Tulisan Terkini >>

Sholat Calon Pemimpin

Oleh: Abdul Syukur

Sekarang, negara kita tercinta, Indonesia, sedang sibuk mencari pemimpin. Rakyat bingung menentukan pilihan, standar yang digunakan hanya berkutat di tataran intelektualitas dan lahiriyah calon pemimpin dan belum merambah ranah spiritual.

Dengan demikian, kesalehan hakiki mereka tidak pernah teruji dan tak pernah ada yang berusaha untuk mengujinya. Padahal kesalehan seperti inilah yang bisa menjamin baik tidaknya seorang pemimpin.

Jika mengaca pada sejarah, dulu saat prosesi pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah, diantara pertimbangan yang mengemuka ketika itu adalah, Abu Bakar pernah menjadi imam shalat menggantikan Nabi Muhammad SAW.

Kisah ini dinarasikan Ibnu Asakir dari Ibnu Umar. ‘’Rasulullah memerintahkan Abu Bakar memimpin shalat berjamaah, sedangkan saya menyaksikan sendiri, tidak ghaib, tidak sakit. Maka kami rela menyerahkan urusan dunia kami sebagaimana Rasulullah rela menyerahkan urusan agama kepadanya.’’

Pada era awal Islam, standar yang digunakan untuk menunjuk seorang pemimpin adalah faktor spiritual. Hal ini diwakili oleh agama dan tiang dari agama tidak lain adalah shalat.

Maka pantas jika kemudian hasil dari standar pemilihan semacam ini memunculkan pemimpin yang sesuai kehendak Allah.

Pastinya pula sesuai dengan kehendak manusia sebagai makhluk Allah. Shalat merupakan pengukur sekaligus penakar kesalehan seorang hamba.

Baik kesalehan terhadap Allah, maupun terhadap sesama. Jika shalat hamba tersebut baik, dalam arti sempurna dari segi syarat, rukun dan kekhusuannya, maka bisa dipastikan orang tersebut akan memiliki nilai kesalehan yang tinggi sebagai dampak dari shalatnya.

Hal tersebut ditegaskan langsung oleh Allah dalam surat al-Ankabut ayat 45, “Sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan munkar.”

Benar saja, orang yang saleh karena shalat, berarti mampu meresapi dan memegang prinsip-prinsip yang ada dalam shalat.

Paling tidak, orang itu selalu merasa diawasi Allah SWT. Sebab dalam shalat, seorang hamba diajari untuk merasa melihat Allah sejak takbiratul ihram sampai salam atau kalau tidak bisa merasa melihat Allah, paling tidak harus merasa dilihat oleh Allah.

Orang yang terbiasa merasa melihat Allah atau merasa dilihat oleh Allah SWT akan selalu hati-hati dalam melangkah, berhati-hati dalam bekerja. Hal yang menjadi pertimbangannya, sudah sesuaikah langkahnya atau apa yang dia kerjakan dengan kehendak Allah?

Kalau sesuai alhamdulillah, sebaliknya bila tidak, maka harus siap menerima siksa-Nya. Prinsip seperti ini akan membuat seorang hamba menjadi orang saleh, yang baik kepada manusia dan pencipta manusia, yang baik di depan umum maupun sedang sendirian.[sp/rol]

Orang seperti ini pulalah yang pantas menjadi pemimpin. Pertanyaannya sekarang, adakah diantara calon pemimpin kita yang seperti ini? Jika ada, sebutkan siapa? Jika tidak, sampai kapan negara kita terus seperti ini?

PCIM Perancis, 7 Tahun Menyinari Eropa Barat

Muhammadiyah adalah organisasi Islam yang sudah tua. Didirikan 18 November 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan. Muhammadiyah, sejak awal, menahbiskan dirinya sebagai organisasi pembaharu, tajdid, yakni memperbaharui pemahaman Islam yang menyimpang dari misi Islam yang berkeadilan, berkemajuan, dan berkemakmuran. Organisasi ini juga terlibat aktif dalam pengabdian masyarakat, seperti mendirikan pantai asuhan, rumah sakit, madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi. Dewasa ini, ribuan amal usaha di bidang sosial, kesehatan dan pendidikan telah tersebar di seluruh pelosok negeri.
Dalam usianya yang sudah melewati satu abad, sudah saatnya Muhammadiyah go international. Mengingat, pertama, sebagai sebuah organisasi Islam, Muhammadiyah telah terbukti berhasil menerjemahkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, Muhammadiyah perlu menawarkan genre Islam yang berkemajuan kepada masyarakat internasional. Ketiga, Muhammadiyah mampu bertahan dalam putaran arus politik dan politik berbaju agama. Inilah social capital yang melatari kebutuhan ekspansi Muhammadiyah menembus batas-batas geografis dan kultural masyarakat Indonesia.
Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Perancis, dideklarasikan pada pukul 18.00, 1 Oktober 2007 M / 19 Ramadan 1428 H di Paris, hadir di tengah-tengah masyarakat sekuler. Berkah demokrasi (kebebasan berorganisasi, berpendapat, berkeyakinan) memberikan kesempatan besar kepada Muhammadiyah untuk tampil menawarkan dan menyebarkan ajaran dan nilai Islam yang berkemajuan, berkeadilan, dan berkemanusiaan kepada masyarakat Perancis. Dan, jenis pemahaman Islam seperti inilah yang sesuai dan diterima oleh kultur masyarakat Prancis yang sekuler, rasional, dan terbuka. Ekspansi Muhammadiyah di negeri anggur ini, juga, diharapkan dapat menjadi forum bersama bagi masyarakat Indonesia yang berada di Perancis untuk memahami Islam à la Muhammadiyah yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemajuan, keadilan, kemakmuran, dan kesetaraan.
sumber: pcimperancis

Prof. Dr. Amien Rais : UU di Indonesia Kebanyakan Menguntungkan Asing



Amien Rais mengawali ceramahnya di Tabligh Akbar Pengajian Politik Islam dengan menyorot perkembangan politik Timur Tengah yang menyedihkan. Menurut Amien dua setengah lalu media massa internasional menyebut perkembangan politik di Yaman, Libia, Tunisia Mesir dan lain-lain sebagai Arab Spring. Musim Semi Arab, dimana masyarakat bersuka cita dengan musim itu. Tapi kini apa yang terjadi? Mengutip seorang pengamat, Amien menyatakan bahwa “Musim Semi Arab kini berubah menjadi musim gelap, panjang dan menakutkan.” Amien mencontohkan salah satunya adalah pembantaian orang-orang Ikhwanul Muslimin di Mesir. Di mana mayat-mayatnya dibawa berkeliling tentara-tentara Al Sisi ke tempat-tempat keramaian.

