Tulisan Terkini >>

Kasus Wimar Menghina Muhammadiyah Mandeg di Kepolisian, Bukti Hukum Tebang Pilih ?

Jum'at, 31/10/2014 - Asas Equality Before The Law atau kedudukan yang sama di depan hukum tampaknya masih menjadi mimpi bagi rakyat Indonesia. Banyak ungkapan bahwa Hukum hanya tajam ke bawah namun tumpul ke atas tampaknya benar adanya.


Rivalitas kontestasi dua pasangan pada Pilpres kemarin memang menyesakkan dada, segala daya upaya dilakukan para pendukung Capres masing - masing  termasuk black campaign di media social bahkan pihak yang tidak terlibat dalam urusan Pilpres menjadi korban termasuk Muhammadiyah.

Adalah Wimar Witoelar yang secara nyata melakukan penghinaan terhadap Muhammadiyah ketika proses Pilpres kemarin. Wimar telah menuduh Muhammadiyah mendukung salah satu capres tertentu.


Wimar juga menulis istilah Gallery of Rogues dan kebangkitan Bad Guys. "Seolah-olah Wimar menuduh Muhammadiyah sebagai Rogues atau bajingan. Kemudian kelompok bad guy

Itu penghinaan luar biasa bagi Muhammadiyah. Untuk itu Pemuda Muhammadiyah melaporkan wimar atas penghinaan dan pencemaran nama baik sesuai KUHP dan pelanggaran UU ITE.  

Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah mendatangi Polda Metro Jaya melaporkan Wimar dengan pasal 310 dan 311 KUHP tentang pencemaran nama baik dan fitnah. Serta Pasal 45 UU RI Nomor 2008 tentang ITE.  Bukti yang disampaikan pelapor berupa gambar yang diunggah oleh Wimar. 

Namun sampai hari ini Laporan PP Pemuda Muhammadiyah terhadap Wimar Witoelar tidak ada kabar beritanya, seolah kasus ini tidak penting untuk diusut bahkan belum terdengar Wimar Witoelar dipanggil pihak Kepolisian.

Hal ini menjadi kontradiksi dengan kasus yang sedang ramai diperbincangkan kisah Tukang Sate yang dibekuk pihak Kepolisian karena kasus yang hampir sama pada saat Pilpres tersebut melakukan penghinaan terhadap Capres saat itu dan dijerat juga dengan pasal UU ITE dan KUHP tentang pencemaran nama baik.

Warga Masyarakat tentunya berharap proses penegakan hukum dilakukan secara adil dan merata tidak memandang strara dan status sosial, jangan Hukum digunakan untuk alat kepentingan kekuasaan namun tidak mampu menghadirkan keadilan bagi masyarakat. (arf/sp)

 

Muhammad Arsyad (MA) adalah Jama'ah Habib Hasan

Berdasarkan informasi dari keluarga Muhammad Arsyad (MA) didapat informasi bahwa MA merupakan santri di salah satu tempat pengajia Habib Hasan bin Ja'far Assegaf. “Dia sering ikut pengajian Nurul Musthofa. Habib Hasan sebagai ustad. Hanya itu kegiatannya di luar,” ujar Ersa, tante dari MA di rumah kediaman MA, Jakarta, Kamis (30/10/2014).

Menurut penuturan Ersa, MA merupakan anak yang baik. “Dia orangnya lugu, baik dan penurut. Anak pertama dari empat bersaudara,” tuturnya.

Keadaan serba kekurangan dijalani kelarga Muhammad Arsyad (MA), tersangka penghina Presiden Joko Widodo. MA tinggal di Jalan Haji Jum RT/RW 09/01 Kelurahan Kampung Rambutan, Ciracas, Jakarta Timur.

Rumah tersebut berada di pinggir jalan raya, untuk menuju ke rumah itu harus menuruni tangga. Rumah terletak persis di sebelah jurang kali Cipinang. Terlihat tumpukan sampah berserakan di depan rumah, yang menimbulkan bau tidak sedap.


Rumah kontrakan berukuran 3X6 meter itu dihuni oleh enam orang. Orang tua MA, tante dari MA, MA, serta kedua orang adik MA. Sementara, seorang adik MA tidak tinggal di rumah.
Rumah bercat warna merah itu hanya terbagi dalam dua ruangan dengan berisi beberapa perabotan yang sudah usang. Sisanya merupakan hasil dari yang dibelinya dengan mengutang di tukang kredit keliling.

