ini, jelas mantan Pemred Republikaini, seorang jurnalis harus memiliki niat demi cinta kepada sesama tanpa diskriminasi.

    Jurnalis yang bersangkutan juga harus mampu menempuh 'laku' pengendalian diri melalui kontemplasi berdasarkan ajaran agama dan orang suci guna mengasah kepekaan dan kecerdasan spiritualnya.

    "Artinya, seorang wartawan dalam jurnalisme Islam adalah seorang jurnalis yang bekerja dengan menggunakan kemampuan profesional dan kecerdasan spiritualnya sekaligus," ujar Parni.

    Dalam konteks membangun generasi Khaira Ummah, masih ungkap Parni, jurnalisme Islami bisa menjadi media paling efektif untuk mewujudkannya. Sebab, nilai dan produk jurnalisme Islami yang juga mengusung misi meningkatkan kualitas sumber daya insani yang unggul.  

    Mengutip pernyataan mantan Ketua ICMI, BJ Habibie, keunggulan ini meliputi iman, taqwa, pikir, kerja serta karya dalam hidup," kata mantan Dirut RRI ini menambahkan.[sp/rol]

    Kaum Muslim dan Ilmu Astronomi

    Setiap kali bicara tentang tata surya, kita pasti akan menyebut nama Nicolas Copernicus yang dikenal sebagai pembaru dalam dunia astronomi. Selain itu, kita juga tak luput menyebut nama Johannes Kepler khususnya dengan hukum Keplernya. Hukum yang digagas oleh Johannes Kepler pada awal abad ke-15 M mendasarkan hukumnya berdasarkan data yang dikumpulkan oleh astronom Denmark, Tycho Brahe. Hukum ini memang telah diakui sebagai terbenar dalam abad ini. Hukum Kepler terdiri dari tiga postulat yang menjelaskan tentang orbit planet. Secara singkat, Hukum Kepler pertama menjelaskan bahwa planet-planet mengorbit (mengelilingi) Matahari dengan lintasan berbentuk elips (ihlîjî) dengan matahari pada salah satu fokusnya. 

    Hukum kedua Kepler menjelaskan tentang pergerakan planet. Dalam satu rentang waktu yang sama, planet bergerak menyapu daerah yang sama panjangnya. Karena orbit planet berbentuk elips, maka konsekuensinya makin dekat jarak planet ke Matahari, makin cepat pula gerak orbitnya. Terakhir, hukum ketiga Kepler menyatakan bahwa kuadrat dari periode planet (waktu yang diperlukan untuk menempuh satu orbit) adalah sebanding dengan pangkat tiga jarak rata-rata planet itu dari matahari. Pernyataan ini dituangkan dalam persamaan matematis: P2 = a3, dimana P adalah periode planet mengelilingi Matahari (dihitung dalam tahun) dan a adalah jarak planet ke Matahari (dalam Satuan Astronomi). Konsekuensi dari hukum ini adalah semakin jauh jarak planet, makin lambat pula pergerakannya.

    Terhadap tiga hukum Kepler diatas, Prof.Dr.Muhammad Shalih an-Nawawi (Guru Besar Falak Universitas Kairo) menyatakan (menulis) dalam makalahnya yang berjudul "Ibn Syâthir wa Nashîruddîn at Thusî wa Dawâ'ir al Aflâk" yang dipresentasikan pada seminar internasional sejarah ilmu pengetahuan tanggal 28 s.d. 30 September 2004 M di Perpustakaan Alexandria - Mesir, ia mengungkap, bahwa teori tersebut pada dasarnya telah dikemukakan atau setidak-tidaknya disinggung oleh Ibn Syathir (w.777 H) diabad 8 H/14 M dalam karyanya "Ta'lîq al Arshâd" dan"Nihâyat al Ghâyat fî[l] a'mâl al Falakiyyât". Dengan demikian setidak-tidaknya informasi ini mematahkan gagasan tata surya Copernicus dan Kepler meski perlu penelitian lebih lanjut. Lebih lanjut, melalui diskusi (bincang-bincang) penulis dengan Dr.Muhammad Abdul Wahab Jalal (eks Guru Besar Matematika-Astronomi & Sejarah Ilmu Pengetahuan (History Science) Universitas Prancis) menyatakan, bahwa Nicholas Copernicus dalam teori-teorinya terdapat kemiripan komposisi (jadwal) astronomi yang ia buat dengan yang dibuat oleh Ibnu Syathir dalam jadwal (zig)-nya.

    sumber : 
    http://www.pcimmesir.com/2014/04/muslimun-adalah-penggagas-ilmu-falak.html

    Peta Pergerakan Islam

    PETA PERGERAKAN ISLAM

    Prof. Dr. Abdul Hay Al-Farmawi
    Guru Besar Ilmu Tafsir dan Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin – Universitas al-Azhar Kairo.
    Pernah menjabat sebagai anggota parlemen dari Ikhwanul Muslimin

