Tulisan Terkini >>

Muhammadiyah Tegaskan Menolak Pernikahan Beda Agama

Mahkamah Konstitusi menyidangkan perkara pengujian pasal UU Perkawinan yang pada pokok perkaranya Pemohon meminta dilegalkan perkawinan beda agama. Muhammadiyah  yang dihadirkan sebagai saksi dalam sidang MK dengan tegas menolak pernikahan beda agama. Dalam keterangannya, pihaknya memperkuat penolakan tersebut berdasarkan perspektif agama Islam. 

“Berdasarkan keputusan para ulama Muhammadiyah, wanita muslim haram menikah dengan selain pria yang beragama Islam dan pria muslim haram menikahi perempuan musyrikah,” ujar Syaiful Bakri, Ketua Majelis Hukum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, seperti dikutip dari Website Mahkamah Konstitusi, Sabtu, (25/10).

Syaiful merupakan pihak terkait dalam perkara pengujian Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UU Perkawinan) pada sidang yang digelar Rabu, (22/10), di Mahkamah Konstitusi. Keterangannyaitu didasarkan pada aturan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 221.

Dalam ayat itu, pria Muslim dilarang menikahi wanita yang bukan beragama Islam. Kendati demikian, Syaiful mengakui adanya perdebatan dalam aturan tersebut karena ada ayat lain yang membolehkan pria muslim untuk menikahi wanita-wanita ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), seperti tercantum dalam surat Al-Maidah ayat 5.

Muhammadiyah telah menetapkan keputusan pernikahan beda agama tak boleh dilakukan umat islam. “Ada beberapa alasan yang mendukung keputusan kami, pertama adalah ahli kitab yang disebutkan dalam Al Quran dengan yang ada sekarang telah jauh berbeda," jelas Syaiful.

Ia menambahkan, pernikahan beda agama tak mungkin menghasilkan keluarga yang sakinah sebagai alasan utama perkawinan. Bahkan tak dapat menjaga keimanan. Muhammadiyah menegaskan, tak menganjurkan pernikahan beda agama.

Pada sidang yang diajukan oleh mahasiswa dan alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia tersebut, para Pemohon mengajukan dua orang saksi. Salah satu saksi, Ahmad Nurcholis merupakan pemeluk agama Islam yang menikahi seorang perempuan beragama Konghucu. 

Ia mengungkapkan, beragam hal yang menjadi kesulitan atas keputusannya tersebut. Mulai dari kesulitan pencatatan sipil hingga keraguan para petugas terhadap parameter “ke-agama-an” yang dimiliki Konghucu.

Bagi Nurcholis, ada dua aspek yang bisa menjadi pertimbangan. “Pertama adalah aspek keagamaan dan yang kedua adalah aspek konstitusi. Dalam aspek keagamaan, mayoritas ulama berkata tidak, meskipun ada kontroversi. Dalam aspek konstitusi, benar tadi kata para pihak terkait, ada kekosongan dalam persoalan ini,” Tuturnya.(rol/sp)



MUI Ajak Ummat Islam Putihkan Gelora Bung Karno

JAKARTA – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin mengajak seluruh umat Islam di Indonesia untuk menghadiri peringatan nasional tahun baru Islam 1 Muharram 1436 Hijriah di Stadion Gelora Bung Karno, 26 Oktober 2014. 

Kehadiran umat Islam merupakan bukti kebesaran umat sebagai pemeluk agama mayoritas di Indonesia. “Mari kita putihkan GBK. Buktikan umat Islam tidak melempem,” imbau Din dalam konferensi pers di Gedung MUI.

Umat Islam diharapkan hadir di GBK dengan bersemangat demi kemeriahan hari besar umat Islam. Menurut Din, sudah saatnya umat Islam menunjukkan kebesarannya sebagai pemeluk agama terbanyak di Indonesia. “Datang dengan berbondong-bondong. Acara ini tidak pakai undangan dan karcis. Semuanya gratis.” 

Din mengatakan acara peringatan tahun baru Islam digelar pertama kali secara nasional. Kendati tahun baru Hijriah jatuh pada Sabtu, 25 Oktober, namun MUI baru memperingati pada Ahad 26 Oktober.

Din menyatakan, acara tersebut diselenggarakan setelah MUI menerima banyak masukan dari masyarakat mengenai perayaan tahun baru Islam. Masyarakat menilai, tahun baru Hijriah kurang meriah dibandingkan tahun baru lain. “Padahal, di Indonesia mayoritas umat Muslim,” kata Din.

Berdasarkan permintaan umat itulah, MUI memutuskan untuk memeriahkan tahun baru Hijriah. (rol/sp)



TV MUI Launching Hari Ini

JAKARTA -- Persiapan Majelis Ulama Indonesia untuk me-launching stasiun televisi sudah hampir rampung. Kendati hanya diersiapkan dalam kurun waktu yang pendek, namun TV MUI siap mengudara setelah di-launching pada Sabtu, (25/10) 

“TV MUI akan diresmikan pada tepat pada 1 Muharram, Sabtu Pukul 10.00 pagi,” ujar ketua MUI, Din Syamsudin pada konferensi pers di kantor MUI, Sabtu (25/10).

Din Syamsudin menyatakan TV MUI akan hadir sebagai media televisi yang turut mencerdakan bangsa. TV MUI hadir dengan tagline : “Berkhidmat untuk bangsa”. 

Sebagai media dakwah nilai Islam, TV MUI akan lebih banyak memuat konten dakwah islam dan pendidikan. Di dalamnya nanti jug akan dibahas mengenai fatwa MUI, berita mengenai konsep makanan dan minuman halal. 

“Kebanyakan akan diisi porsi dialog keagamaa. Sebagai pengayom bagi umat islam,” ujar Din.

Din menyatakan, TV MUI dapat diakses melalui streaming, internet dan satelit. Sehingga masyarakat di berbagai daerah dapat mengakses TV MUI.

Dalam kesempatan tersebut, Din mengatakan bahwa berdirinya TV MUI tidak lepas dari bantun Chairul Tanjung pemilik Trans Grup, Edi Sariaatmaja SCTV dan pihak Telkom. 

Dalam konfeensi Din ditemani oleh Anggota Kominfo MUI, Ahmadi Toha dan Wakil Sekjend MUI, Welya Safitr(rol/sp)