Amien yang berterus terang pernah bertemu dengan Presiden Irak Saddam Husein dua kali, juga melihat Amerika semena-mena terhadap dunia Islam. Selain penyerangan kepada Irak, perlakuan terhadap Saddam juga tidak manusiawi. Terlepas dari kezaliman Saddam terhadap sebagian rakyatnya,  Amien melihat Saddam ini orang yang berani melawan Amerika. “Sehingga ketika digantung ia menolak ditutup wajahnya dan mengucapkan tahlil (Laa Ilaaha Illallah)”terang mantan Ketua Umum Muhammadiyah ini.

Selain pernah bertemu dengan Saddam, Amien juga mengaku telah bertemu tiga kali dengan Pemimpin Libia Muammar Khadafi. Ia terkesan bila bertemu dengan Khadafi. “Pertemuan selalu diawali dengan pembacaan ayat Al Qur’an dahulu beberapa menit. Kemudian baru mulai membahas masalah-masalah di dunia Islam,”paparnya di depan ribuan jamaah Masjid Al Azhar Kebayoran Baru. Tapi, Khadafi kemudian diburu dan dibunuh AS. “Jenazahnya diedarkan dipasar-pasar,” ungkap Amien sambil menyebutkan bahwa bagaimanapun Saddam dan Khadafi adalah tokoh dunia Islam.

Yang menyedihkan adalah reaksi dunia Islam terhadap berbagai kejadian ini. “Reaksi dunia Islam tenang-tenang saja,”ungkapnya dengan nada pelan dan disambut tertawa jamaah yang memenuhi masjid. 

Amien kemudian mengutip ayat Alquran :

“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu sebelum engkau mengikuti agama/millah mereka. Katakanlah”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak aka nada bagimu pelincung dan penolong dari Allah. (QS Al Baqarah 120).

Amien menjelaskan bahwa dua millah itu tidak ridha dunia Islam tumbuh dengan alami. Di Indonesia Amien juga menyorot fenomena adanya pemimpin yang mengaku Muslim, tapi dengan Nashrani dan Yahudi dekat sekali.

Fakta yang tidak terbantahkan bahwa Indonesia adalah negara Muslim yang terbesar di muka bumi. Dan di Indonesia ini, menurut Amien, masalah terbesar adalah tidak tegaknya keadilan. Pakar politik Islam ini menyatakan bahwa Islam adalah “the religion justice”, maknanya umat Islam selalu resah terhadap ketidakadilan atau kezaliman. Karena itu Amien mengusulkan landasan bagi Muhammadiyah, NU dan Dewan Dakwah, di samping amar makruf nahi mungkar, perlu ditambah dengan ‘menegakkan keadilan dan menghilangkan kezaliman’.

Amien kemudian dengan fasih mengutip ayat-ayat Al Quran tentang keadilan. 
 “Dan diantara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk dengan kebenaran dan dengan itu pula mereka menjalankan keadilan.” (Al A’raf 159) 

“Allah membuat perumpamaan seorang hamba sahaya dibawah kekuasaan orang lain, yang tidak berdaya berbuat sesuatu dan seorang yang Kami beri rezeki yang baik, lalu Dia menginfakkan sebagian rezeki itu secara sembunyi-sembunyi dan secara terang-terangan. Samakah mereka itu? Segala puji hanya bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”

“Dan Allah (juga) membuat perumpamaan dua orang laki-laki, yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu dan dia menjadi beban penanggungnya, kemana saja dia disuruh (oleh penanggung itu), dia sama sekali tidak dapat mendatangkan suatu kebaikan. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada di jalan yang lurus.?” (QS An Nahl 75-76)

Amien juga menjelaskan bahwa adil itu adalah kosakata dari Al Qur’an. Tidak ada dalam bahasa Jawa, Batak dan lain-lain. Pancasila menyebut adil dua kali dalam silanya. Kemanusiaan yang adil dan beradab dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Jadi menurut Amien, penting menegakkan keadilan ini di Indonesia. Apakah keadilan politik, keadilan ekonomi, keadilan hukum dan lain-lain di negeri ini.

Dalam Tabligh Akbar Pengajian Politik Islam di Masjid Al Azhar, Ahad 30 Maret itu, Amien meresahkan banyaknya UU produk DPR dan Presiden yang sebagian besar menguntungkan pihak asing. “Ambil secara random UU itu. Maka akan ditemukan bahwa kepentingan asing lebih didahulukan. Hampir semua UU merugikan bangsa sendiri,”ungkapnya dengan nada serius.

Dosen Ilmu Politik UGM ini menjelaskan lebih lanjut tentang keadilan ekonomi yang tidak di negeri Muslim ini. “Pertamina dan Medco misalnya hanya menguasai 20 persen eksplorasi minyak di negeri ini. 80 persen dikuasai Exxon, Mobile Oil dan lain-lain,”terang Amien. Begitu juga karena ‘terlalu cerdasnya’ pemerintah, sehingga pertambangan Freeport –pertambangan terbesar di dunia- pemerintah hanya dapat royalty 1%. “Padahal ketika saya tanya penambang-penambang Australia yang kerja di sana apakah mereka keberatan jika pemerintah Indonesia mendapat royalti 7%? Mereka menyatakan tidak keberatan dan wajar,”papar Amien.

Suatu saat Amien berkunjung ke Riau dan diceritakan sama sahabat-sahabatnya di sana bahwa Pabrik Pengolahan Gas di Natuna/Riau pipanya sampai ke Singapura. Dan Singapura lah yang menentukan produksi gas di sana. Amien juga menjelaskan bahwa bila dirinya dan Fuad Bawazier misalnya mau membuat perusahaan penerbangan yang melewati Padang, Batam, Riau, Jakarta (rute dalam negeri) izinnya pun harus ke pemerintah Singapura.