    “Sebenarnya tidak ada jamaah atau kelompok Islam yang ingin memerangi pemerintah. Yang ada adalah Kelompok tertentu yang memerangi mereka yang Menghalangi tegaknya syariat Islam”

    Apakah Islam mengenal konsep pergerakan dan pemberdayaan yang terorganisir ? Dan jika memang ada, apakah ada landasan normatif dan historisnya?
    Bismillahirrahmanirrohim.  Sebelumnya harus dipahami terlebih dahulu bahwa dari awal kemunculannya, Islam berdiri atas dasar organisasi dan pergerakan. Tanpa itu, tidak mungkin Islam sampai kepada kita. Tentunya, peletak dasar gerakan Islam adalah Allah Swt., yang kemundian diterapkan oleh Rasul-Nya.
     Al-Qur'an sendiri banyak mengajak umat Islam untuk beramal, dan itu berarti sebuah pergerakan. Al-Quran juga memberikan prinsip dan aturan-aturan bagi sebuah gerakan masal, individu bahkan pemikiran. Dalam penyebaran dakwah Islam di Mekkah, semua yang dilakukan Rasul Saw., adalah bentuk kongret dari sebuah gerakan dengan langkah-langkah yang terorganisir (tandzim). Demikian juga halnya yang terjadi pada peristiwa hijrah, peperangan Nabi (ghazawât) di Madinah dan peristiwa lainnya. Kesemuanya mencerminkan sebuah gerakan yang rapi dan teratur.

    Kita mengetahui di Timur Tengah terdapat banyak pergerakan Islam. Bisakan anda menjelaskan mengapa keragaman tersebut bisa terjadi ?
    Sebenarnya, konsep 'amal dalam islam satu, pergerakan dalam Islam satu, sebagaimana metode dakwah dan jalan menuju kebenaran adalah satu juga. Jika gerakan Islam diberdayakan dan diberi ruang berpartisipasi, mereka pasti akan bersatu.

    Adapun penyebab terjadinya keberagaman tersebut adalah adanya permusuhan terhadap Islam dan pergerakannya yang tidak memungkinkan mereka bertemu secara legal. Karena itulah, setiap golongan dari umat berusaha untuk menghadapinya sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing.

    Benar, ada di antara mereka yang mengambil aqidahnya saja, ada yang terjun di bidang ilmu pengetahuan, ada yang terjun di dunia pergerakan dan ada juga yang mengambil aspek keislaman secara komprehensif (Syumûl). Tapi iti tidak berarti kemudian bahwa keragaman tersebut adalah sebuah penyimpangan atau sesuatu yang membahayakan, karena hal itu muncul disebabkan oleh permusuhan dan tekanan dari pihak-pihak tertentu terhadap Islam.
    Seandainya di sana ada jaminan kebebasan berekspresi, maka mereka aka menjadi satu barisan, satu manhaj  dan satu jamaah, yaitu Ahlu Sunnah. Kita berharap kesatuan itu akan dapat dicapai untuk waktu-waktu mendatang.

    Banyak orang berasumsi bahwa munculnya pergerakan Islam berangkat dari adanya ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah setempat, bagaimana anda menanggapi asumsi ini?

    Bisa jadi, tergantung pemerintahannya. Jikalau pemerintahannya memang tidak menerapkan syariat Islam, dan tidak rela terhadap kelompok tertentu yang ingin menerapkan syariat Islam, asumsi diatas bisa diterima.

    Jadi bukan sebatas pada permusuhan terhadap kelompok berkuasa. Sikap pemerintah tersebut merupakan bentuk diskriminatif terhadap orang-orang tertentu atau pihak-pihak tertentu.

    Karena itu, sebenarnya tidak ada jamaah atau kelompok Islam yang ingin memerangi pemerintah. Yang ada adalah kelompok tertentu (pemerintah red) yang memerangi dan menghalangi syariat Islam.

    Apakah gerakan-gerakan seperti ini tidak berarti kemudian sebuah bughot (pemberontakan) terhadap penguasa setempat ?
    Coba kita lihat sekarang, apabila anda tidak rela melihat sesuatu yang salah apakah anda dihukum? Tidak kan? Anda dianggap salah dan dihukum hanya apabila berusaha meluruskannya dengan cara yang salah pula. Artinya, anda akan dihukum apabila melanggar peraturan dan norma-norma yang memang berlaku di dalam masyarakat. Oleh karenanya, tidak dibenarkan untuk melawan penguasa jikalau hal itu berakibat kepada kerusakan tatanan masyarakat dan membahayakan negara. Bukankah masih ada banyak cara damai untuk melakukan hal itu tanpa harus menyebabkan tatanan masyarakat.

    Menurut anda, apakah ada faktor-faktor khusus bersifat lokal yang menyebabkan munculnya pergerakan Islam di Timur Tengah ?