Gubernur dengan Kendaraan Keledai

KEHIDUPAN para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam banyak dipenuhi berbagai macam pribadi yang menawan yang menjadi suri teladan bagi generasi yang datang kemudian. Pangkal pribadi menawan karena semata-mata karena dorongan keikhlasan dan ajaran Islam, bukan karena pencitraan dan ingin publikasi. Begitu pula para pemimpin-pemimpin Islam di era khalifah Abu Bakar dan Umar Bin Khatab. Mereka adalah orang-orang yang berjuang untuk meninggikan agama Allah dan kemuliaan Islam.
Salah satu diantaranya ialah Salman Al Farisi. Ia adalah salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam yang sangat sederhana dan salah seorang sahabat yang gagah berani lagi cerdas otaknya. Ia mampu menciptakan teori penggalian parit sekitar Madinah, tatkala pasukan musuh mau menggempurnya. Ia juga dikenal sebagai salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam yang memiliki akhlakul karimah, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam memasukkannya ke dalam golongan keturunan Nabi (Ahlul Bait).
Di era Khalifah Umar, Salman ditugas sebagai gubernur wilayah Mada’in. Namun Salman menolak .
“Jabatan itu manis waktu memegangnya, tapi pahit waktu melepaskannya“. Tapi karena ini amanah, ia menerimanya sebagai pengabdian kepada Allah.
Umar mengangkatnya bukan tanpa alasan. Seperti diketahui, Salman adalah muallaf muda kelahiran negeri Persia. Ia dijuluki al Farisi sesuai tanah tumpah darahnya, Persia. Dialah pemuda Islam yang berjasa dengan ide penggalian parit panjang dalam melingkari kota Madinah saat Perang Khandaq.
Di zaman pemerintahan Umar, Salman mendaftarkan diri untuk ikut dalam ekspedisi militer ke Persia. Ia ingin membebaskan bangsanya dari genggaman kelaliman Kisra Imperium Persia yang mencekik rakyatnya dengan penindasan dan kekejaman.
Dipilihnya Salman al Farisi sebagai Gubernur di Negeri Madain di Kufah, karena Umar menginginkan seorang amir yang berasal dari suku dan daerah setempat.
Alkisah, berangkatlah Gubernur Salam ke Kuffah memulai tugas barunya menjadi pemimpin penduduk Mada’in. Mendengar gubernur baru akan datang, para penduduk Kufah memadati jalan raya menyambut gegap gempita.
Mereka menyangka Sang Gubernur akan diiringi oleh rombongan besar pasukan. Hingga lelah rakyat menunggu, tiba-tiba datang seseorang dengan menunggang seekor keledai berjalan lambat-lambat.
Melihat ada orang asing yang datang, para penduduk pun bertanya. “Apakah di jalan kau melihat Salman al Farisi yang diutus oleh Khalifah Umar bin Khattab?”
“Akulah Salman al Farisi,” jawabnya singkat
“Jangan mengejek dan mencibir kami, seperti Bani Israil ketika berkata kepada Musa, ‘Apakah engkau mengejek kami?’ Musa menjawab, ‘Aku berlindung kepada Allah sekiranya menjadi seorang dari orang-orang yang jahil.” Kata penduduk Kufah mengutip surah al Baqarah ayat 67.
“Aku berlindung kepada Allah sekiranya aku menjadi satu dari orang-orang yang jahil. Ini bukan waktunya lagi untuk bercanda,” kata Salman.
Penduduk Kufah tentu tak percaya. Maklum, kala itu, penduduk Iraq hidup berdampingan dengan negara Persia yang memiliki istana megah yang dipenuhi emas, perah, sutra dan permadani yang indah. Karena itu, kala itu penduduk Kufah mengira agama Islam adalah agama yang megah dan mewah. Tapi ternyata mereka salah.
“Kami datang secara bersahaja. Kami hidup untuk jiwa, dan kami datang untuk mengangkat derajat iman di dalam hati.”
Gaji Salman sebagai Gubernur Kufah dari Umar sekitar 6.000 Dinar dalam setahun (Kurs Dinar saat ini Rp. 1.800 ribu). Namun gajinya diberika pada fakir miskin. Ia membagi gajinya 3 bagian, sepertiga untuk dirinya, sepertiga untuk hadiah dan sepertiga sisanya untuk sedekah.
Satu hari misalnya, ketika ia melihat seorang Suriah (Syam) kerepotan membawa barang dagangannya, spontan Salman membantu mengangkat. Di tengah jalan, di antara anggota masyarakat ada yang mengenalnya dan mengucapkan salam “Assalamu’alaikum ya Amir“.
Mendengar nama Amir disebut, orang Suriah itu kaget bukan kepalang. Ia tidak mengira, jika “kuli“ yang membawa barangnya adalah Gubernur Negeri Mada’in. Dengan penuh rasa Homsat, orang itu meminta barangnya untuk dibawanya sendiri. Tapi Salman tidak membolehkannya. Ia terus membawanya sampai ke tempat tujuan.
Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash datang ke rumah Salman, ia melihat Salman sedang sedih. “Demi Allah,“ kilah Salman kepada tamunya, “Saya bukan karena takut mati atau mengharap kemewahan hidup di dunia, tapi ingat pesan Rasulullah “Hendaklah bagian masing-masingmu dari kekayaan dunia ini seperti bekal seorang pengelana“. Padahal barang yang saya miliki cukup banyak, “ kata Salman mengakhiri tangisnya.
“Bangunan rumah Salman, hanya sekedar dapat digunakan bernaung di waktu panas dan berteduh di kala hujan. Jika penghuninya berdiri, kepalanya terantuk sampai langit-langit, dan jika berbaring kakinya sampai ke dinding. Sedang di dalamnya tak ada perabotan kecuali sebuah piring untuk makan dan baskom nuntuk persediaan air. Meski demikian, ia tetap risau, menganggap barang-barang yang dimilikinya masih berlebihan.“ (Buku Bunga Rampai Ajaran Islam no 14 , Badruzzaman Busyairi)
Di rumahnya, Salman tanpa ragu mengerjakan sendiri pekerjaan yang semestinya digarap pelayannya. Sedang rumahnya sangat sederhana, tidak mengesankan sebagai rumah seorang Gubernur.
Ia memiliki baju jubah yang juga ia kenakan sebagai alas untuk tidur. Rumahnya lebih menyerupai rumah rakyat kecil yang miskin.
Menjelang wafat, dalam keadaan masih menjadi gubernur, para penduduk melihat harta warisan Salman yang akan ditinggalkan. Tidak lebih, sebuah sorban besar yang ia gunakan untuk alas duduk ketika ada tamu yang datang serta ia gunakan untuk duduk di pengadilan yang ia adakan.Ia memiliki tongkat yang ia gunakan untuk bertopang, berkhutbah dan menjaga diri; serta sebuah wadah untuk makan, mandi dan berwudhu.

Saat sakaratul maut, Salman menangis. Penduduk Kufah pun bertanya, “Kenapa engkau menangis?”
“Aku menangis karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam pernah bersabda kepada kami, “Hendaklah bekal kalian di dunia seperti bekal orang yang bepergian. Sementara kita semua lebih suka menumpuk harta dunia,” demikian Salman mengutip hadits yang diriwayatkan Ahmad.
Penduduk lantas menjawab, “Semoga Allah mengampunimu. Lantas sebanyak apa harta yang kau miliki Salman?”
“Apa kalian meremehkan ini? Aku takut pada hari kiamat akan ditanya tentang sorban, tongkat dan wadah ini,” ujarnya.
Inilah kisah mulia tentang kezuhudan seorang Gubernur Salman al Farisi di saat para pemimpin berebutan kekuasaan, harta dan kekayaan sertah pamrih.*/AU Shalahuddin Z,dari berbagai sumber
Sumber: http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2014/10/24/31909/gubernur-dengan-kendaraan-keledai.html#.VEnrYiLF8f2

Punk dan Agama, Mungkinkah Bersatu?

Sudah beberapa kali saya membahas topik ini. Tapi rasanya nggak akan pernah tuntas karena memang isu ini adalah isu yang cukup kontradiktif baik dari sudut pandang punk, maupun dari sudut pandang agama.
Jika kita melihat dari sudut pandang punk, memang tidak dapat dipungkiri bahwa punk memiliki konsep awal yang sangat prinsipel yaitu pemberontakan. Prinsip memberontak yang sangat bertolak belakang dengan apapun yang berbau kekuasaan, jelas tidak mungkin dapat berkompromi dengan prinsip-prinsip religi yang mengharuskan penganutnya tunduk patuh terhadap aturannya.
Maka dari itu, para punk yang paham dengan konsep pemberontakan secara totalitas akan sangat anti agama. Sebagaimana Jello Biafra, pentolan Dead Kennedys berkata dalam lagunya berjudul “Religious Vomit”:
All religions make me wanna throw up, all religions make me sick(Semua agama membuat saya ingin membuangnya, semua agama membuat saya muak.”
Sampai-sampai konon pada akhir 60-an, punk muncul sebagai gerombolan yang sangat keras mengkritik agama Kristen yang saat itu memang menjadi agama mayoritas di Barat.
Tapi, memang pemikiran punk yang bebas dan liberal itu malah membuat bingung siapapun, karena kemudian punk sendiri hadir sebagai ideologi atau kepercayaan yang bisa dibilang mirip atau disetarakan dengan posisi ‘agama’ dalam kehidupan manusia. Hingga band sekelas Rancid saja keceplosan mengatakan dalam lagunya,
“I heard GBH, I made a decision, punk rock is my religion (saya mendengarkan lagu-lagu GBH, saya membuat keputusan, punk rock adalah agamaku).
Hingga akhirnya beberapa scenester punk tidak ragu lagi menunjukkan identitas religiusitasnya. Hal itu ditandai dengan munculnya band-band yang mengaku membawa pesan-pesan agama Kristen seperti Undercover dan Alter Boys pada tahun 1980-an. Kemudian disusul dengan band-band yang populer di era 90-an hingga 2000-an seperti MxPx dan Relient K yang terang-terangan menyanyikan lagu-lagu yang bercerita tentang Yesus. Bahkan, baru-baru ini muncul sebuah band folk-crust asal Philadelphia yang mengaku sebagai anarkis-kristen kemudian melakukan tour ke Jerussalem dan men-support Palestina.
Jika kita mau mendalami keyakinan para penganut Rastafarian, maka kita akan menemukan banyak hal-hal yang berbau religi dalam lirik-lirik lagu Bad Brains, sang dedengkot hardcore dari Washington DC. Begitu juga dengan penganut Hare Krishna yang bermain di band-band hardcore kelas dunia seperti Cro-Mags, Youth Of Today, Better Than A Thousand dan Shelter yang ‘asik-asik’ aja dengan pesan-pesan religiusnya.
Bahkan dalam perkembangannya, banyak scenester yang menganggap gaya hidup Straight Edge yang dipopulerkan oleh Minor Threat pada tahun 1980-an itu sejalan dengan inti ajaran Hare Krishna. Itulah kenapa pentolan-pentolan Youth of Today beralih dari gaya hidup Straight Edge ke Hare Krishna.
Nah, dari banyaknya band-band dalam scene hardcore/punk dunia yang sangat antusias dan percaya mengusung ajaran-ajaran agamanya atau keyakinannya dalam lirik-lirik lagu mereka, itu menunjukkan bahwa hal ini (menggabungkan agama dengan punk/hardcore) adalah sesuatu yang sah-sah saja untuk dilakukan. Jika ada yang bertanya, “apakah mereka tidak pernah mengalami tekanan dari para scenester yang masih mempercayai bahwa punk itu seharusnya anti-agama?”, maka secara logika kita pasti bisa menerka bahwa mereka pasti akan mengalami hal itu, namun mereka tidak peduli. Dugaan saya, jika tekanan-tekanan itu datang, mereka pasti akan mengembalikan pada prinsip awal punk itu sendiri yang mengedepankan kebebasan. Termasuk kebebasan memilih untuk tetap beragama.
Lalu bagaimana dengan pembahasan “punk dan agama” jika dilihat dari sudut pandang agama?
Sebelum ini dibahas, saya sampaikan bahwa saya hanya akan menjelaskan apa yang saya ketahui dalam sudut pandang Islam saja. Saya tidak akan sok tahu dengan mencoba menjelaskan dari sudut pandang agama-agama yang lain yang tidak saya anut.
Menurut pandangan Islam, seluruh kehidupan manusia itu tidak ada celah sedikitpun untuk lepas dari Islam. Apapun yang kita lakukan sebagai muslim, wajib selalu berlandaskan Islam. Termasuk menentukan baik atau buruk, Islam-lah yang harus dijadikan patokan (ukuran). Maka menjadi seorang “punk yang Islami”, sejatinya dalam Islam sendiri tidak perlu ada.
“Mengapa?”
Karena menjadi seorang muslim (orang yang Islami) saja sudah lebih dari segala-galanya. Kenapa harus diberi embel-embel “punk”?
“Tapi boleh kan, kalau sekedar untuk pelabelan saja?”
Hahaha, silakan. Selama sudah memahami esensinya, bahwa sebenarnya pelabelan “punk” di situ cuma hiasan, tidak terlalu penting.*[]
Oleh: Aik
Sumber: http://konterkultur.com/punk-dan-agama-mungkinkah-bersatu/