“Barang-barang seperti kasur, lemari, kipas angin, rak piring, semua dikasih tetangga. Cuma kulkas dan tv yang dibeli sendiri. Itu juga dibayar dengan cara mencicil,” ujar Ersa.

Televisi tabung 21 inch dibeli dengan cara mencicil Rp 5.000 per hari. Sementara, kulkas satu pintu Rp 50 ribu per minggu.

“Kalau tidak begitu caranya, kami semua tidak punya perabotan apa-apa,” katanya.[sp/tribbun]

Inilah Revolusi Mental Sejati

Hijrah tak hanya bermakna berpindah secara fisik (jasadiyah), tetapi lebih penting dari itu, yakni berpindah secara mental (hijrah qalbiyah).
 
Baik dalam arti fisik maupun mental, hijrah pada intinya mengandung makna perubahan, yaitu berpindah dan bergerak menuju kemuliaan dan keadaban.

Perubahan sebagai inti hijrah sungguh penting, paling tidak karena tiga alasan. Pertama, perubahan merupakan watak dari alam ini atau dengan perkataan lain, perubahan adalah sunnatullah.
  
Kedua, perubahan merupakan tanda dari kehidupan (min ‘alamat al-hayah). Kalau sesuatu tidak bergerak dan tidak bergeser dari posisinya yang semula, ia sama dengan mati atau adanya, sama dengan tidak adanya (wujuduhu ka’adamih).
  
Ketiga, perubahan selalu membawa harapan pada keadaan yang lebih baik. Pergantian hari, bulan, dan tahun baru menimbulkan harapan baru.

Begitu juga dengan pergantian pimpinan baru. Seluruh rakyat dan bangsa pasti berharap semoga kehidupan membaik, lebih makmur, dan sejahtera.
  
Dakwah Nabi SAW dan hijrah yang dilakukannya, sesungguhnya merupakan bagian dari proses perubahan ini, perubahan mental: dari kufur kepada iman, dari jahliah kepada Islam.

Sebagaimana firman Allah, “Ini adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka.” (QS Ibrahim [14]: 1).

Rauf Syalabi, dalam Usus al-Takwin al-Mujatama’ al-Muslim, mencatat beberapa perubahan mental dan kultural yang secara fundamental berhasil dilakukan Nabi SAW sebagai berikut.
  
Pertama, Nabi SAW mengubah bangsa Arab dari budaya pedang (kekerasan) kepada budaya perdamaian (min al-sayf ila al-musalamah). Pedang merupakan simbol dari kekerasan yang menjadi watak kehidupan bangsa Arab pra Islam.

Orang Madinah dari suku al-Aus dan al-Khazraj terus bertikai dan berperang satu dengan yang lain tanpa kesudahan, sampai datang Islam (Nabi Muhammad SAW) mendamaikan mereka. (Baca QS Ali Imran [3]: 103).

Kedua, Nabi SAW mengubah cara penyelesaian masalah dengan kekuatan pada penyelesaian dengan hukum atau undang-undang (min al-quwwah ila al-qanun).

Seperti diketahui, pada masa jahiliah, semua persoalan diselesaikan dengan otot alias adu kuat (hukum rimba). Pasa masa Islam, setiap persoalan dibawa ke ranah hukum, diputuskan sesuai syariat dan hukum-hukum Allah.

Ketiga, Nabi SAW mengubah budaya paganisme, syirik (politeisme) kepada paham Ketuhanan Yang Maha Esa (min al-watsaniyah ila al-tauhid).
Bangsa Arab pra-Islam merupakan penyembah berhala. Di sekitar Ka’bah saja pada waktu itu terdapat tak kurang dari 200-an patung, besar dan kecil.

Belum lagi di setiap rumah juga ada berhala yang mereka sembah. Nabi SAW berhasil mengubah mereka menjadi muwahhid sejati, yaitu orang-orang yang menyembah hanya kepada Allah SWT semata.

Nabi SAW juga berhasil membangun keadilan dan kesetaraan gender, juga mengajarkan kepada mereka adanya tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab sosial, bukan tanggung jawab kesukuan.