    Islam pada hakikatnya adalah sebuah gerakan. Setiap hari terjadi hal-hal baru dalam masyarakat kita. Artinya, proses pembeharuan itu memang terjadi, sebut saja pembaharuan fiqh. Imam Syafi'I mempunyai qaul qadîm dan qaul jadîd. Demikian pula halnya dengan pergerakan.

    Pergerakan Islam sebenarnya muncul akibat jauhnya umat Islam dari ajaran agamanya. Dari sini kemudian muncul gerakan pembaharu Islam yang menginginkan agar umat Islam kembali kepada ajaran agamanya, seperti yang dipelopori oleh Imam Muhammad bin Abdul Wahab dan Ibn Taimyah. Mereka kepentingan yang sama, yaitu ingin mengembalikan manusia kepada ajaran Islam.

    Contoh lain, pasca keruntuhan khilafah Islamiyah tahun 1924, muncul sebuah pergerakan modernis terbesar Ikhwanul Muslimin, tepatnya pada tahun 1928. Mereka ini juga menghadapi kelompok-kelompok yang memusuhi Islam disamping menginginkan manusia kembali kepada dasar ajaran Islam yang benar.

    Jadi tujuan utama mereka bukan motif kekuasaan atau pemerintahan. Seandainya para rezim penguasa membiarkan Ikhwanul Muslimin hidup bergerak, serta tidak bersikap diskriminatif kepada mereka, niscaya tidak akan muncul gerakan-gerakan Islam sempalan.

    Bisakan anda memetakan secara singkat pergerakan Islam yang terjadi di dunia Arab sekrang ini?
    Realitanya, petanya sekarang tidak jelas hi hi hi…  Bagaimana bisa dipetakan kalau pemerintah Amerika membuat bak sampah bernama terorisme. Bahkan mereka menyebut setiap gerakan yang mengajak kepada Islam sebagai kelompok teroris. Itulah opini publik yang sedang dibangun sekarang ini, baik itu melalui telivisi, koran, maupun media lainnya. Kita hanya boleh membicarakan pergerakan Islam sebagaimana tertulis di buku saja, namun secara praktek tidak.
    Sebenarnya di sana ada jamaah Salafiyah yang terang-terangan ingin mengembalikan manusia kepada al-Qur'an dan Sunnah. Segala urusan akan selalu dikembalikan pada keduanya.

    Apakah pergerakan tersebut ingin kembali persis seperti pada zaman Rasulullah Saw.?
    Betul, kembali ke zaman Rasulullah dan para sahabatnya, tapi bukan dalam pengertian jumud. Artinya tentu dengan tetap melihat konteks kekinian sambil memberikan perhatian serius terhadap realita sekarang. Kelompok Salafiyah misalnya, mereka adalah jama'ah Ahlu Sunnah yang hanya bergerak dalam ranah tertentu yang tidak mau ikut campur dalam urusan lainnya, seperti politik. Bagi mereka, yang terpenting adalah mendidik manusianya (tarbiyatu al-Nâs), karena jika manusia sudah berubah, yang lainnya ikut berubah juga.

    Ambil contoh juga kelompok Hizb Tahrir. Mereka mungkin hanya mempunya sedikit pengikut yang tersebar di Yordan, Suriah, Eropa atau Amerika.

    Meskipun demikian, ide utama mereka adalah mengembalikan Khilafah Islamiyah. Yang patut disayangkan, karena tujuan itu, justru mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban penting lainnya. Mereka mengangga kehidupan Islam nonsen tanpa Khilafah. Mereka memahami konsep negara Islam hanya sebatas mendirika Khilafah. Karena memang sekali lagi, itulah tujuan utama mereka.

    Coba kita lihat juga sebuah pergerakan besar Islam, Ikhwanul Muslimin. Pergerakan mereka tidak hanya sekedar teori, tapi lebih condong kepada prakter. Mereka ingin merubah keadaan manusia dengan aksi nyata.

    Pemahaman seperti ini tentu harus mencakup aspek aqidah, akhlak, ibadah dan muamalah. Karena Islam adalah agama dan negara, aqidah dan syariah, ibadah dan muamalah, dunia dan akhirat.

    Artinya, politik adalah bagian dari agama, informasi bagian dari agama, pengajaran dan pendidikan juga bagian dari agama. Semua harus tunduk di bawah agama.

    Dari sinilah muncul pertentangan dengan pemerintah, karena gerakan ini dianggap ingin mengambil alih kekuasaan. Padahal tujuannya bukan itu. Mereka hanya ingin menginginkan sebuah perbaikan dan terealisasinya penerapan syariat, itu saja.

    Demikian pula yang terjadi pada gerakan Islam lainnya, seperti jamaah Ishlah di Maroko dan harakah mujtama' sunni di Aljazair. Tiga pergerakan itu saya pikir sudah mewakili.