Amien mengakui perjalanan reformasi 15 tahun ini bukan ‘so far so good’ tapi ‘so far so bad’. “Kesenjangan antara orang kaya dan miskin makin melebar. Ada orang yang makan sampai kekenyangan (‘kemlekaren’) tapi ada juga orang yang sampai siang hari tidak makan karena tidak ada makanan,”paparnya.

Karena itu,  mengutip Sayidina Ali, Amien mengungkapkan bahwa orang yang sedang kelaparan tidak bisa diajak bicara tentang Surga dan Neraka. “Beri makan dahulu, baru bisa diajak berfikir,”terangnya. Dan Amien menceritakan, suatu saat tahun 1955 ketika ia kelas 5 SD, berlangsung Pemilu. Ia ingat bahwa Partai Masyumi membuat ‘papan reklame’ tentang program-program Masyumi. Ia membaca di papan itu diantaranya tertera programnya memperbaiki jalan dan memperbanyak WC umum. Kebetulan ada tukang kayu di sampingnya yang ikut membaca. Orang itu kemudian berkata sendiri (‘grenengan’): “Memperbanyak WC umum, wong makan aja susah.”

Dalam pengajian politik di Al Azhar itu, pesertanya membludak ribuan, hingga tidak tertampung dalam masjid. Hadir juga dalam acara itu, Ustadz Bakhtiar Natsir, Mayjen (purn) Kivlan Zain, Dr Fuad Bawzier, Ustadz Alfian Tanjung, Imron Pangkapi, Ustadz Muhammad Al Khathath dan lain-lain. [sp/SIonline/nuim hidayat]

Mari Menyambut Gerhana Matahari Sebagian, 29 April 2014

Mari Menyambut Gerhana Matahari Sebagian, 29 April 2014
Oleh: Saifuddin Zuhri
Aktif di PW IPM Jawa Timur / Anggota Surabaya Astronomi Club (SAC)

Beberapa waktu yang lalu pada tanggal 15 April 2014 di sebagian wilayah Indonesia telah terjadi gerhana bulan total, meskipun hanya kebagian fase akhir gerhananya saja (fase gerhana sebagian & fase gerhana penumbra & sulit diamati dengan mata telanjang). Beberapa hari kedepan, tepatnya pada hari Selasa, 29 April 2014 sebagian wilayah Indonesia akan mengalami Gerhana Matahari Sebagian. Besarnya piringan matahari yang tertutupi oleh bulan hanya sedikit sekali dan tidak lebih dari 2% dan berbeda-beda persentasenya untuk tiap kota. Daerah mana saja yang berkesempatan untuk melihat gerhana matahari sebagian yang akan terjadi pada tanggal 29 April 2014 tsb? Simak pembahasan berikut ini.

Gerhana matahari adalah tertutupinya piringan matahari oleh bulan jika dilihat dari bumi karena bulan saat itu berada persis di antara matahari dan bumi. Piringan matahari yang tertutup oleh bulan ada kalanya terutup keseluruhan sehingga keadaan muka bumi menjadi lebih gelap seperti senja. Keadaan ini disebut sebaga gerhana matahari total (ál-kusuf al-kulli). Tapi ada kalanya juga sebagian saja dari piringan matahari yang terutupi oleh bulan. Ini dinamakan gerhana matahari sebagian (al-kusuf al-juz’i). Selain itu juga ada kalanya bagian tengah saja piringan matahari yang tertutupi oleh piringan bulan sehingga tepi piringannya tidak tertutup. Keadaan ini disebut sebagai gerhana matahari cincin (al-kusuf al-halqi). (Buku Pedoman Hisab Muhammadiyah Hal.98)

Wilayah – wilayah yang akan berkesempatan melihat gerhana matahari sebagian pada tanggal 29 April 2014 nanti diantaranya sebagian kutub selatan/benua Antartika, benua Australia, bagian selatan Samudra Hindia, dan sebagian wilayah Indonesia bagian selatan.
Wilayah Indonesia bagian selatan yang akan mengalami gerhana matahari sebagian adalah Yogyakarta, Ngliyep (Malang Selatan),  Jember, Banyuwangi, Denpasar - Bali, Mataram, Bima, Waingapu dan Kupang. (lihat foto ilustrasi dan tabel di bawah)
sumber : http://eclipse.gsfc.nasa.gov/

Tabel Waktu Gerhana Matahari Sebagian
Kota
Gerhana Mulai
Puncak Gerhana
Gerhana Berakhir
Yogyakarta
13:58:47 WIB
14:00:21 WIB
14:01:24 WIB
Ngliyep – Malang
13:44:55 WIB
14:03:31 WIB
14:21:10 WIB
Denpasar
14:45:13 WITA
15:08:00 WITA
15:29:31 WITA
Mataram
14:48:19 WITA
15:09:39 WITA
15:29:48 WITA
Bima
14:53:55 WITA
15:13:45 WITA
15:29:38 WITA
Waingapu
14:46:25 WITA
15:15:13 WITA
15:42:08 WITA
Kupang
14:49:54 WITA
15:19:24 WITA
15:46:54 WITA
Sumber: badan meteorolgi, klimatologi dan geofisika (BMKG)
Dengan intensitas sedikitnya piringan matahari yang tertutupi oleh bulan saat gerhana, maka untuk mengamatinya sangat sulit jika tidak di lengkapi dengan alat bantuan optik seperti teleskop. Mengamati gerhana dengan mata telanjang akan sangat membahayakan mata. Maka dari itu gunakanlah teleskop yang dilengkapi dengan solar filter. Dan alternatif yang lain adalah dengan menggunakan kaca mata matahari. Kita sebagai kaum muslim - khusus yang berada di daerah-daerah yang mengalami gerhana disunnahkan untuk melakukan sholat gerhana. Wallahu’alam bis showab.

Foto Terkait : Ilustrasi penampakan gerhana matahari sebagian 29 April 2014 pada fase puncak di daerah Banyuwangi dan Bali (sumber: stellarium)




Informasi Gerhana Selanjutnya :
Gerhana Bulan Total: 8 Oktober 2014 – Bisa diamati di seluruh Indonesia
Gerhana Matahari Total - Sebagian: 9 Maret 2016 – Bisa diamati di seluruh Indonesia

Adakah Dalil Sholat Ifititah Secara Bersamaan ?