Pentingnya Pemimpin Yang Cinta Al-Qur'an

Oleh: Dr Adian Husaini
“Andaikan penduduk suatu negeri mau beriman dan bertaqwa, maka pasti akan Kami buka pintu-pintu barakah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ajaran-ajaran Allah), maka Kami azab mereka, karena perbuatan mereka sendiri.” (QS: Al A’raf:96).
Al-Qur’an Surat al-A’raf  ayat 96 tersebut dengan sangat gamblang memberi kabar gembira, bahwa jika suatu bangsa mau mendapatkan kucuran rahmat dan dijauhkan dari berbagai musibah, maka iman dan taqwa harus dijadikan sebagai nilai tertinggi dalam pengambilan kebijakan dan keputusan. Tentu saja, itu termasuk dalam penentuan pemimpin, baik pada tataran keluarga,  kelompok, atau pun pada tataran kenegaraan.
Pemimpin yang beriman dan bartaqwa pasti bekerja sekuat tenaga menjalankan amanah yang diembannya; mendahulukan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan golongannya; bekerja keras untuk menjaga dan membina iman dan taqwa bangsanya; bukan sekedar berkutat pada urusan dunia semata; bekerja keras mencukupi kebutuhan-kebutuhan dasar rakyatnya; takut azab Allah di dunia dan akhirat; takut mengambil hak rakyat; dan menangis jika rakyat susah dan sengsara.
Pemimpin taqwa dan cinta al-Quran, tidak mau munafik; malu kepada Allah,  jika peduli rakyat demi pencitraan di depan manusia; bukan karena cinta dan takut pada Allah Subhanahu Wata’ala. Pemimpin taqwa takkan tinggalkan shalat demi kampanye dan konser sia-sia. Pemimpin taqwa pun cinta bangsa karena Tuhannya, bukan karena tanah subur semata. Pemimpin taqwa tak hambur uang negara untuk pesta pora tiada guna, karena takut siksa neraka.
Bagi Muslim, memilih pemimpin berdimensi ibadah; dunia akhirat; bukan sekedar itung-itungan rebutan kuasa dunia. Berpolitik adalah bagian dari ibadah dan dakwah, bukan untuk berbangga-bangga akan banyaknya golongan dan himpun harta benda dunia. Karena itu, pemimpin beriman dan bertaqwa mustilah zuhud – tidak gila dunia – dan hidup bersahaja; tidak pamer kemewahan di depan rakyat yang sebagian besarnya masih berkubang dalam belitan kesulitan hidup.
Dalam Kitab as-Siyasah Syar’iyyah,  Syaikhul Islam Ibn Taimiyah mengutip hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang memperingatkan kaum Muslimin agar berhati-hati dalam memilih pemimpin: “Siapa yang mengangkat seseorang untuk mengelola urusan (memimpin) kaum Muslimin, lalu ia mengangkatnya, sementara pada saat yang sama dia mengetahui ada orang yang lebih layak dan sesuai (ashlah) daripada orang yang dipilihnya, maka dia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR Al-Hakim).
Jadi, kita tidak patut sembarangan tentukan pemimpin. Apalagi pemimpin pada level kenegaraan. Ada tanggung jawab dunia akhirat. Jika memilih pemimpin bukan yang terbaik menurut kriteria Islam, maka bisa dikategorikan telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya; na’udzubillahi min dzalika. Dalam Islam, pemimpin bukan sekedar mengurus masalah dunia. Ia akan dimintai tanggung jawab di akhirat. Pemimpin bukan sekedar mengurus KTP, pajak, dan administrasi kependudukan. Tapi, pemimpin akan dimintai tanggung jawab apakah ia telah berusaha meningkatkan keimanan dan ketaqwaan rakyatnya, atau justru ia merusak keimanan rakyatnya.
Pemimpin dalam Islam wajib peduli, apakah rakyatnya menyembah AllahSubhanahu Wata’ala atau menyembah genderuwo;  ia akan sangat peduli, apakah rakyaknya lebih suka beribadah atau hobi bermaksiat; ia pun berusaha keras untuk mencegah dan menutup pintu-pintu zina.  Sangat aneh, jika pemimpin yang secara formal memeluk agama Islam, tetapi justru melarang rakyatnya menutup aurat. Sepatutnya, pemmpin tidak berani menantang Tuhannya dengan melarang jilbab yang justru diwajibkan Sang Pencipta. Jadi, kepemimpinan dalam Islam memiliki dimensi ubudiyah dan dimensi akhirat. Jangan dianggap selesai urusannya di dunia!
 *****
Indonesia, negeri kita, kini merupakan negeri Muslim terbesar di dunia. Dulunya, negeri-negeri di wilayah Nusantara ini 100% Hindu, Budha, Animis, dan sebagainya. Lalu, datanglah para pejuang Islam yang hebat dari berbagai negeri Muslim. Mereka bekerja keras, secara sungguh-sungguh dan terencana untuk meng-Islamkan negeri ini. Mereka rela meninggakan negeri dan keluarga mereka dengan tujuan mulia, menyebarkan Islam ke seluruh pelosok dunia, sebagaimana diamanahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam.
Dengan rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur maka negeri ini menjadi hampir 100% muslim; bahkan disebut sebagai negeri Muslim terbesar di dunia. Ini sebuah prestasi dakwah yang amat sangat luar biasa.  Secara pelan dan teratur, proses Islamisasi pun terus berjalan, dengan segala hambatan dan tantangannya. Para pejuang Islam itu terus berusaha meningkatkan kualitas keislaman masyarakat muslim Indonesia, setahap demi setahap. Dakwah tidak pernah berhenti. Laksana air, ia terus mengalir, mencari tempat-tempat yang bisa diairi arusnya.
Lalu, datanglah penjajah kuffar. Misi mereka pun jelas: gold, gospel, glory.Mereka merampok kekayaan alam negeri ini; berusaha memurtadkan kaum Muslim.  Indonesia dianggap sebagai negeri yang siap menerima misi Injil. Dengan segala kekuatan dan cara, proses pengkristenan negeri ini dilakukan oleh para penjajah dan kaum misionaris, tanpa pernah berhenti.
KM Panikkar menulis dalam bukunya Asia and Western Dominance: “Yang mendorong bangsa Portugal (untuk menjajah di Asia adalah) strategi besar melawan kekuatan politik Islam, melakukan Kristenisasi, dan keinginan untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah.” Ketika berhasil menduduki Malaka, D’albuquerqe berpidato, “Tugas besar yang harus kita abdikan kepada Tuhan kita dalam mengusir orang-orang Moor (Muslim) dari negara ini dan memadamkan api Sekte Muhammad sehingga ia tidak muncul lagi sesudah ini…” (Prof. Bilveer Singh, Timor Timur, Indonesia dan Dunia, Mitos dan Kenyataan, (Jakarta: IPS, 1998)).
Adalah sesuatu yang juga luar biasa, berkat lindungan dan pertolongan AllahSubhanahu Wata’ala,  meskipun kuasa politik digenggam kaum kufar penjajah, selama ratusan tahun, mayoritas penduduk negeri ini masih tetap bertahan sebagai Muslim. Padahal, selama itu pula, proses Kristenisasi dan sekularisasi secara konsisten dipaksakan kepada kaum Muslim. Strategi merusak pemikiran dan aqidah umat Islam, juga devide et impera – pecah belah dan adu domba — cukup sukses dalam melemahkan kekuatan internal umat Islam.  Sudah menjadi sunnatullah, akan selalu terjadi benturan abadi  antara perjuangan menegakkan misi kenabian (Tauhidullah) dengan para pendukung kemusyrikan, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallammemerintahkan umatnya: Jaahidul musyrikiina bi-amwaalikum wa-anfusikumwa-alsinatikum! (Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan hartamu, jiwamu dan dengan lidah-mu).
Alhamdulillah, usaha kemerdekaan untuk melepaskan diri dari penjajah kuffar berhasil. Kaum Muslimin mendukung sepenuhnya usaha kemerdekaan ini. Para ulama dan tokoh Islam melanjutkan perjuangan para ulama dan muballigh untuk menjadikan negeri ini sebagai negeri Muslim yang diridhoi Allah Subhanahu Wata’ala, menjadi baldatun thayyibatun wa-rabbun ghafur.  Itulah negara yang diatur dengan nilai-nilai Islam, sebagaimana dulu, Rasulullah saw telah mewujudkan sebuah negara di Madinah dengan Piagam Madinah yang disebut sebagai konstitusi negara tertulis pertama di dunia (the first written constitution in the world).
Sepeninggal penjajah, kaum sekuler, kristen, komunis, dan sebagainya, terus berjuang tiada henti untuk mewujudkan negara sesuai dengan nilai-nilai yang mereka anut. Terjadilah pergulatan pemikiran dan aspirasi yang terus-menerus hingga kini. Pasca Perang Dingin, dengan dukungan kekuatan penguasa dunia dari peradaban Barat, kaum liberal-sekuler semakin mendapat angin untuk memposisikan Indonesia sebagai negara sekuler.
Mereka berhasil membajak pemahaman terhadap Pancasila dan memaksakan penafsiran sekuler atas Pancasila, sehingga Pancasila diajarkan di sekolah-sekolah sebagai “pandangan hidup” ,  “pedoman amal” dan sumber dari segala sumber hukum,  yang seharusnya merupakan wilayah Islam. Anak-anak kaum muslim dipaksa berpikir dualistis dan terbelah sikap dan pemikirannya. Sebab, anak-anak Muslim itu sudah diajar oleh para ulama, ustad, dan guru-guru agana, bahwa Islam adalah pandangan hidup dan sekaligus pedoman amal mereka. Pancasila dijadikan sebagai agama, atau diletakkan sejajar dengan agama. Itu jelas keliru dalam pandangan Islam.
Panggung politik