    Kalau anda katakan Ikhwanul Muslimin sepakat dengan konsep Islam tentang agama dan negara, bagaimana bentuk pemerintahan yang ideal menurut mereka?
    Bentuk negara? Tidak penting membicarakan bentuk negara ideal yang ada sekarang, karena bisa jadi ia adalah bentuk negara modern. Meskipun demikian , negara ideal harus memenuhi syarat-syarat tertentu, kekuasaan legislatif, kekuasaan yudikatif dan kekuasaan eksekutif dimana ketiganya adalah ciri negara modern hrus merujuk kepada ajaran, norma dan nilai Islam.

    Ketundukan kepada ajaran Islam itulah yang disepakati oleh tiga model gerakan di atas. Kemudian ada sebagian orang yang pesismis dan mengatakan itu hanya sebatas teori saja. Buktinya mana? Ditambah lagi dengan beberapa kegagalan penerapan hukum Islam di Pakistan dan Sudan misalnya. Jawabanya itu bukan hanya sekedar teori.

    Berkanaan dengan beberapa kegagalan diatas, pada hakikatnya, hal itu berpulang kepada individu yang menerapkannya, bukan Islam itu sendiri. Terkadang, dalam sisi-sisi tertentu, mereka salah menerapkannya, atau bisa jadi penerapannya tidak menyeluruh, hanya parsial saja.

    Kalau demikian, berarti Islam tidak mempunyai konsep khusus tentang bentuk negara? Apakah bisa diartikan bahwa bentuk negara Islam bisa berubah seiring dengan perubahan tempat dan waktu serta kondisi sosial masyarakat?
    Tidak! (tegas). Saya telah katakan tadi bahwasa semua bentuk kekuasaan negara termasuk di dalamnya konsep Imâmah dan riyâsah (kepemimpinan) harus selalu merujuk kepada Islam. Akan tetapi yang berubah adalah masalah kemanusiaan (kebutuhan manusia red), seperti layanan telpon, distribusi listrik, transportasi kereta api dan metro. Ini adalah hal-hal yang baru. Ilmu dan teknologi itu bersifat netral, tidak dimonopoli oleh agama tertentu.
    Jadi, semua tegnologi modern tidak beragama. Raullah Saw., pernah bersabda: "Antum a'lamu bi umûri dunyakum" (kamu sekalian lebih tau urusan dunia). Tidak perlu ada yang dirisaukan selama itu masih sesuai dengan kaidah ajaran Islam.

    Apakah yang anda paparkan tersebut baru sebatas konsep. Lebih detai lagi, bisakah anda menyebutkan sebuah nama negara yang memiliki bentuk ideal seperti yang diinginkan Ikhwanuk Muslimin sekarang ini?

    Harus saya katakan ini sangat dilematis, meskipun tentu saja itu sebuah keharusan. Mungkinkah sebuah negara akan dibiarkan menerapkan syariat Islam pada waktu sperti sekarang ini? Bagaimana mungkin akan muncul sebuah negara Islam selama semuanya masih berada di bawah hegemoni globalisasi dan imperalisme Amerika.
    Jelasnya, bentuk ideal itu belum ada sekarang. Sebaliknya, kalau seandainya kebebasan itu terjamin, maka bentuk ideal itu akan dengan mudah kita temukan.

    Adapun beberapa negara Islam yang dinilai gagal menerapkan ajaran Islam, seperti saya katakan sebelumnya, sesungguhnya yang gagal  adalah orang yang menerapkan, dan bukan Islamnya. Dan sangat mungkin, kegagalan itu disebabkan juga oleh faktor eksternal. Sebetulnya hal itulah yang ditakuti oleh Amerika dan para sekutunya, karena umat Islam dinilai memiliki potensi untuk menjadi lebih besar dan kuat dibandingkan dengan mereka.

    Anda katakan bahwa Ikhwanul Muslimin adalah salah satu pergerakan terbesar yang pernah ada, yang mempunyai wawasan global, bisakah anda menjelaskan bagaimana ideologi dan metode yang dipakai oleh mereka? Dan adakah pergerakan lainnya yang memiliki kesamaan dengan Ikhwanul Muslimin saat ini?

    Saya yakin setiap pergerakan memiliki kesamaan dan kedekatan ideologis dengan Ikhwanul Muslimin he..he… Karena bukankah semuanya memiliki satu tujuan yang sama, yaitu menerapkan syari'at Allah Swt?

    Hanya saja, Ikhwanul Muslimin mencoba menganalisa permasalahan yang ada lebih mendalam, lebih bernuansa universal (Syumûl) serta memiliki pandangan yang luas.

    Karenanya, Ikhwanul Muslimin banyak memberikan perhatian kepada perbaikan individu, keluarga, masyarakat dan umat keseluruhan. Ketika empat elemen ini sudah baik maka otomatis akan melahirkan sebuah pemerintahan yang baik pula.