Pertanyaan Dari:
Bapak Rusydi, Takmir Masjid al-Azhar,
Muhammadiyah Cabang Lamongan Jawa Timur
(disidangkan pada hari Jum’at, 15 Rabiulawal 1432 H / 18 Februari 2011 M)

Assalamu ‘alaikum  Wr. Wb.
Dengan ini kami sampaikan bahwa di masjid al-Azhar Muhammadiyah Cabang Lamongan sebelum Ramadan 1428 pelaksanaan shalat iftitah dilaksanakan dengan sir dan sendiri-sendiri. Kemudian dalam rapat Takmir Masjid ada pertanyaan apakah shalat iftitah dilakukan dengan berjamaah atau sendiri-sendiri. Setelah mendengarkan penjelasan dalam pengajian yang disampaikan oleh tokoh Muhammadiyah dan beliau mengutip penjelasan tentang kaifiyat shalat iftitah yang dimuat dalam buku Tanya Jawab Agama, adanya perubahan dalam cara pelaksanaan salat iftitah yaitu shalat iftitah dilaksanakan dengan berjamaah. Apakah benar shalat iftitah itu dilaksanakan dengan berjamaah?
  
Jawaban:

Terima kasih atas pertanyaan bapak. Untuk menjawab pertanyaan yang bapak sampaikan, perlu kami kemukakan beberapa hadis sebagai berikut:
1.      Hadis riwayat Ibnu Abbas:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ اللَّيْثِ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي عَنْ خَالِدِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِلَالٍ عَنْ مَخْرَمَةَ بْنِ سُلَيْمَانَ أَنَّ كُرَيْبًا مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ قَالَ سَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاللَّيْلِ قَالَ بِتُّ عِنْدَهُ لَيْلَةً وَهُوَ عِنْدَ مَيْمُونَةَ فَنَامَ حَتَّى إِذَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ أَوْ نِصْفُهُ اسْتَيْقَظَ فَقَامَ إِلَى شَنٍّ فِيهِ مَاءٌ فَتَوَضَّأَ وَتَوَضَّأْتُ مَعَهُ ثُمَّ قَامَ فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ عَلَى يَسَارِهِ فَجَعَلَنِي عَلَى يَمِينِهِ ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِي كَأَنَّهُ يَمَسُّ أُذُنِي كَأَنَّهُ يُوقِظُنِي فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَدْ قَرَأَ فِيهِمَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ صَلَّى حَتَّى صَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً بِالْوِتْرِ ثُمَّ نَامَ فَأَتَاهُ بِلَالٌ فَقَالَ الصَّلَاةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى لِلنَّاسِ (رواه أبو داود:الصلاة: فى صلاة الليل:1157)

Artinya: Abdul Malik bin Syu’aib bin al-Lais telah menceritakan kepada kami, ayahku telah menceritakan kepadaku, diriwayatkan dari kakekku, diriwayatkan dari Khalid bin Yazid, diriwayatkan dari Sa’id bin Abi, diriwayatkan dari Makhramah bin Sulaiman sungguh Kuraib hamba ibnu Abbas ia menceritakan bahwa dirinya berkata: Saya bertanya kepada Ibnu Abbas, bagaimana shalat Rasulullah saw pada malam hari dimana saya bermalan di tempatnya sedang beliau (Rasulullah) berada di tempat Maimunah, maka beliau pun tidur, apabila waktu telah memasuki sepertiga malam atau setengahnya beliau bangun dan menuju ke griba (wadah air dari kulit) kemudian beliau berwudlu dan aku pun berwudlu bersama beliau, lalu beliau berdiri (untuk melakukan shalat) dan aku pun berdiri di sebelah kirinya, maka beliau menjadikan (memindahkan) aku berada di sebelah kanannya, kemudian beliau meletakkan tangannya di atas kepalaku, seolah-olah beliau memegang telingaku, seolah-olah beliau membangunkanku, kemudian beliau shalat dua rakaat ringan-ringan, beliau membaca ummul-Qur’an pada setiap raka’at, kemudian beliau mengucapkan salam sampai beliau salat sebelas raka’at dengan witirnya, kemudian beliau tidur. Maka sahabat Bilal menghampirinya sambil berseru; waktu salat wahai Rasulullah, lalu beliau bangkit (bangun dari tidurnya) dan salat dua rakaat, kemudian memimpin salat orang banyak.” [HR. Abu Dawud; kitab as-Shalat, bab fi shalat al-Lail, hadis no. 1157]

2.      Hadis riwayat Hudzaifah:

عن حُذَيْفَةَ بْنِ اليَمَانِ قَالَ : أَتَيتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ ، فَتَوَضَّأَ وَقَامَ يُصَلِّي ، فَأَتَيْتُهُ ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِه ، فَأَقَامَنيَ  عَنْ يَمِيْنهِ ، فَكَبَّرَ ، فَقَالَ : « سُبْحَانَ اللهِ ذِي اْلَمَلَكُوْتِ ، وَالْجَبَرَوت  ، وَالْكِبْرِيَاءِ ، وَالْعَظَمَةِ »-الْحَدِيْثُ
 [اَخْرَجَهُ الطَّبْرَانِى فِى اْلأَوْسَطِ وَقَالَ فِى مَجْمَعِ الزَّوَائِدِ: رِجَالُهُ مُوَثَّقُوْنَ: الجزء الول: 107]

Artinya: Diriwayatkan dari Hudzaifah bin al-Yaman ia berkata: Aku pernah mendatangi Nabi saw pada suatu malam. Beliau mengambil wudlu kemudian shalat lalu aku menghampirinya dan berdiri di sebelah kirinya lalu aku di tempatkan di sebelah kanannya, kemudian beliau bertakbir dan membaca: Subha-nallah dzil malakuti wal-jabaruti wal-kibriya-i wal-‘adzamah.” [HR. ath-Thabrani dalam kitab al-Ausath dengan mengatakan bahwa perawinya orang terpecaya, juz 1: 107]