Apa yang dilakukan Nabi SAW di atas dapat disebut sebagai revolusi mental dan kultural dalam arti yang sebenarnya. Revolusi yang dilakukan Nabi bersifat transformasional bukan transaksional dan universal bukan partikular. Wallahu a’lam.
Oleh: A Ilyas Ismail
penulis Khazanah republikaonline 
 

Nasehat Aa Gym Untuk Menteri Susi Pudjiastuti

Jakarta - Sikap Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang merokok di depan umum menjadi pembicaraan masyarakat luas. Aa Gym pun ikut angkat bicara soal menteri asal Pangandaran tersebut.
 
"Guru-guru akan susah. Nanti kalau guru nanya ke muridnya, 'Kenapa kalian merokok?' 'Kan Bu Menteri Merokok, Bu'," kata Aa Gym, Senin (27/10/2014) seperti dikutip republika.
Aa Gym mendesak Susi bisa memberikan contoh yang baik. "Mudah mudahan berhenti merokok, pakai jilbab juga. Kita mah doakan yang baik baik saja," ucapnya saat memberikan tausiah di Masjid Bank Indonesia Jakarta.

Aa Gym secara khusus juga menyatakan bahwa pemimpin adalah panutan bagi rakyatnya. Sebelumnya, Susi sempat banyak dibahas di dunia maya terkait aksi nyentriknya.
Bahkan, dia tidak segan langsung merokok di kompleks Istana Kepresidenan, ketika baru saja usai pengenalan nama 34 menteri oleh Jokowi. “Setop dong, biar aku bisa selesaikan rokok ini sampai habis,” ujar presiden direktur PT ASI Pudjiastuti Marine Product tersebut kepada wartawan. [sp/rol]

Dakwah Kultural : Kepala Pasar vs Kepala Masjid

Muhammadiyah kini berkembang bagai bunga yang cantik menawan. Amal usaha dalam bidang ekonomi merebak memancing masa untuk hinggap dengan beragam tujuan. Ada yang berburu kebutuhan, ada yang mengais rejeki, ada yag sekedar iseng, ada yang sengaja ‘memata-matai’, ada yang bermain mata, ada yang belajar, ada yang ingin amal usaha ini berkembang dan bertambah maju, ada yang sengaja mencari untung, dan ada yang tulus mendidik masyarakat berbisnis secara islami nan santun, jujur, cerdas, memuaskan konsumen, dan lahirkan manfaat untuk semuanya.

“Memang organisasi ini kreatif. Setelah 30 tahun terlena dengan urusan’dasi’ kini tersadar bangkit benahi diri, buka beragam amal usaha untuk cukupi kebutuhan ummat..”

“Tapi harus tetap pada platform awal bahwa kita berorganisasi ini harus mampu lahirkan individu pengurusnya, pengunjungnya menjadi generasi yang cinta masjid, berkepala masjid, bukan berkepala pasar”

“Maksudnya, yang datang ke amal usaha ini lantas kita tanyai, ‘anda ke sini ingin cari untung saja, apa mencari ilmu perdagangan yang islami itu bagaimana, ataukah hanya sekedar iseng melihat?? ‘”

“Kepala masjid itu tidak ditunjukkan dengan sikap konfrontatif begitu. Hati dan fikiran selalu bersih. Ucapan dan tindakan selalu menyenangkan, menyebabkan silaturahim antara pengurus dan konsumen semakin nyaman. Relasi semakin banyak. Mereka percaya dengan kita, karena kita jujur, santun, cerdas, dan amanah. Selanjutnya kita selalu ingat kepada hukum-hukum Allah. Misalnya, ketika azan bakal berkumandang, kita istiqamah sholat berjamaah di masjid, amal usaha kita tutup sementara, nanti setelah selesai usai sholat dibuka lagi…”

“Kalau berkepala pasar berarti hanya berfikiran rugi dan laba kan?”
“Betul. Tapi kalau kepalanya ada masjidnya, maka semuanya akan diterima dengan lapang dada dan tawakal kepada Allah”

“Cuma yang terjadi sekarang, orang-orang dalam amal usaha ini terlihat hanya serambinya masjid yang nampak. Masjid hanya dijadikan singgah, numpang istirahat, bahkan kesempatan untuk tidur panjang, melupakan esensi masjid sebagai pelindung diri dari serangan-serangan negative. Yang terjadi kemudian kamuflase ibadah hanya sebagai kegiatan formalitas, untuk peroleh kesan taat belaka”

“Itu masih lumayan.Di dalam dirinya masih ada bangunan masjid yang berdiri, walau sepi jamaah, tapi itu merupakan beteng yang sangat ampuh bagi dirinya… pasti suatu saat masjid itu bakal berfungsi lagi”