    Gerakan Ikhwanul Muslimin juga mempunyai perhatian serius terhadap pengasahan spiritual, pensucian jiwa, pendidikan iman dan hubungan yang kuat kepada Allah Swt.. Ikhawanul Muslimin ingin menjadikan dirinyasebagai perekat umat dan tidak mengenal rasialisme, karena dakwah Islam memang ditujukan kepada seluruh manusia dan bukan kepada kelompok tertentu.

    Itu semua adalah metode kesalehan yang berdimensi vertikal, bagaimana dengan metode kesalehan yang bernuansa sosial-horisontal?

    Yang jelas, semua metode tersebut, apapun dimensinya, tidak boleh terlepas dari nilai-nilai al-Qur'an dan al-Sunnah, seperti yang saya katakan di awal tadi. Kesemuanya itu harus merujuk kepada keduanya.

    Maaf, yang saya maksud metode khas yang dimiliki oleh Ikhwanul Muslimin?

    Bisa beri saya gambaran kongkrit?

    Dalam masalah Hak Asasi Manusia (HAM) misalnnya, bagaimana sikap Ikhwanul Muslimin keseteraan jender anatar pria dan wanita dalam hak-hak sosial politk?

    Sekarang beritahu saya dulu bagaimana sikap Islam terhadap masalah ini, maka akan saya beri tahu anda konsep Ikhwanul Muslimin tentang itu. Nah, sebagaimana Islam bersikap, begitu pula sikap Ikhwanul Muslimin!

    Begini, yang saya maksud adalah apakah Ikhwanul Muslimin mempunyai pandangan tersendiri dalam masalah ini? Karena bisa jadi ada banyak keragaman pemahaman, tergantung dari sisi mana memahaminya?
    Oh, tidak. Islam memandang masalah ini dari segala sisi. Begini, kata-kata kesetaraan antara pria dan wanita adalah kata yang benar tetapi mempunyai maksud yang batil. Hal itu seperti yang dipahami oleh orang Barat.

     Wanita memang mempunyai kesamaan dengan pria dalam nilai kemanusiaannya, posisi di depan hukum, juga dalam pandangan syari'at. Dalam al-Quran banyak sekali ayat yang menegaskan hal itu. Akan tetapi jangan lupa, di sana terdapat wilayah tertentu di mana kesetaraan itu tidak bisa diterapkan, yaitu permasalahn biologis dan fitrah. Maka jika seorang wanita sudah keluar dari wilayah ini, maka dia telah keluar dari fitrahnya dan itu berarti menentang sunnatullah. Hak dan kewajiban wanita dalam Islam selalu mengikuti fitrah dan sunnatullah. Kita ambil contoh, Medeline Albright, menteri luar negri Amerika Serikat, dia adalah wanita yang bercerai dengan suaminya, sampai-sampai dia pernah berkata terus terang, kalau bukan karena cerai maka tidak mungkin saya akan menduduki jabatan ini. Pada akhirnya dia mengakui terus terang, ingin menjadi wanita normal, sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya.

    Contoh lain Condoliza Rice, penasehat keamanan nasional Amerika, adalah perawan tua. Ia bisa mencapai karir tinggi itu karena tidak punya sifat malu, feminim sebagai perempuan, lihat saja nanti seteleh pensiun dia akan memenuhi hasrat kewanitaannya. Demikian pula yang terjadi pada "si wanita besi", Magareth Tatcher, mantan PM Inggris, dan masih banyak contoh lainnya. Pendeknya, setiap wanita yang keluar dari fitrahnya, nanti pada suatu hari pasti akan menyesal. Sebagaimana Islam, Ikhwanul Muslimin juga membedakan pekerjaan-pekerjaan mana yang bisa yang bisa dilakukan oleh wanita dan mana yang tidak. Tidak membebani mereka di atas kemampuan mereka, tidak sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Barat yang menganggap mereka sebagai komoditi yang diobral dan diekploitir.

    Apakah dapat disimpulkan, kalau wanita mempunyai kesempatan untuk aktif di bidang politik, walau dalam masalah kepimpinan negara misalnya?

    Tentu, tentu, tentu. Kenapa dilarang? Tetapi tentunya sesuai dengan batasan syari'at. Seperti tidak adanya ikhtilath, tidak tampil seronok dalam sikap, ucapan, pakaian dan lain sebagainya serta menyuarakan advokasi hak-hak kaum hawa.
    Berkenaan dalam masalah kepemimpinan wanita, saya sempat diskusi dengan Dr. Sofwan (salah seorang pimpinan wilayah Muhammadiyah. red) tentang masalah ini. Masalah ini akan bergantung banyak dengan sistem yang dipakai. Kalau standar yang dipakai adalah sistem pemerintahan diktator, tentu wanita tidak boleh masuk dalam wilayah publik. Sayangnya, kebanyakan negara-negara Arab menggunakan sistem ini.
    Adapun di Negara lain yang sudah bersifat modern dengan mempunyai sistem tiga kekuasaan seperti tersebut di atas, sehingga terjadi pembagian tugas yang jelas, maka tidak ada penghalang bagi wanita untuk terjun di wilayah publik.