Sejalan dengan dominannya pandangan hidup sekuler,  dunia politik di Indonesia pun tampaknya semakin didomnasi wacana politik sekuler.  Wacana-wacana duniawi, urusan ekonomi, janji-janji kesejahteraan duniawi, menjadi sangat dominan. Wacana keimanan, akhlak, dan pembangunan jiwa menjadi terpinggirkan; dianggap “tidak laku dijual”. Panggung politik nyaris tak mendendangkan ‘nyanyian’ politisi Muslim  yang menyerukan secara terbuka pentingnya negara Indonesia ini hidup di bawah naungan al-Quran, merumuskan perundang-undangan yang bersumberkan syariat Islam, atau menolak perundang-undangan yang bertentangan dengan syariat AllahSubhanahu Wata’ala.
Bukankah aneh, jika aturan penjajah lebih dijunjung tinggi dibandingkan dengan aturan Tuhan Yang Maha Esa.
Kita sepertinya nyaris tak mendengar lagi politisi muslim yang secara terbuka mengupas kebobrokan pemikiran dan sistem kehidupan sekuler; yang menyatakan akan berjuang sekuat tenaga dalam menegakkan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan negara, jika mereka menduduki pos-pos kekuasaan. Jika politik semakin kehilangan wacana ideologis keislaman, maka dikhawatirkan, aspek-aspek pragmatisme akan semakin mendominasi. Jiwa pengorbanan akan sirna sejalan dengan merebaknya penyakit gila dunia.
Pada saat yang sama, kekuatan politik internal umat Islam, kini diwarnai dengan fragmentasi antar pegiat dakwah, dengan maraknya pendapat-pendapat yang mengharamkan keterlibatan kaum Muslimin ke dalam sistem parlemen bahkan pemerintahan, karena sistem ini dinilai sebagai sistem kufur. Di era Partai Islam Masyumi dulu, pendapat semacam ini tidak muncul. Para tokoh Islam bersepakat  “demokrasi” bukan merupakan sistem yang ideal. Tetapi, mereka menempuh cara-cara konstitusional untuk mengubah secara gradual sistem yang tidak ideal;  dari sistem demokrasi sekuler  menuju sistem dan kehidupan masyarakat yang lebih Islami.
Tujuannya sangat jelas: bagaimana mewujudkan tujuan perjuangan, yakni menjadikan Indonesia sebagai negeri Muslim yang menerapkan ajaran Islam dalam tataran individu, masyarakat, dan negara. Inilah yang dulu ditegaskan dalam tujuan perjuangan politik Partai Islam Masyumi, yakni:  ”Terlaksananya ajaran dan hukum Islam, di dalam kehidupan orang seorang , masyarakat dan negara Republik Indonesia, menuju keridhaan Ilahi.” (Anggaran Dasar Partai Masjumi, Pasal III).
Sebagai bagian kewajiban melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan taushiyah sesama Muslim, maka kita perlu mengimbangi dominasi wacana politik sekuler dengan menggelorakan terus-menerus wacana politik berbasis al-Quran.  Wacana politik sekuler yang hanya menekankan aspek materi dan duniawi, akan semakin menjauhkan bangsa muslim terbesar ini dari nilai-nilai dan ajaran Ilahi yang mengutamakan pembangunan iman dan taqwa. Padahal, Al-Quran sudah dengan tegas memberi kabar kepada bangsa kita semua, bahwa jika penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa, maka pasti akan dikucurkan barakah Allah dari langit dan bumi.
Kita perlu mengoreksi konsep dan aplikasi pembangunan nasional yang terlalu dominan menekankan aspek dunia dan meteri serta mengabaikan pembangunan jiwa. Padahal, perintah Allah sangat jelas: “Sungguh beruntung manusia yang mensucikan jiwanya dan sungguh celaka, manusia yang mengotori jiwanya!”  (QS: 91:9-10). Pembangunan jiwa berdasarkan iman dan taqwa inilah yang seharusnya menjadi program utama pembangunan manusia Indonesia, sehingga tidak menjadikan manusia Indonesia sebagai manusia yang serakah dan sombong, yang dengan beraninya menolak konsep-konsep kehidupan yang bersumberkan pada wahyu Allah Subhanahu Wata’ala. Misi Ilahi inilah yang perlu digaungkan sekuat-kuatnya oleh para politisi Muslim dan partai Islam.
Karena itu, dengan niat beribadah karena Allah, dalam rangka kecintaan kita kepada negeri amanah Allah ini, agar tidak mendapatkan murka dan azab dari Allah Subhanahu Wata’ala —  karena mengingkari asas iman dan taqwa –  maka tidak berlebihan kiranya jika kita berusaha sekuat tenaga untuk  meneguhkan komitmen kita bersama, melanjutkan amanah perjuangan menegakkan misi kenabian; berusaha menyadarkan diri, keluarga, dan bangsa kita agar bersedia hidup DI BAWAH NAUNGAN AL-QURAN, menjunjung tinggi prinsip iman dan taqwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kita dicipta Allah dan kini ada di Indonesia, bukan tanpa makna. Kita dicipta untuk melanjutkan amanah risalah Sang Nabi tercinta. Kita hanyalah satu mata rantai dari serangkaian derap langkah panjangnya para Nabi utusan Yang Maha Kuasa. Kita tatap dengan semangat dan penuh optimis masa depan perjuangan Islam di Indonesia. Kita arahkan pandangan kita ke ufuk cakrawala yang jauh, tanpa mengabaikan realitas kondisi dan sitausi yang terjadi. Realitas penting untuk menjadi pertimbangan kita. Tetapi, misi abadi kenabian, penegakan kalimah Tauhid dan menebar rahmat ke seluruh alam, tidak boleh tenggelam oleh kepentingan pragmatis kekuasaan semata.
“Dialah Allah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan ad-Din yang Haq untuk dimenangkan atas berbagai agama lainnya, walaupun kaum musyrik membencinya.” (QS: ash-Shaf:9).
Ibrahim (a.s.) memang diusir dan dibakar oleh sang penguasa. Tapi, al-Quran lebih membela Ibrahim, dan sama sekali tidak bersimpati kepada raja yang musyrik dan zalim. Meskipun Firaun jauh lebih kuat dari Musa (a.s.), tapi al-Quran tidak pernah sedikit pun memberikan pujian untuk Fir’aun. Ketika kecil dan ketika kuat, Daud a.s. tetap dipuji karena keteguhannya memperjuangkan kalimah Tauhid.
Jika tidak ingin dimusuhi kaumnya yang musyrik, logikanya, lebih aman dan nyaman, jika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassallam tidak mendahulukan seruan tauhidnya dan mengkritisi kemusyrikan yang telah menjadi tradisi bangsanya. Meskipun ditentang keras, dimusuhi, diboikot, diancam dibunuh, dan sebagainya, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam tetap mengajak kaumnya untuk meninggalkan agama mereka yang syirik dan memeluk Islam, mengakui Allah sebagaisatu-satunya Tuhan dan mengakui Muhammad saw sebagai utusan-Nya yang terakhir.
Mungkin, jika ingin dakwahnya diterima secara luas, tidak dimusuhi kaum dan keluarganya sendiri, dan bisa hidup lebih nyaman, Nabi MuhammadShallallahu ‘alaihi Wassalam hanya akan mengangkat isu-isu ekonomi dan  kesejahteraan, dengan – misalnya — membentuk semacam koperasi atau Perseroan Terbatas. Bangsa Arab akan menerima ajakan itu, karena Rasulullah saw juga pedagang yang sukses dan manusia terpercaya. Meski pun al-Quran memerintahkan kepedulian sosial yang tinggi sejak dakwah di periode awal di Makkah, tetapi seruan untuk menegakkan Tauhid adalah isu utama dalam dakwah Nabi.
Dan umat manusia menjadi saksi, di tengah ancaman, makian, hujatan, dan kesulitan hidup, Nabi Shallalu ‘alaihi Wassallam tetap tegar dalam menggaungkan tegaknya Tauhid. Sebab, hanya dengan semata-mata menghambakan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala itulah, maka manusia akan bisa hidup bahagia dunia dan akhirat;  bebas dari penindasan  antar sesama; bebas dari belenggu perbudakan setan. Memberantas korupsi itu sangat penting! Tetapi, memberantas kemusyrikan lebih penting lagi! Cukup sandang pangan dan papan itu harus, tetapi selamat iman,  wajib lebih dipentingkan. Sebab, tanpa iman, amal tiada nilainya, laksana fatamorgana yang tiada berharga. (QS 24:39).
Kita camkan benar peringatan al-Quran:
وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Jangan merasa hina dan jangan berduka! Sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kalian mukmin!” (QS ali Imron [3]:139).
Umat Islam adalah ummatur-risalah. Kita mendapatkan amanah dari AllahSubhanahu Wata’ala. Kita kibarkan panji Tauhid, meski banyak yang enggan melirik, bahan ada yang sinis dan mencibirnya.  Kita pilih pemimpin terbaik, yang kita percayai memiliki ilmu dan pribadi unggul yang mampu memimpin dan membawa negeri ini kepada keberkahan Ilahi; pemimpin yang tawadhu’, tidak angkuh, tidak jumawa, ikhlas panca indera dan akalnya dipadukan dengan panduan wahyu Allah Subhanahu Wata’ala.
Perjuangan mengemban misi suci tidak pernah terlambat.  Kita mulai melangkah di tahun 2014 ini. Kita percaya, para politisi dan partai Islam juga merindukan dan mencitakan hal yang sama dengan kita semua. Kita mencitakan negeri kita menjadi negeri aman sejahtera, adil dan makmur, di bawah naungan ridha Ilahi.
Karena itu, bismillahirrahmanirrahim... dengan berusaha sekuat-kuatnya mengikhlaskan niat karena ibadah kepada Allah, kita bersihkan hati kita…  kita gaungkan sekeras-kerasnya dalam hati,  dan kita pancarkan gelombang kebenaran abadi sekuat-kuatnya melalui lisan kita:  SELAMATKAN INDONESIA DENGAN AL-QURAN!  Semoga dengan itu negeri kita berhak mendapatkan kucuran berkah Allah dan dijauhkan dari azab dan bencana. /Depok,  26 Maret 2014.
Sumber: 
http://inpasonline.com/new/pentingnya-pemimpin-yang-cinta-al-quran/