Penjelasan:

Hadis riwayat Abu Dawud di atas, dalam kitab as-Shalat,  bab fi shalat al-Lail, hadis no. 1157 dan hadis riwayat ath-Thabrani dalam kitab al-Ausath  juz 1: 107 menjelaskan bahwa pada suatu malam Hudzaifah al-Yamani shalat iftitah 2 rakaat bersama Rasulullah saw, ia (Hudzaifah) berada di sebelah kiri Rasulullah saw kemudian beliau memindahkan posisinya ke sebelah kanan beliau.
Dalam kitab syarah sunan Abu Dawud dijelaskan bahwa kalimat
  فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ عَلَى يَسَارِهِ فَجَعَلَنِي عَلَى يَمِينِهِ 
Menjadi dalil tentang posisi makmum yang hanya seorang berada di sebelah kanan imam. Apabila ada seorang makmum berdiri di sebelah kiri imam, maka makmum tersebut hendaklah bergeser (pindah) ke sebelah kanan imam, dan jika makmum tidak bergeser (pindah posisi), maka imam memindahkan makmum tersebut ke sebelah kanannya.

Berdasarkan atas pemahaman terhadap kedua hadis di atas dan syarahnya, kami berkesimpulan bahwa shalat iftitah yang dilakukan oleh Nabi saw bersama dengan Hudzaifah al-Yamani dilaksanakan dengan berjamaah. Dengan demikian sebagaimana yang bapak tanyakan, bahwa shalat iftitah dapat dilaksanakan dengan berjamah berdasar pada kedua hadis tersebut.

Wallahu alam bish-shawab. *A.56h)

Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid
Pimpinan Pusat Muhammadiyah

IMM Kota Metro Adakan Musyawarah Cabang XXI

Jum’at, (18-04-2014) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Metro kembali menyelenggarakan Musyawarah Cabang ke XXI (Musycab XXI IMM Kota Metro).  Musycab kali ini dilaksanakan selama 3 (tiga) hari, yakni hari Jum’at s.d Minggu, 18-20/04/2014. Hari pertama (Jum'at, 18/04), pada Musycab kali ini di laksanakan di GSG Madrasah Aliyah Muhammadiyah Metro yang kemudian di lanjutkan di Aula PDM Kota Metro pada hari Sabtu dan Minggu.

Tema yang diusung dalam Musycab kali ini adalah “Membangun Progresif Ikatan Menatap Gerakan Masa Depan IMM Yang Berkemajuan”. Menurut ketua Cabang IMM Kota Metro periode 2012-2013, Immawan Sugiarto mengatakan “Harapan dan maksud dari tema tersebut adalah IMM Kota Metro harus mampu menampilkan sebuah produk yang dimana IMM Kota Metro dapat memberikan partisipasi baik dalam domestik maupun publik, serta mengembalikan eksistensi Ikatan di rumah sendiri, memiliki action dalam media-media yang ada dan turut andil dalam membangun visi misi Kota Metro yakni kota pendidikan dan kota hijau, dengan menjadi monitor di Rumah Pintar yang selama ini fakum dalam pemerintahan, menjadi pengawas kebijakan dalam pembangunan, serta memupuk kembali karya yang sudah dimunculkan bersama AMM untuk memaksimalkan kembali Griya Baca Komuitas sebagai ladang dakwah ikatan di khalayak ramai”

Pada pembukaan Musycab tersebut, sempat hadir dari DPD IMM Lampung Immawan Deni Angga Saputra yang kemudian di berikan waktu untuk menyampaikan sambutan dan membuka rangkaian acara Musycab tersebut secara resmi di GSG Madrasah Aliyah Muhammadiyah Metro. Seyogyanya pembukaan Musycab tersebut di buka langsung secara resmi oleh ayahanda PDM Kota Metro, bapak Jazim Ahmad. Namun karena kebetulan acara Musycab tersebut berbarengan dengan acara Pelantikan dan Up-Grading PC NA Se-Kota Metro dan pendelegasian dari PDM Kota Metro sepertinya orangnya adalah sama, yakni bapak Jazim Ahmad, jadi atas inisiatif Panitia Pembukaan Musycab secara resmi tersebut di serahkan langsung oleh DPD IMM Lampung.

Adapun peserta yang hadir untuk saat ini (Jum’at) berkisar sekitar 30-an orang, mereka terdiri dari komisariat STAIN Jusi Metro, komisariat   FE UM Metro, FKIP UM Metro, FH UM Metro dan FT UM Metro yang kemungkinan  akan bertambah lagi sesuai undangan resmi yang telah disampaikan.

Pada Musycab kali ini, sebagaimana biasanya akan dilakukan  evaluasi satu periode yang lalu, selanjutnya merancang program kegiatan Cabang IMM Kota Metro satu periode yang akan datang. Dan kemudian dilanjutkan dengan pemilihan Formatur PC IMM Kota Metro periode 2014/2015. Kira-kira bakalan  siapakah yang akan menjadi Immawan/i nomor satu di PC IMM Kota Metro....? Jawabannya belum bisa di pastikan. Menurut Immawati Hesti Qumaira (Ketua Bidang Kader PC IMM Kota Metro Periode 2012-2013) mengatakan “siapapun yang mendapat suara terbanyak belum tentu menjadi ketua Cabang. Karena mekanisme pemilihan kali ini menggunakan metode Pemilihan Formatur, bukan pemilihan Ketua Umum seperti tahun lalu. Memilih 13 Calon Formatur dari Daftar Calon Formatur Tetap (DCFT) sebagaimana pada Tanfidz Muktamar IMM  Medan Tahun 2012“

Berdasarkan pemantauan penulis (MAM Metro), wacana pencalonan atau dicalonkan kader-kader IMM Kota Metro untuk menduduki kursi PC IMM Kota Metro sepertinya mereka sudah siap dan memberanikan diri untuk memegang tampuk amanah Pimpinan Cabang IMM Kota Metro beriode 2014-2015. Daftar Calon Formatur Tetap (DCFT) sebagaimana keterangan dari Panitia Pemilihan Cabang (Panlihcab) berjumlah 20 orang Bakal Calon Formatur yang lolos verifikasi dan validasi berkas. Namun penulis yakin DCFT yang dimaksud adalah ya mereka-mereka itu kader-kader IMM Kota Metro, baik yang telah di rekomendasikan atau mendaftarkan diri untuk menjadi Formatur PC IMM Kota Metro. (Sumber: http://ma-muh-metro.blogspot.com/)

Foto terkait:






























MPM Muhammadiyah dan KPK Luncurkan Becak Anti Korupsi


Yogyakarta- Muhammadiyah kembali memberikan inovasinya melalui masyarakat bawah. Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meluncurkan becak anti-korupsi di Yogyakarta, Rabu (23/4). Becak anti-korupsi ini merupakan hasil karya MPM PP Muhammadiyah bekerjasama dengan Paguyuban Becak Ahmad Dahlan (Pabelan) Yogyakarta.