    Apa pendapat anda berkaitan dengan adanya radikalismedi Timur-Tengah yang muncul dari kalangan pergerakan Islam sebagai akibat dari tidak adanya pemahaman yang baik terhadap realita dan skala prioritas dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada? Dan banyak dari para pemikir yang mengatakan bahwa salah satu cara  untuk membendung radikalisme adalah dengan mengedepankan Islam sebagai syari'at dan ajaran kehidupan, dan bukan sebagai gerakan. Karena jikalau Islam dipahami sebagai gerakan, maka tentu ia akan bertabrakan dengan kekuatan lain sehingga pada akhirnya timbul benturan yang melahirkan kekerasan?

    Pertama-tama, harus kita pahami bahwa aksi radikalisme itu sebenarnya muncul pertama kali dari pemerintah dan penguasa. Artikulasi gerakan Islam sekedar reaksi. Jadi ada aksi yang dibalas dengan reaksi. Kalau saja para penguasa itu mau mendengarkan keinginan kelompok-kelompok ini, atau mau berdiskusi dengan mereka, maka tentu radikalisme tidak akan muncul.
    Yang terjadi adalah, para penguasa tidak mau mendengarkan dan tidak mau berdiskusi. Jika pun ada, hal itu justru bertujuan untuk memaksakan kehendak atau bahkan sampai taraf pencucian otak.
    Kemudian, untuk menutupi kelemahannya, pemerintah akan menggunakan cara-cara kekuatan (kekerasan) agar seolah-olah tampak kuat. Al-Quran banyak sekali mensinyalir tindakan seperti ini, "lanukhrijannaka yâ syu'aibu" (sungguh kami akan mengeluarkan kamu wahai Syuaib)"la'in lam tantahi lanarjumannakum" (sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu).

    Demikian pula halnya sejarah manusia sepanjang masa. Mereka selalu anti kritik dang mengintimidasi kelompok yang kritis terhadap kebijakannya. Dalam kasus sekarang, yang terjadi adalah kedua belah pihak saling mengkritisi. Ketika satu pihak menganggap kesalahan selalu ada di pihak lain, tentu saja itu tidak diterima.

    Pada akhirnya, ketika pemerintah di satu sisi, mulai membela sikapnya tidak dengan perkataan lagi, tapi sudah menggunakan kekuatan (kekerasan). Dari sini sebagian para pemuda yang tidak memahami Islam secara benar melakukan hal yang sama.

    Cara menampilkan Islam bukanlah diserahkan kepada pemerintah atau gerakan-gerakan Islam tertentu. Bagaimana Islam harus ditampilkan kepada dunia adalah tugas ulama sesuai dengan pakar dan spesialisasi di bidangnya.

     Mereka dapat berkumpul dalam sebuah seminar atau konferensi yang mencerminkan keragaman spesialisasi dan latar belakang madzhab, dengan satu syarat saja bahwa hasil-hasli pemikiran itu dijamin dapat direalisasikan.

    Meski hasil pemikiran yang sehebat dan secermelang apapun, tapi kemudian hanya disimpan di laci, nonsen!! Umat banyak yang kecewa dan akhirnya menuduh yang bukan-bukan baik kepada pemerintah maupun para ulama. Lebih parah lagi akibat lumpuh dan mandulnya pemikiran tersebut, mulailah pemuda-pemuda sempalan ingin mengajukan solusi alternatif yang keliru.

    Anda mengatakan kalau radikalisme itu muncul dari pihak pemerintah, tetapi di sana terdapat kelompok-kelompok tertentu yang tidak memperhitungkan situasi dan kondisi sehingga tidak memiliki keserasian. Jelasnya, di sana ada kelompok yang eksklusif-konservatif, mereka tidak mau berkompromi dengan waktu dan tempat, bagaimana komentar anda?

    Permasalahan kelompok seperti ini harus diajukan kepada ulama yang memiliki kapabiitas dan kredibilitas. Diajukan kepada mereka pemikiran-pemikiran pokoknya. Apakah sudah benar atau salah. Ketika diputuskan bahwa konsep pemikiran mereka benar, maka ditunjuklah penanggung jawab untuk merealisasikan konsep tersebut. Tapi kalau ternyata salah, para ulama bisa mengajak mereka berdialog dan mengajak mereka kepada yang benar. Hal itu, karena pemikiran harus dihadapi dengan pemikiran juga.