Kiyai Pondok Pesantren : Tidak Perlu Ada Hari Santri

JAKARTA -- Gagasan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang akan menetapkan tanggal 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional, menuai penolakan dari kalangan ulama sekaligus pengasuh pondok pesantren di Indonesia.

"Saya tidak setuju dengan ide (Hari Santri Nasional) itu dengan beberapa alasan," tutur pimpinan Ponpes Al Masykuriyah Wonojolo Surabaya, KH Masykur Hasyim, kepada Republika, usai menghadiri Silaturrahim Kiai dan Pengasuh Ponpes se-Indonesia di Jakarta, Kamis (23/10). 

Alasan pertama, kata dia, gagasan hari santri versi Jokowi hanya bakal mengecilkan makna peringatan hijrah pada zaman Rasulullah di kalangan umat Muslim Indonesia. Selama ini, tanggal 1 Muharam telah dimaknai secara global sebagai Tahun Baru Islam. Sementara, hari santri hanya diperingati secara nasional.

"Itu sama saja artinya mereduksi makna Tahun Baru Islam yang bersifat mendunia menjadi hari yang hanya diperingati dalam skala nasional," ujar Masykur.

Alasan kedua, gagasan hari santri itu sendiri menurutnya masih multitafsir. Masykur pun mempertanyakan apakah santri yang dimaksudkan di sini termasuk kalangan ulama yang mengasuh ponpes, atau hanya sebatas santri dalam artian mereka yang masih 'mondok' alias menuntut ilmu di pesantren.

"Jika maksudnya adalah anak-anak yang masih mondok, saya rasa tidak perlu ada hari santri. Karena, kita sudah punya Hari Pendidikan Nasional (2 Mei) yang sudah mencakup pelajar untuk keseluruhan, tanpa membedakan institusi pendidikan tempat mereka belajar. Mau pensantren atau sekolah-sekolah umum, tidak perlu dikotak-kotakkan," katanya.

Selain itu, tambah Masykur lagi, hari santri yang digagas Jokowi bakal bertabrakan dengan peringatan Tahun Besar Islam itu sendiri.(rol/sp)



Muhammadiyah Cari Kader Dakwah Lewat Lomba Pidato

Solo – Tahun ini Muhammadiyah telah menginjak usia 105 tahun miladiyah. Belasan pelajar SMA/SMK berlomba pidato dalam rangka Milad Muhammadiyah ke 105, di Balai Muhammadiyah Solo, Selasa (21/10). “Pesertanya pelajar SMA/SMK Muhammadiyah se-Kota Solo,” ungkap Ghofar Ismail, panitia Lomba Pidato Milad Muhammadiyah 105 di sela-sela lomba.

Lomba yang diikuti 16 peserta, menurut Ghofar, menggunakan kriteria penilaian, antara lain penguasaan materi, kaedah dan gaya bahasa, vokal dan aksentuasi, penampilan dan kepribadian, dan sebagainya.

Untuk tema, peserta bisa memilih dari empat tema yang disiapkan, antara lain, Birul walidyin, Generasi Muhammadiyah Menyongsong Masa depan, dan sebagainya.

“Target kami, ke depan bisa menjadi kader-kader Muhammadiyah yang handal, terutama di bidang dakwah,” jelasnya. [sp/timlo]


 

Inilah Keputusan Bahtsul Masa'il NU terkait Pemimpin Non-Muslim

KEPUTUSAN BAHTSUL MASA'IL AL-DINIYAH AL-WAQI'IYYAH 
MUKTAMAR XXX NU 

DI PP. LIRBOYO KEDIRI JAWA TIMUR

TANGGAL 21 s/d 27 NOPEMBER 1999

A. Pertanyaan
   Bagaimana hukum orang Islam menguasakan urusan kenegaraan kepada orang non Islam?

B. Jawaban
   Orang Islam tidak boleh menguasakan urusan kenegaraan kepada orang non Islam kecuali dalam keadaan darurat, yaitu:
a. Dalam bidang-bidang yang tidak bisa ditangani sendiri oleh orang Islam secara langsung atau tidak langsung karena faktor kemampuan.
b. Dalam bidang-bidang yang ada orang Islam berkemampuan untuk menangani, tetapi terdapat indikasi kuat bahwa yang bersangkutan khianat.
c. Sepanjang penguasaan urusan kenegaraan kepada non Islam itu nyata membawa manfaat.
   Catatan: Orang non Islam yang dimaksud berasal dari kalangan ahl al-dzimmah dan harus ada mekanisme kontrol yang efektif.