Ahmad Makruf, Wakil Ketua MPM PP Muhammadiyah mengatakan, pihaknya melakukan pendampingan 60 tukang becak yang tergabung dalam Pabelan tersebut. "Sebanyak 30 becak di antaranya di-branding sedemikian rupa untuk mengkampanyekan anti-korupsi di Yogyakarta," ujarnya.

Becak tersebut kata dia, dicat ulang dan digambar nuansa batik Yogya dan ditulis slogan kampanye anti-korupsi. Menurutnya becak sebagai sarana transportasi tradisional sangat penting di kota pariwisata. Karenanya memberikan pesan anti-korupsi di sarana transportasi tersebut merupakan media kampanye yang efektif untuk menyerukan gerakan anti korupsi di Yogyakarta.

Bukan hanya pada wisatawan pengguna becak, tukang becak sendiri, keluarganya tetapi juga masyarakat secara umum. Selain itu kata dia, becak anti-korupsi ini juga sebagai kritik sosial terhadap maraknya kasus korupsi di masyarakat. Pihaknya terus melakukan pemberdayaan tukang becak termasuk sikap kritis terhadap korupsi.

Ketua Devisi Pendidikan dan Layanan Masyarakat KPK, Dedi Arrahim menyambut baik upaya PP Muhammadiyah dan tukang becak Yogyakarta dalam mengkampanyekan gerakan anti korupsi. "Saya sangat senang ternyata KPK tidak sendirian. Ini juga atas kerelaan abang becak juga agar becaknya di branding," katanya.[sp/rol]

Umat Islam Tak Toleran? (Menggugat Propaganda Kelompok Liberal)

“Tak perlu diragukan lagi bahwa harapan terakhir misi Kristen hanyalah melakukan perubahan sikap atas umat Muslim sedemikian rupa sehingga mereka mau bertoleransi.” Rekomendasi Dr. Cragg, seorang tokoh Misionaris asal Inggris, setelah menyadari sulitnya mengubah keyakinan umat Islam (Maryam Jameelah, Islam and Orientalism, Sunnat Nagar Press. 1981).

Saran Cragg itu tampaknya dijiwai betul oleh Barat dan kaki tangannya. Berbagai cara di tempuh untuk mempengaruhi sikap umat Islam, khususnya di Indonesia, agar menjauhi ajaran agamanya  melalui topeng toleransi. Untuk mendorong ke arah sana, saat ini masyarakat Indonesia sengaja diposisikan sebagai negara yang intoleran terhadap perbedaan.

Setara Institute pada Juni 2010 pernah melakukan penelitian dengan tajuk “Radikalisme Agama di Jabodetabek dan Jawa Barat”. Digambarkan di daerah Jabodetabek, sebanyak 49,5 persen warganya tidak menghendaki kehadiran tempat ibadah agama lain di wilayah sekitar mereka. Sekitar 84,13 persen dari responden tidak menyukai anggota keluarga atau kerabat mereka menikah dengan orang berbeda Agama.

Baru-baru ini LSI (Lingkaran Survei Indonesia) juga mengeluarkan hasil jajak pendapat mereka yang diambil dari 1.200 responden, bahwa masyarakat tidak merasa nyaman bertetangga dengan orang yang berbeda agama sebesar 67,8 persen, dengan aliran Syiah sebesar 61,2 persen, dengan penganut Ahmadiyah sebesar 63,1 persen, dan dengan homoseksual sebesar 65,1 persen. Peneliti LSI, Ardian Sopa mengatakan, “Sebagian besar responden yang menunjukkan intoleransi adalah laki-laki, orang-orang yang berpenghasilan dan berpendidikan rendah.” Ngawur! Pihak yang menolak Ahmadiyah dan penyimpangan orientasi seksual di-image-kan kurang berpendidikan.

Direktur Denny JA Foundation, Novriantoni Kahar, ikut merespon survei LSI ini dengan mengatakan bahwa hasil survei tersebut menunjukkan betapa masih ada jalan panjang yang harus ditempuh Indonesia untuk bisa menerima homoseksualitas. Sebab, tingkat penerimaan masyarakat terhadap homoseksual jauh lebih rendah berbanding dengan tingkat penerimaan mereka kepada penganut agama lain. (Thejakartapost.com, 12/10/12).

Hasil penelitian LSI itu dilansir pula oleh Harian Viameaida, Amerika Serikat (13/10), yang pada akhir tulisannya disimpulkan: Jika intoleransi meningkat maka kekerasan juga akan meningkat. Kelaziman peningkatan intoleransi agama di Indonesia diperkirakan akan semakin memperbanyak Islam radikal.

Indonesia Sangat Toleran
Bulan Mei 2012 , PBB menggelar sidang di Swiss yang membahas soal isu intoleransi. Sidang Universal Periodic Review Dewan HAM PBB itu diikuti oleh 74 negara, dan Indonesia menjadi salah satu negara peserta. Di situ, Indonesia yang dipandang intoleran akhirnya dicecar dengan berbagai pertanyaan seputar permasalahan kebebasan beragama di Indonesia.