    Tapi yang terjadi adalah mereka dihadapkan pada kekuatan militer , dan mereka mengira merekalah yang benar. Mereka adalah syuhada', pahlawan, yang akan tercatat dalam sejarah dan akan masuk surga dengan izin Allah Swt.. Mereka salah dalam konsep pemikiran, dan para penanggung jawab salah dalam merealisasikan. Seharunya, yang bertanggung jawab dalam masalah ini adalah para ulama yang memang mempunyai capability dan dapat dipercaya, yaitu mereka yang independen, tidak mengikuti arah tertentu dan tidak mempunyai kepentingan tertentu pula. Saya yakin kalau ini yang dilakukan, maka akan banyak perubahan terjadi di dunia Islam.

    Terdapat kelompok tertentu di Palestina dan juga di Indonesia di mana sebagian anggota mereka melakukan aksi bunuh diri, dan berkeyakinan ini adalah aksi istisyhad, bagaimana pendapat anda?

    Nabi pernah bertanya kepada sahabatnya siapakah itu syahid? Para sahabatnya menjawab, "Syahid adalah mereka yang meninggal dalam peperangan atau di jalan Allah Swt". Sampai sini terkesan kalau makna syahid sanagtlah sempit. Lalau beliau menambahkan, "Barang siapa mati di jalan Allah Swt., dia adalah syahid, barang siapa mati karena menjaga harta dan khormatannya dia juga syahid".

    Dalam hadis lain,orang yang mati tenggelam adalah syahid dan masih banyak lagi kategori syahid lainnya. Kesimpulannya, syahid mempunyai makna yang sangat luas. Berkenaan dengan mereka yang bunuh diri, kita lihat dulu apa motif di balik itu. Apakah karena keputusasaan, atau karena ingin lepas dari beban hidup atau motif duniawi lainnya. Atau mereka melakukan aksi itu karena tidak mendapat jaminan keamanan bagi dirinya, keluarganya, agamanya, kehormatannya, kecuali dengan cara bunuh diri itu.
     Jika demikian, maka aksi tersebut adalah syahid. Seperti mereka yang melindungi Masjidil Aqsha di palestina, seperti mereka yang melawan kekuatan militer Amerika di Irak, dan seperti yang terjadi di Afghanistan, Checnya dan di belahan bumi lainnya.

    Ketika mereka tidak punya pilihan lain, maka aksi bunuh diri bisa dikategorikan syahid. Dan hal ini juga terjadi pada zaman Nabi Saw.. Bagaimana Ali bin Abi Thalib mengorbankan dirinya pada malam Nabi Saw., hijrah ke Madinah dengan menggantikan beliau tidur di ranjangnya. Bukankah itu juga mempertaruhkan nyawa? Bukankah itu  juga aksi bunuh diri? Dan masih banyak contoh lainnya. Jadi tergantung niat dan motifnya.

    Di indonesia, terdapat kecenderungan dalam pergerakan islam. Pertama: mereka yang bergerak di bidang dakwah dari sisi pengaturan kebudayaan masyarakat dan kehidupan sosial mereka, serta menjahui praktek politik praktis. Dan yang kedua: mereka yang berdakwah dalam dunia perpolitikan untuk merealisasikan tujuan Islam. Apakah juga ada kecenderungan ini di dunia Arab?

    Ada. Kedua kecenderungan ini ada di dunia Arab. Jama'ah Salafiyah sebagai contoh pertama misalnya, mereka bergerak di wilayah perluasan wawasan (tatsqîf) aqidah, pemantapan (tasrîkh) iman dan metode dakwah. Adapun kecenderungan kedua, dapat kita lihat pada kelompok Ikhwanul Muslimin, Jama'ah Islamiyah, dan kelompok lainnya. Akan tetapi sebenarnya, Ikhwanul Muslimin melakukan keduanya bersamaan, tatsqîf dan gerakan politik. Keduanya memang sama-sama dibutuhkan.
    Setiap manusia yang ingin sampai pada tujuan tapi tidak mau mengikuti jalan menuju kesana adalah omong kosong, demikian pula sebaliknya. Sehinnga keduanya harus dilaksankan bersamaan, tatsqîf kemudian gerakan

    Hizbut tahrir berupaya mengembalikan Khilafah Islamiyah, apakah sekarang seruan itu realistis? Benarkah reinkarnasi Khilafah tetap menjadi impian bersama gerakan-gerakan Islam kontemporer?

    Khilafah dalam pengertian untuk mempersatukan barisan (shaf) umat Islam, semua kelompok sepakat. Jika kita bicara tentang bentuk kongkrit Khilafah, dalam pandangan kami tidak harus sama persis Khilafah Utsmaniyah, Abbasiyah, Umawiyah bahkan era sahabat. Bentuk apapun yang menjadi konsensus umat Islam, apapun bentuk dan namanya, yang lebih penting dan substantif adalah marja'iyyah al-Quran dan Sunnah yang dapat menyatukan seluruh potensi umat Islam.
                Hizbut Tahrir banyak melakukan kekeliruan karena terjebak pada klaim formalitas bentuk Khilafah, seperti era sahabat.