C. Dasar Pengambilan Hukum
1. Al-Quran Al-Karim

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

"dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman." (QS: An-Nisaa Ayat: 141)

2. Tuhfah al-Muhtaj dan Hawasyi al-Syarwani, Juz IX, h. 72
ولا يستعان عليهم  بكافر ) ذمي أو غيره إلا إن اضطررنا لذلك
قول المتن: ولا يستعان إلخ) أي يحرم ذلك اه. سم, عبارة المغني والنهاية: (تنبيه) ظاهر كلامهم أن ذلك لا يجوز ولو دعت الضرورة إليه لكنه في التتمة صرح بجواز الاستعانة به أي الكافر عند الضرورة

3. Hawasyi al-Syarwani, Juz IX, h. 73

نعم ان قتضت المصلحة توليته في شىء لا يقوم به غيره من المسلمين او ظهر من المسلمين خيانة و امنت في ذمي فلا يبعد جواز توليته لضرورة القيام بمصلحة ما ولى فيه، و مع ذلك يجب على من ينصبه مراقبته و منعه من التعرض لاحد من المسلمين

4. Kanz al-Raghibin dan Hasyiyah al-Qulyubi, Jilid IV, h. 156
ولا يستعان عليهم بكافر) لأنه يحرم تسليطه على المسلمين
قوله: ولا يستعان) فيحرم إلا لضرورة

5. Al-Ahkam al-Sulthaniyah, hal. 22

والوزارة على ضربين وزارة تـفويض ووزارة تـنـفيذ. اما وزارةالتـفويض فهى ان يستوزر الإسلام من يفوض اليه تدبـير الأمور برأيه وإمـضاء ها على اجتـهاده

6. Al-Ahkam al-Sulthaniyah, hal. 23

واما وزارة التـنـفيـذ فحكمها اضعـف وشروطها اقل لأن النـظر فيها مقـصور على رأي الإمام وتـدبـيره   

Kenangan Bersama Muhammadiyah Tempoe Dulu

Oleh: M. Rizki
Wartawan, penggiat Jejak Islam Bangsa (JIB)

Kuda-kuda berseliweran di jalanan. Kereta api, masuk dengan perlahan, asapnya mengepul. Sepeda-sepeda tertambat. Alun-alun begitu hidup. Keraton dan Mesjid Gede ramai dikerubuti orang-orang yang berdatangan. Tahun itu, 1941, hampir 30 tahun sudah, Muhammadiyah muncul. Sekolah-sekolah bermunculan bak jamur. Tenaga persiapan melawan penjajah siap sedia. Surau-surau hidup. Setiap sekolah mengkaji ayat, mengeja lafal kalam suci.

Gedung Sekolah Kweek School Muhammadiyah di Yogyakarta itu penuh sesak. Kongres ke-30 Muhammadiyah resmi digelar. Berdatangan dari jauh, seluruh Indonesia perwakilan pimpinan Muhammadiyah tiap kota, tiap daerah. Beragam suku, beragam bahasa, memimpikan Indonesia merdeka, dengan rahmat Allah.

Di sana, pertama kali sekali aku bertemu dengan Mr. kasman Singodimedjo, seorang yang namanya sedang naik daun karena baru saja keluar dari tahanan Belanda.

Mr. Kasman, Sarjana Hukum, seorang yang dulu pernah memimpin JIB (Jong Islamieten Bond), bisa dibilang organisasi pertama pergerakan Islam di Indonesia khusus pemuda, didikan Pak Salim. Mr. Kasman, beliau saat itu menjabat sebagai Pimpinan Konsul Muhammadiyah ‘Batavia’, sedangkan aku sendiri yang lebih muda delapan tahun dari beliau, diamanahi Pimpinan Consul Wilayah Sumatera Timur, Medan.

Mr. Kasman, adalah seorang yang terhormat, mendapat gelar Meester in de Rechten, Sarjana Hukum. Jarang saat itu orang bergelar Mr. pada Muhammadiyah. Rasa kekeluargaan begitu terasa, apalagi ada rasa bangga pada diri kami karena ada anggota Muhammadiyah yang ditangkap Belanda. Saat itu pula, pemimpin-pemimpin Muhammadiyah berdatangan seperti KH Mas Mansyur, ketua Pengurus Besar, Haji Abdullah darri Makasar, Tom Oli dari Gorontalo, Citrosuwarno dari Pekalongan, dan lainnya sangat banyak.

Yang membuat saya gembira juga, saat Mr. kasman yang terhormat itu saya kira tak ingin berkenalan cepat dengan saya, tapi nyatanya beliau menjabat tangan saya, dan saya merasa dia sangat santun dan menghormati sekitarnya. Pun setelah rapat-rapat, kami semua tinggal di Pondok sederhana. Tidak ada keistimewaan bagi Kiayi, atau ketua pengurus, atau orang yang bergelar Misteer sekalipun.

Pondok itu, sebuah ruang kelas besar. Saat malam semakin gelap, setelah rapat, kami semua masuk bersama ke Pondok. Satu hal yang tak akan dilupakan selama hidup, keistimewaan kita pada zaman penjajahan disbanding zaman kemerdekaan ini ialah persaudaraan yang mendalam antara kita. Semua sama, kami tidur bersama.

Suasana ini mengingatkan seperti dalam dek kapal. Tidur menumpuk semua di sana. Begitu sederhananya saat itu. Kadang, malah kita semua tidur siang di sana, karena malamnya harus berapat, bersiap, kelak Indonesia merdeka. Bertumpuk sudah, satu bantal berdua beralas tikar. Kadang saling tindih, kepala, kaki, menyebar dimana-mana.

“Berat saudara…berat…” Lalu diangkatnya kaki yang telah terletak di atas dadanya karena badannya kecil. Yang mengangkat kaki karena keberatan memikul itu ialah Wakil majelis Pemuda (WMP) Muhammadiyah dari Purwokerto, Sudirman namanya. Sedangkan kaki yang tertenggek di atas dada kawan karena sedap tidurnya ialah kaki Mr. Kasman Singodimedjo.

Baru lima tahun belakangan , kita melihat Qadla dan Qadar Allah bahwa Pemuda yang berat memikul kaki itu ialah Panglima Besar TNI yang pertama di Indonesia Jenderal Soedriman, sedangkan yang kakinya terletak di dada orang itu adalah Jaksa Agung yang pertama di Republik Indonesia dan turut menghadiri Zaman Proklamasi 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 (H), Mr. Kasman Singodimedjo.

Mr Kasman, kelak didaulat juga sebagai Ketua KNIP (Komite Nasional Indonesai Pusat) pertama (sebelum ada DPR), anggota tambahan PPKI, juga anggota Majelis Konstituante. Dua orang ini, bersama Muhammadiyah, hingga akhir hayatnya. Kini, tak terhitung lagi jumlah sekolah Muhammadiyah yang mencetak orang=orang besar seperti mereka. Mulai dengan pendidikan, Indonesia bisa merdeka, juga dengan pendidikan, generasi selanjtunya seharusnya bisa mengisi kemerdekaan. [sp/islampos]


Soekarwo : Berharap Muhammadiyah Dirikan Lebih Banyak SMK

Surabaya- Pendidikan merupakan salah satu fokus perhatian Muhammadiyah. Hal ini yang membuat Gubernur Jawa Timur (Jatim) Soekarwo mendukung Muhammadiyah mendirikan lebih banyak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jatim. Soekarwo berjanji akan mempercepat perizinan, penyediaan perlengkapan sekolah, hingga pelatihan tenaga pendidik.
 
Hal itu tidak lepas dari upaya Jatim mencetak lebih banyak lulusan SMK. 
"Pada kurun waktu 2014-2019, diharapkan rasio SMK 70 persen dan 30 persen SMA. Untuk mempercepat kita akan buat SMK mini yang mempunyai sembilan jurusan yang nantinya mempunyai keterampilan dan sertifikasi," ujar Soekarwo ketika menghadiri undangan di kantor Pimpinan Muhammadiyah Wilayah (PWM) Jatim di Surabaya, Ahad (19/10).

Meski begitu, Soekarwo menekankan, tenaga kerja lulusan SMK harus mempunyai standardisasi yang mumpuni. Dia menggambarkan, Australia pernah meminta tenaga kerja ke Indonesia sejumlah 150 ribu orang, namun tidak dapat dipenuhi karena peralatan dan pelatihan yang digunakan sudah kuno. 

Soekarwo menambahkan, beberapa waktu lalu, atase Jerman sekaligus alumni ITS juga pernah menawarkan standardisasi keterampilan lulusan SMK. Hal tersebut, menurut dia, karena Jerman tengah membutuhkan 6 juta tenaga kerja hingga 2025 mendatang. Menurut Soekarwo, Jatim salah satu yang diberikan kesempatan untuk mengisi pos tersebut.

“Satu langkah maju banyak tenaga ahli yang bersedia memberikan pelatihan bagi calon tenaga terampil kita. Saya juga telah meminta pemerintah pusat untuk membentuk asosiasi standardisasi nasional menjadi satu. Karena dalam peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan adalah langkah utama tidak bisa menyeluruh,” kata dia.

Namun demikian, pendirian SMK Muhammadiyah dirasa akan menghadapi banyak tantangan. Seperti yang dikeluhkan pengurus Muhamadiyah Bangkalan yang terkendala biaya pembangunan mesikipun lahan sudah tersedia. 

Begitu juga di Kabupaten Ngawi, di mana pengurus Muhammadiyah mengalami hambatan pengurusan sertifikat tanah wakaf.

“Nanti akan kita bantu untuk peralatan dan perlengkapan SMK. Kalau persoalan sertifikasi saya akan membantu karena sudah kewajiban pemerintah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Soekarwo.