Padahal jika dicermati secara mendalam dari sudut pandang toleransi versi Barat (menihilkan intoleransi terhadap Islam dan kaum Muslim), sejatinya Indonesia bisa dibilang sebagai negara yang toleran. Bagaimana tidak, pada saat beberapa negara lain dengan lugas melarang Ahmadiyah mengatasnamakan diri mereka Islam, di negeri ini belum ada keputusan tegas dari Pemerintah. Saat Prancis melarang kaum Muslimah mengenakan Jilbab, di negeri ini siapapun wanita boleh mengeskpresikan keputusannya dalam berbusana, termasuk kebebasan untuk mengumbar aurat.

Minoritas non-Muslim cukup nyaman di sini, berbeda dengan minoritas Muslim di Rusia, Cina, Nigeria, Thailand, atau Myanmar dan negara-negara minoritas Muslim lain; mereka terus diusik dan dizalimi. Di Belanda, Partai Kebebasan yang dipimpin Geerds Wilder bahkan selalu menyerukan pengusiran Muslim dari daratan Eropa. Bahkan muncul agenda anti Muslim yang kemudian menjadi agenda utama Sayap Kanan di Eropa.

Mereka boleh ribut soal isu diskriminasi pendirian rumah ibadah. Faktanya, merujuk data Kementerian Agama tahun 2004 hingga 2007, pendirian gereja Katolik  naik 153 persen, gereja Protestan 131 persen, vihara bertambah 368 persen dan  pura Hindu naik 475,25 persen; sedangkan masjid hanya 64 persen (Republika Online, 02/06/12). Memang,  terdapat penolakan terhadap sejumlah pendirian gereja. Namun, semua itu karena memang ilegal dan bermasalah.

Justru di AS dan negara-negara Eropa seperti Jerman dan Inggris sering terjadi sikap intoleransi rumah ibadah. Beberapa masjid legal di sana diserang dan dindingnya dicoret-coret dengan berbagai  tulisan berisi penghinaan Islam. Surreycomet melaporkan bahwa kelompok demonstran bertopeng melemparkan botol bir dan buang air kecil, serta meletakkan daging babi usai aksi pawai yang bertujuan untuk melawan ekstremisme Islam (Surreycomet.co.uk, 22/11/10).
Jadi, yang jadi pertanyaan, mengapa mereka masih menuding Indonesia intoleran? Jawabannya adalah karena mereka belum puas. Barat dan kaki tangannya ingin mendorong Indonesia supaya semakin liberal.

Menggugat Toleransi

Toleransi merupakan istilah yang berasal dari Barat. Secara bahasa, toleransi berasal dari kata tolerance. Terminologinya adalah “to endure without protest” yang berarti menahan perasaan tanpa protes. Menurut Webster’s New American Dictionary, arti toleransi adalah memberikan kebebasan dan berlaku sabar dalam menghadapi orang lain.

Kata tolerance kemudian diadopsi ke dalam bahasa Indonesia menjadi toleransi yang berasal dari kata toleran, mengandung arti: bersikap atau bersifat menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkanpendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan) yang berbeda atau yang bertentangan dengan pendiriannya (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Istilah toleransi sejatinya tidak ada dalam khasanah Islam. Menurut Dr. Anis Malik Toha, pada dasarnya istilah toleransi  tidak terdapat dalam istilah Islam. Istilah ini termasuk istilah modern yang lahir dari Barat sebagai respon dari sejarah yang meliputi kondisi politis, sosial dan budayanya yang khas dengan berbagai penyelewengan dan penindasan (Tren Pluralisme Agama: Sebuah Tinjauan Kritis, Gema Insani Press. 2005).

Alhasil, Isu intoleransi adalah permainan kaum liberal sebagai corong Barat. Karakteristik kaum liberal adalah menjadikan kebebasan sebagai fokus utama mereka, yakni kebebasan tanpa batas yang menerjang norma-norma agama. Tema sentral yang biasa mereka usung ialah pemisahan agama dari politik, demokrasi, HAM, kesetaraan jender, kebebasan penafsiran teks agama, toleransi beragama, kebebasan berekspresi, persamaan agama (pluralisme).

Maka dari itu, umat Islam tak perlu terpancing dengan stigmatisasi intoleransi ini. Umat tidak dibenarkan jika kemudian—agar tidak disebut intoleran—bersikap memaklumi dan menghargai  sesuatu yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.

Di Balik Tudingan Intoleransi

1.      Membangun sikap permisif terhadap kemungkaran dan kemaksiatan.
Atas nama toleransi, masyarakat Indonesia khususnya umat Islam diarahkan supaya tidak mempersoalkan keberadaan Ahmadiyah, agar terbuka terhadap perilaku LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender), mengizinkan adanya pemurtadan, nikah beda agama (Muslimah menikah dengan lelaki kafir), nikah sesama jenis, dan seterusnya. Padahal hal itu jelas-jelas terlarang dalam Islam.
Sebagaimana rekomendasi Konferensi Misionaris di Kota Quds tahun 1935, umat Islam didorong supaya menjauh dari ajaran Islam. Usul Samuel Zweimer, “Misi utama kita bukan menghancurkan kaum Muslim sebagai orang Kristen, namun mengeluarkan seorang Muslim dari Islam, agar jadi orang yang tidak berakhlak sebagaimana seorang Muslim. Dengan begitu akan membuka pintu bagi kemenangan imperialis di negeri-negeri Islam. Tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam. Generasi Muslim yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi yang malas, dan hanya mengejar kepuasan hawa nafsunya.” (Adian Husaini, 2001).

2.      Mengokohkan propaganda HAM.
Melalui isu toleransi ini, Barat dan LSM liberal berusaha  terus menggulirkan HAM ala Barat terhadap masyarakat Indonesia. Perlu diketahui, ide HAM merupakan derivasi dari demokrasi. Demokrasi berdiri dengan landasan  paham kebebasan; baik itu kebebasan beragama, berperilaku, berpendapat, maupun berkepemilikan.
Paham kebebasan ini amat berbahaya. Terbukti dengan adanya jaminan terhadap kebebasan beragama, lahir banyak  pemurtadan dan aliran sesat. Kebebasan berpendapat memunculkan berbagai penghinaan terhadap Rasul saw. dan Islam. Kebebasan kepemilikan melahirkan privatisasi dan penjajahan asing atas sumberdaya alam milik rakyat. Kebebasan berperilaku outputnya seks bebas, aborsi, dan seterusnya.
Dalam perjalanannya, kampanye HAM selalu tumpul sebelah dalam implementasi. Sebab, pada realitanya isu HAM lebih dominan merugikan Islam dan kaum Muslim. Pegiat HAM begitu gencar mengangkat isu HAM manakala hal itu menyangkut Islam dan kaum Muslim yang menjadi tertuduh. Sebaliknya, mereka bersikap diam seribu bahasa ketika pelaku pelanggar HAM adalah Amerika, Inggris, dan sekutunya.