    Slogan "kembali pada hidup Islami" telah menjadi seruan bersama. Apakah slogan itu adalah konsep Islam orisinil ataukah karena implikasi desakan eksternal? Mengapa mereka bisa berbeda-beda dalam penjabaran programnya, dan tidak mengarah kepada persatuan umat Islam?

    Banyak faktor yang menyebabkan munculnya slogan dakwah tersebut, sedangkan yang terpenting adalah jauhnya umat Islam dari ajaran agama mereka, sehingga mendorong mereka yang ikhlas dan memiliki ghirah yang tinggi untuk mengembalikan umat kepada al-Quran dan Sunnah. Hal ini sudah menjadi sunnatullah. Dalam sebuah hadis, Rasul Saw., menyatakan bahwa Allah Swt., akan mengutus di setiap 100 tahun, seorang yang memperbaharui agamanya.

    Agama Islam selalu mengalami fluktuasi kuat dan lemah. Saat ini kita sedang berada dalam kondisi yang sangat lemah. Selanjutnya, tekanan eksternal menghalangi umat Islam untuk bersatu. Jadi faktor internal dan eksternal memiliki peran yang seimbang. Sedang faktor yang menyebabkan gerakan-gerakan Islam itu tidak bisa bersatu seperti yang saya katakan, mereka tidak diberi kesmpatan untuk saling bertemu karena berbeda dengan musuh-mush dakwah.

    Kita tidak menguasai media, pendidikan, ekonomi dan sebagainya. Mereka yang berusaha mengembalikan pola hidup yang Islami akan selalu dikucilkan dan disingkirkan.

    Belakangan ini terbit buku baru karya Prof. Dr. Toha Jabir 'Ulwani berjudul: dimensi yang hilang dari pemikiran dan aksi gerakan Islam kontemporer" yang menyoroti hilangnya kajian dan ijtihad kolektif yang terkesan bahwa masing-masing gerakan menyuguhkan solusi lokal dan temporal. Padahal krisis yang terjadi bersifat global dan membutuhkan solusi global pula. Bagaimana tanggapan anda?

    Menanggapi masalah tersebut, saya hanya bisa memberi komentar; pertama: saya sendiri belum pernah membaca buku tersebut. Kedua: sebagai penghormatan terhadap beliau yang saat ini terkenal sebagai tokoh pemikir, beliau telah membebani kelompok-kelompok gerakan Islam di luar batas kemampuan mereka.

    Sebelum melangkah kesana, beliau seyogyanya menghilangkan lebih dahulu beban-beban yang dipikul oleh gerakan Islam. Pola pikir yang konprehensif seperti yang ia tawarkan tidaklah beliau temukan didalam ideologi  yang di anut Ikhwanul Muslimin. Tidaklah beliau menyadari bahwa solusi global yang di tawarkan gerakan islam sengaja tidak di berdayakan dan di beri kesempatan untuk di terapkan?

    Sebagian besar aktifis gerakan Islam tidak bebas menyampaikan ide dan pendapatnya sebagai contoh Dr. Yusuf Qardhawi dicekal dan tidak di izinkan masuk ke Amerika. Karena selain pemikiran diharapkan saling bertemu dan bertukar pengalaman, pertemuan tatap muka juga berperan penting untuk menyatukan fikrah. Kenapa beliau hanya membebani gerakan islam dan tidak membebani tanggung jawab atas rezim pemerintahan?

    Ikhwanul Muslimin sendiri sering di anggap oleh pemerintah memiliki jaringan internasional, padahal bukan jaringannya yang penting, melaikan dakwah dan solusi krisis yang berdimensi global dan internasional. Yang penting bagi kita di beri kesempatan untuk merealisasikan solusi tersebut.

    Terakhir, layakkah umat Islam menggantungkan harapan kepada gerakan-gerakan Islam tersebut?

    Dan kepada siapa lagi kita akan berarap selain kepada mereka? Apakah ummat akan berharap kepada kelompok yang memerangi Islam seperti Amerika dan sekutunya? Atau apakah mereka akan berharap pa da musuh-musuh Islam yang ada di Barat ataupun di Timur? Tidak ada pilihan lain kecuali harapan kita terhadap mereka yang berjuang (berjihad) di jalan Allah dan rela mempersembahkan jiwa-jiwa mereka untuk agama Allah yang mulia ini dan mati di jalan Alllah sebagai cita-cita mereka yang tertinggi.

    Sumber : http://www.pcimmesir.com/2014/04/peta-pergerakan-islam.html
     
    Copyright © 2013. Sang Pencerah - All Rights Reserved
    Team Website Sang Pencerah