Sementara itu Sekretaris PWM Jatim M Najib menyampaikan terima kasih kepada Gubernur atas dukungan terhadap niat Muhammadiyah mendirikan SMK. Najib menginformasikan, saat ini terdapat 942 lembaga pendidikan Muhammadiyah, yang terdiri dari  339 SD, 5 SLB dan 133 MI. 

Selain itu, ada 86 SMP, 179 Mts, 3 SMPLB, 84 SMA, 78 SMK, 34 MA, 1 SMALB, serta 24 perguruan tinggi. RIncian itu belum termasuk 1.732 lembaga pendidikan prasekolah yang dikelola lembaga sayap perempuan Muhammadiyah, Aisyiyah, yang memiliki 909 TK, 449 KB dan 374 PAUD. [sp/rol]


Belum Ada Sejarah Ketum Muhammadiyah Jadi Menteri

Susunan Menteri Hingga sore ini belum diumumkan. Belum ada sejarahnya Ketua Umum Muhammadiyah dipilih atau ditunjuk menjadi menteri oleh Presiden. Seperti itulah yang disampaikan oleh Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsuddin. 

Pasalnya, selama ini yang kerap ditunjuk sebagai menteri justru adalah Wakil Ketua Umum Muhammadiyah.

"Misalnya seperti Malik Fajar dan Bambang Soedibyo, keduanya merupakan Wakil Ketua Muhammaddiyah," katanya, di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (17/10/2014).

Din Syamsuddin yang juga Ketum Majelis Ulama Indonesia itu menambahkan, antene Muhammadiyah untuk terkait menteri, tidak sama seperti yang lain dan jangan samakan juga dengan partai politik.

"Maka itu Muhammadiyah tidak akan mengemis untuk kekuasaan dan tidak akan meminta juga (jatah menteri)," ujarnya.

Seperti diketahui Malik Fajar dan Bambang Soedibyo adalah Wakil Ketua Muhammadiyah dan keduanya pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan. [sp/inilah]

 

Muhammadiyah: Semoga Jokowi-JK Amanah dan Jujur

Salah satu Ketua PP Muhammadiyah, Yunahar Ilyas mengatakan agar Presiden dan Wakil Presiden Jokowi-JK mampu menjalankan amanah dengan baik dan jujur. Ia menjelaskan, program kesejahteraan rakyat menjadi hal yang penting untuk diprioritaskan pemerintah saat ini.

"Pertama kita ucapkan selamat kepada Jokowi-JK sudah dilantik sebagai presiden dan wakil presiden. Harapannya semoga amanah, jujur dan dapat mewujudkan apa yang jadi dambaan rakyat. Bagi rakyat tidak terlalu penting bentuk demokrasi yg terpenting tercapai kesejahteraannya.," ujar Yunahar Ilyas  saat dihubungi Republika, Senin (20/10).

Ia menambahkan, yang didambakan rakyat Indonesia yaitu pemimpin yang jujur. Sehingga jika seorang pemimpin jujur maka banyak hal yang bisa dikerjakan. Ia juga mengatakan, Indonesia sebagai negara muslim terbesar harus mampu mempertahankan iklim agama yang kondusif, damai dan secara aktif meningkatkan kualitas keagamaan.

Beliau juga beharap agar pemerintahan saat ini mampu mendorong bangkitnya ekonomi atau pemberdayaan ekonomi umat. Salah satunya dengan ekonomi syariah. [sp/rol]


Fatwa MUI : Hukum Doa Bersama Lintas Agama


FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA

Nomor:  3/MUNAS VII/MUI/7/2005

Tentang

DO’A BERSAMA

Majelis   Ulama   Indonesia   (MUI),   dalam   Musyawarah   Nasional   MUI
VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426 H. / 26-29 Juli 2005 M., setelah :

MENIMBANG  :
a. bahwa  dalam  acara-acara  resmi  kemasyarakatan maupun kenegaraan terkadang dilakukan do’a oleh umat Islam Indonesia dalam bentuk do’a bersama dengan penganut agama lain pada satu tempat yang sama;

b. bahwa hal tersebut telah menimbulkan pertanyaan di kalangan umat Islam tentang hukum do’a bersama menurut hukum Islam;

c. bahwa oleh karena itu, MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang do’a bersama tersebut untuk dijadikan pedoman oleh umat Islam.

MENGINGAT :
1. Firman Allah swt, antara lain:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

Atau siapakah yang memperkenankan (do`a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).(QS. al-Naml [27]: 62).

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.(QS. al-Ma’idah [5]: 73).

وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

…Dan do`a orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. (QS. Ghafir [40]: 50).

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya) (QS. al-Furqan 25]: 68).   

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (QS. al-Baqarah [2]: 42)

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ، وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ، وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ، وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ، لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِين6

Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyem-bah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukku-lah, agamaku”. (QS. al-Kafirun [109] : 1-6).

2. Hadis Nabi s.a.w.:

الدُّعَاءُ مُخُّ العِبَادَةِ

“Do’a adalah otak (inti) ibadah.” (HR. Tirmizi).

3.  Qa’idah fiqh:

الْأَصْل فِي الْعِبَادَةِ التَّوَقُّفُ وَالِاتِّبَاعِ

“Hukum asal dalam masalah ibadah adalah tauqifdan ittiba’(mengikuti petunjuk dan contoh dari Nabi).”

MEMPERHATIKAN : 1.  Pendapat para ulama (lihat, a.l.: Hasyiyatul Jamal Fathul Wahhab,juz V, h. 226; Hasyiyatul Jamal, juz II, h. 119; Mughnil Muhtaj,juz I, h. 323; dan al-Majmu’, juzV, h. 72 dan 66):

وَلَا يَخْتَلِطُونَ) أَهْلُ الذِّمَّةِ وَلَا غَيْرُهُمْ مِنْ سَائِرِ الْكُفَّارِ (بِنَا) فِي مُصَلَّانَا وَلَا عِنْدَ الْخُرُوجِ أَيْ يُكْرَهُ ذَلِكَ، بَلْ يَتَمَيَّزُونَ عَنَّا فِي مَكَان لِأَنَّهُمْ أَعْدَاءُ اللَّهِ تَعَالَى إذْ قَدْ يَحِلُّ بِهِمْ عَذَابٌ بِكُفْرِهِمْ فَيُصِيبُنَا. قَالَ تَعَالَى: {وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً} [الأنفال: 25] وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُؤَمَّنَ عَلَى دُعَائِهِمْ كَمَا قَالَ الرُّويَانِيُّ؛ لِأَنَّ دُعَاءَ الْكَافِرِ غَيْرُ مَقْبُولٍ، وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ قَدْ يُسْتَجَابُ لَهُمْ كَمَا اُسْتُجِيبَ دُعَاءُ إبْلِيسَ بِالْإِنْظَار (مغنى المحتاج

Kaum zimmidan orang kafir lainnya tidak boleh bercampur dengan kita, baik di dalam tempat salat kita maupun ketika keluar (dari kampung, tempat tinggal); dalam arti hal itu hukumnya makruh. Mereka di tempat terpisah dari kita, karena mereka adalah musuh Allah. Boleh jadi akan ada azab menimpa mereka disebabkan kekufuran mereka, dan azab tersebut dapat menimpa kita juga. Allah berfirman: “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu…” (QS. al-Anfal [8]: 25). Tidak boleh pula mengamini do’a mereka --sebagaimana dikemukakan oleh Imam Rauyani-- karena do’a orang kafir tidak diterima (dikabulkan). Sebagian ulama berpendapat, do’a mereka boleh jadi dikabulkan sebagaimana telah dikabulkan do’a iblis yang minta agar ditangguhkan.

2.  Rapat Komisi Fatwa MUI pada Sabtu, 13 Ramadhan 1421/9 Desember 2000.

3.  Pendapat Sidang Komisi CBidang Fatwa pada Munas VII MUI 2005.

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT
MEMUTUSKAN

MENETAPKAN :  FATWA TENTANG DO’A BERSAMA
Pertama : Ketentuan Umum
Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan :

1.  Do’a Bersamaadalah berdo’a yang dilakukan secara bersama-sama antara umat Islam dengan umat non-Islam dalam acara-acara resmi kenegaraan maupun kemasyarakatan pada waktu dan tempat yang sama, baik dilakukan dalam bentuk satu atau beberapa orang berdo’a sedang yang lain mengamini maupun dalam bentuk setiap orang berdo’a menurut agama masing-masing secara bersama-sama.

2.  Mengamini orang yang berdo’a termasuk do’a.

Kedua : Ketentuan Hukum

1.  Do’a bersama yang dilakukan oleh orang Islam dan non-muslim tidak dikenal dalam Islam. Oleh karenanya, termasuk bid’ah.

2.  Do’a Bersama dalam bentuk “Setiap pemuka agama berdo’a secara bergiliran” maka orang Islam HARAM mengikuti dan mengamini do’a yang dipimpin oleh non-muslim.

3.  Do’a Bersamadalam bentuk “Muslim dan non-muslim berdo’a secara serentak” (misalnya mereka membaca teks do’a bersama-sama) hukumnya HARAM.