3. Stigma negatif terhadap syariah Islam dan kelompok Islam.
Ketidaksukaan LSM liberal terhadap syariah Islam dan para pengusungnya terlihat jelas dalam kesimpulan berbagai penelitian dan survei yang mereka keluarkan tersebut. Mereka menuding syariah Islam sebagai ancaman negara. Mereka pun berusaha memberikan stigma negatif kepada pengusung ideologi Islam dengan memberi sebutan radikal, fundamentalis, atau ekstremis agar mereka dijauhi masyarakat.

Paradigma ideologi kaum liberal ialah agama dilarang ikut campur tangan terhadap urusan negara (sekularisme). Akibatnya, lahirlah berbagai bentuk liberalisasi seperti liberalisasi bidang politik (John locke), bidang ekonomi (Adam Smith), liberalisasi pemikiran (John Stuart mill). Jadi, wajar jika kemudian mereka antipati dengan apa yang namanya formalisasi syariah Islam. Mereka berusaha sekuat tenaga menghadang laju perjuangan penerapan syariah ke ranah negara. Salah satu strategi yang mereka gunakan ialah memberikan stigma negatif pada syariah Islam dan para pengembannya melalui penelitian dan survei-survei yang tak berbobot itu.

Sebagai contoh lagi, setara Institute juga pernah merilis survei tentang pandangan masyarakat menyoal aktivitas kekerasan oleh ormas-ormas Islam yang dikaitkan dengan sikap intoleran, seperti dikutip Media Umat edisi Maret 2011, Setara memaparkan bahwa FPI dinilai sebagai organisasi keagamaan yang paling sering melakukan kekerasan (61,9 persen), disusul (3,5 persen) Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Nahdlatul Ulama (2,6 persen), Muhammadiyah (1,9 persen). Sejumlah 20,2 menyebut tidak ada, dan 9 persen tidak menjawab. Organisasi lainnya hanya disebut oleh 0,9 persen responden.

Sungguh aneh. Padahal siapapun tahu bahwa HTI, misalnya, sama sekali tidak pernah memiliki rekam jejak kekerasan dalam aktivitasnya, namun bisa menyabet peringkat kedua soal kekerasan. Semakin tampaklah apa yang menjadi agenda tersembunyi di balik penelitian LSM-LSM komprador Asing tersebut.

Toleransi dalam Islam
Kaum Muslim dewasa ini mendekatkan kata toleransi pada kata tasamuh. Menurut DR. Anis Malik Toha, sulit untuk mendapatkan padanan katanya secara tepat dalam bahasa Arab yang menunjukkan arti toleransi dalam bahasa Inggris. Hanya saja, beberapa kalangan Islam mulai membincangkan topik ini dengan menggunakan istilah tasamuh, yang kemudian menjadi istilah baku untuk topik ini (Tren Pluralisme Agama: Sebuah Tinjauan Kritis. Gema Insani Press. 2005)

Tasamuh artinya sikap membiarkan (menghargai), lapang dada (Kamus Al-Munawir, hlm. 702, Pustaka Progresif, cet. 14). Toleransi tidak berarti seorang harus mengorbankan kepercayaan atau prinsip yang dia anut. (Ajad Sudrajat dkk, Din Al-Islam. UNY Press. 2009).
Membincangkan tentang sikap tasamuh (toleransi dalam Islam), Islam telah mengajarkan dan memperagakan dengan begitu apik sejak masa Rasulullah saw. Islam memberikan tuntunan bagaimana menghargai dan menghormati pemeluk agama lain, tidak memaksa non-Muslim untuk masuk Islam. Rasul saw. pernah menjenguk orang Yahudi yang sedang sakit, melakukan transaksi jual-beli dengan non-Muslim, menghargai tetangga non-Muslim, dsb.

Negara Islam perdana di Madinah yang Rasul saw. pimpin kala itu juga menunjukkan kecemerlangannya dalam mengelola kemajemukan. Umat Islam, Nasrani dan Yahudi hidup berdampingan satu sama lain. Meski mereka hidup dalam naungan pemerintahan Islam, masyarakat non-Muslim mendapatkan hak-hak yang sama sebagai warga negara, memperoleh jaminan keamanan, juga bebas melakukan peribadatan sesuai dengan keyakinannya masing-masing.

Islam juga mengajarkan bahwa penyimpangan hal pokok (ushul) dalam Islam tidak boleh ditoleransi, tetapi wajib diluruskan. Namun, perbedaan dalam cabang (furu’) harus dihargai dengan jiwa besar dan lapang dada. Karena itu, misal persoalan Ahmadiyah, adalah sudah jelas, itu bukan tentang perbedaan agama dan bukan pula perbedaan masalah cabang dalam Islam, tetapi merupakan ajaran kufur yang sesat menyimpang dari akidah Islam. Demikian pula lesbian, gay, homoseksual, transgender dan biseksual yang sering disebut LGBT, bukanlah perbedaan masalah cabang yang dibolehkan dalam Islam, tetapi aktivitas menyimpang yang tegas diharamkan.

Karena itu, seruan manis toleransi hanyalah pancingan dari Barat dan para pegiat liberalisme agar umat Islam di Indonesia semakin liberal. Padahal liberalisasi nyata-nyata berbahaya bagi masyarakat dan negara karena melahirkan penjajahan di segala sendi kehidupan. Hanya dengan penerapan syariah dan Khilafahlah, penjajahan di negeri ini dapat dihapuskan dan “toleransi” dapat direalisasikan dengan baik. WalLahu a’lam

Ust. Zainal Abidin Al-Floresi 

MEDIA

KIRIM ARTIKEL
 
Copyright © 2013. Sang Pencerah - All Rights Reserved
Team Website Sang Pencerah