4.  Do’a Bersama dalam bentuk “Seorang non-Islam memimpin do’a” maka orang Islam HARAM mengikuti dan mengamininya.

5.  Do’a Bersama dalam bentuk “Seorang tokoh Islam memimpin do’a” hukumnya MUBAH.

6.  Do’a dalam bentuk “Setiap orang berdo’a menurut agama masing-masing” hukumnya MUBAH.


Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 21 Jumadil Akhir 1426 H.
28 J u l i 2005 M


MUSYAWARAH NASIONAL VII
MAJELIS ULAMA INDONESIA
Pimpinan Sidang Komisi C Bidang Fatwa
Ketua
ttd
K.H. Ma’ruf Amin
Sekretaris
ttd
Drs. H. Hasanuddin, M.Ag


PENJELASAN ATAS FATWA DO’A BERSAMA

     Bagi umat Islam, Do’a Bersama bukan merupakan sesuatu yang baru. Sejak belasan abad, bahkan sejak agama Islam disampaikan oleh Nabi Muhammad s.a.w., hingga sekarang, mereka sudah terbiasa melakukannya, baik dilakukan setelah salat berama’ah maupun pada event-event tertentu.

     Do’a adalah suatu bentuk kegiatan berupa permohonan manusia kepada Allah SWT semata (lihat antara lain QS. al-Naml [27]: 62). Dalam sejumlah ayat al-Qur’an (lihat antara lain QS. al-Mu’min [40]: 60) Allah memerintahkan agar berdo’a. Oleh karena itu, kedudukan do’a dalam ajaran Islam adalah ibadah. Bahkan Nabi s.a.w. menyebutnya sebagai otak atau intisari ibadah (mukhkh al-‘ibadah). Sebagai sebuah ibadah, pelaksanaan do’a wajib mengikuti ketentuan atau aturan yang telah digariskan oleh ajaran Islam. Di antara ketentuan paling penting dalam berdo’a adalah bahwa do’a hanya dipanjatkan kepada Allah SWT semata. Dengan demikian, di dalam do’a sebenarnya terkandung juga unsur aqidah, yakni hal yang paling fundamental dalam agama (ushul al-din).

     Di Indonesia akhir-akhir ini, dalam acara-acara resmi kemasyarakatan maupun kenegaraan umat Islam terkadang melakukan do’a bersama dengan penganut agama lain pada satu tempat yang sama. Do’a dengan bentuk seperti itulah yang dimaksud dengan Do’a Bersama. Sedangkan do’a yang dilakukan hanya oleh umat Islam sebagaimana disinggung di atas tidak masuk dalam pengertian ini. Do’a Bersama tersebut telah menimbulkan sejumlah pertanyaan di kalangan umat Islam, terutama tentang status hukumnya. Atas dasar itu, Majelis Ulama Indonesia dalam Musyawarah Nasional VII tahun 2005 telah menetapkan fatwa tentang Do’a Bersama.

     Bagi sejumlah kalangan, Fatwa tersebut telah cukup dapat menjawab persoalan; akan tetapi bagi sebagian kalangan lain, Fatwa itu masih mengandung persoalan sehingga penjelasan lebih lanjut masih tetap diperlukan.

Berikut adalah Fatwa dimaksud serta penjelasannya.

A.  Bentuk-bentuk Do’a Bersama
1.   Satu orang berdo’a (memanjatkan do’a) sedang yang lain mengamininya (megucapkan AMIN).
2.  Beberapa orang berdo’a sedang yang lain mengamininya.
3.  Setiap orang berdo’a menurut agama masing-masing secara bersama-sama.
4.  Mengamini (megucapkan AMIN kepada) orang yang berdo’a. Hal itu karena arti AMIN adalah istajib du’a`ana(perkenankan atau kabulkan do’a kami, ya Allah).

B.  Bentuk-bentuk Do’a Bersama yang HARAM

1.  Setiap pemuka agama berdo’a secara bergiliran.
Dalam bentuk ini orang Islam HARAM mengikuti dan mengamini do’a yang dipimpin oleh non-muslim.

a.  Mengapa haram mengamini do’a non-muslim? Karena, sebagaimana telah dijelaskan, “mengamini” sama dengan berdo’a; dan ketika yang berdo’a adalah non-muslim, maka orang Islam yang mengamini tersebut berarti ia berdo’a kepada tuhan yang kepadanya non-muslim berdo’a. Padahal konsep dan aqidah mereka tentang tuhan, menurut al-Qur’an, berbeda dengan aqidah orang Islam (lihat antara lain QS. al-Ma’idah [5]: 73).
Dengan demikian, orang Islam yang megamini do’a yang dipanjatkan oleh non-muslim dapat dikategorikan kafir atau musyrik.

b.  Orang Islam yang karena alasan tertentu harus mengikuti do’a bersama, maka ketika non-muslim memanjatkan do’a, ia wajib diam dalam arti haram mengamininya.

2.  Muslim dan non-muslim berdo’a secara serentak (misalnya mereka membaca teks do’a bersama-sama).
Do’a Bersama dalam bentuk ini hukumnya HARAM. Artinya, orang Islam tidak boleh melakukannya. Sebab do’a seperti itu dipandang telah mencampuradukkan antara ibadah (dalam hal do’a) yang haq (sah, benar) dengan ibadah yang bathil (batal); dan hal ini dilarang oleh agama (lihat antara lain QS. al-Baqarah [2]: 42).
Do’a Bersama dalam bentuk kedua ini pun sangat berpotensi mengancam aqidah orang Islam yang awam. Cepat atau lambat, mereka akan menisbikan status do’a yang dalam ajaran Islam merupakan ibadah, serta dapat pula menimbulkan anggapan bagi mereka bahwa aqidah ketuhanan non-muslim sama dengan aqidah ketuhanan orang Islam. Di sini berlakulah kaidah;“sadd al-zari’ah”dan “daf’u al-dharar”.

3.  Seorang non-Islam memimpin do’a.
Dalam Do’a Bersama bentuk ketiga ini orang Islam HARAM mengikuti dan mengamininya; dengan alasan sebagaimana pada bentuk pertama.

C.  Bentuk-bentuk Do’a Bersama yang MUBAH
(Dibolehkan)
1.  Seorang tokoh Islam memimpin do’a.
2.  Setiap orang berdo’a menurut agama masing-masing.

D.  Penutup

1.  Do’a Bersama sebagaimana dimaksudkan dalam fatwa pada dasarnya tidak dikenal dalam Islam; dan karenanya termasuk bid’ah (bagian kedua angka 1). Akan tetapi, tidak berarti semua bentuk Do’a Bersama hukumnya haram. Mengenai status hukumnya dijelaskan pada angka 2 s-d 6).

2.  Ada tiga bentuk Do’a Bersama yang bagi orang Islam haram melakukannya. Dua bentuk (lihat Bangka 1 dan 3) disebabkan orang Islam mengamini do’a non-muslim, dan satu bentuk (lihat Bangka 2) disebabkan mencam-puradukkan ibadah
dan aqidah dengan ibadah Islam dan aqidah non-muslim.

3.  Ada dua bentuk Do’a Bersama yang hukumnya mubah(boleh dilakukan) oleh umat Islam (lihat C) hal ini karena yang berdo’a adalah orang Islam sendiri dan tidak mengamini do’a non muslim.

4.  Larangan Do’a Bersama dalam tiga bentuk di atas (huruf B) tidak dapat dipandang sebagai pemberangusan terhadap kebebasan untuk menjalankan ibadah menurut keyakinan masing-masing, melainkan untuk melindungi kemurnian aqidah dan ibadah umat Islam, serta merupakan penghormatan terhadap keyakinan setiap pemeluk agama.

5.  Menghadiri Do’a Bersama yang dipimpin oleh non-muslim tidak diharamkan dengan syarat tidak mengamininya. Namun demikian, sebaiknya orang Islam tidak menghadirinya. Jika terpaksa harus menghadirinya, ia wajib bersikap pasif (berdiam diri, tidak mengamini) ketika non-muslim berdo’a.

6.  Maksud kata “Mengikuti” dalam Fatwa, bagian kedua, angka 2 dan 4 adalah mengikuti do’a yang dipimpin oleh non-muslim yang disertai mengamininya atau mengikuti gerakan-gerakan dan tata cara berdo’a yang dilakukan oleh non-muslim walaupun tanpa disertai mengamininya. Oleh karena itu, bagi orang muslim mengikuti do’a non-muslim haram hukumnya, karena hal itu sama dengan mengikuti gerakan atau tata cara beribadah yang dilakukan oleh non-muslim. Sedangkan menghadiri semata do’a non-muslim, tanpa mengikuti gerakan-gerakan dan tata caranya dan tanpa mengamininya, tidak diharamkan sebagaimana dijelaskan pada angka 5 di atas.


Sumber : Situs Resmi MUI
 
 
 

MEDIA

KIRIM ARTIKEL
 
Copyright © 2013. Sang Pencerah - All Rights Reserved
Team Website Sang Pencerah