“Caranya bagaimana?”
“Pengurus harus kreatif ciptakan suasana yang bermuara pada kecerdasan spiritual. Anggota atau anak buah dibimbing dalam suatu pembiasaan yang teduh, nyaman, ikhlas. Untuk itu kepala pasar juga harus dilibatkan lagi dalam rangka menciptakan rasa tersebut. Artinya, kita sebagai pimpinan tidak hanya menuntut prestasi pekerjaan mereka, sementara anak, istri, dan dirinya kelaparan, akan tetapi kita harus memikirkan rasa keadilan yang proporsional untuk kesejahteraan semuanya. Maka dari sinilah kepala pasar harus mampu berhitung cermat, bagaimana agar karyawan sejahtera, amal usaha tidak bangkrut, dan konsumen semakin meningkat…”

“Wah kalu begitu seorang pimpinan harus cerdas dong?”
“Ya, cerdas hatinya, cerdas pikiranya, cerdas sosialnya, dan cerdas spiritualnya. Di dalam dirinya ada masjid dan ada pasarnya…”

“Kalau begitu konsep amal usaha kita harus ada dua konsep tersebut dong?”
“Betul. Di kepala kita harus tertancap masjid yang kokoh. Yaitu sebuah bangunan yang bisa memotivasi kita untuk beramal, beribadah sesuai tuntunan Islam. Dan di satu sisi , otak pasar dalam diri kita muncul dengan tindakan kreatif, yang bakal menghasilkan keuntungan bagi kita, bagi persyarikatan, serta menyenangkan kosumen kita. Semoga Allah meridhoi doa dan usaha kita. Amin”. ( Ki Setyo )


Kader Muhammadiyah Kok Jarang Menulis Buku?

Ahmad Rizky Mardhatillah Umar *)

Syahdan, Kyai Dahlan dulu pernah berpesan, "Muhammadiyah pada masa sekarang ini berbeda dengan Muhammadiyah pada masa mendatang. Karena itu hendaklah warga muda-mudi Muhammadiyah hendaklah terus menjalani dan menempuh pendidikan serta menuntut ilmu pengetahuan (dan teknologi) di mana dan ke mana saja. Menjadilah dokter sesudah itu kembalilah kepada Muhammadiyah. Jadilah master, insinyur, dan (propesional) lalu kembalilah kepada Muhammadiyah sesudah itu."

Kemarin, saya menemani Bapak ke sebuah toko buku Muhammadiyah di bilangan Kauman. Toko bukunya memang sudah sering saya datangi, tetapi kali ini ada sesuatu yang mengusik hati: soal buku-buku. Seperti biasa, ketika masuk ke toko buku, saya langsung bertemu dengan buku-buku "kemuhammadiyahan": serial idelogi-nya Haedar Nashir, sejarah cabang dan ranting, pengajian, hingga materi-materi ibadah mahdhah. Selain itu, ada banyak buku agama, baik dari penerbit yang berafilasi dengan Muhammadiyah maupun dari organisasi lain. 

Mungkin karena profesi yang saya tekuni sekarang menuntut saya untuk banyak menulis dan membaca literatur, saya jadi tertarik untuk memberikan catatan soal buku-buku ini. Muhammadiyah dikenal banyak punya universitas dan sekolah. Konsekuensinya, dosen dan profesornya juga pasti banyak. Tentu saja karena jangkauan Muhammadiyah yang memang mensional dengan struktur organisasi "raksasa", universitas itu tersebar di seluruh Indonesia. Wajar jika Muhammadiyah kemudian dikenal sebagai organisasi Islam modernis terbesar di Indonesia: jumlah universitasnya besar, mahasiswanya berdatangan dan keluar setiap tahun. 

Namun, agak ironis ketika saya datang ke toko-toko buku Muhammadiyah, saya mendapati sesuatu yang kosong: ternyata tidak banyak buku-buku ilmiah yang ditulis baik oleh kader, civitas akademika di Universitas-Universitas Muhammadiyah, maupun para peneliti yang berkolaborasi/menulis tentang Muhammadiyah.

Ada dua toko buku Muhammadiyah di Kauman yang menjual buku-buku Muhammadiyah. Namun, dari dua toko buku berlantai dua tersebut, saya tidak menemukan banyak buku-buku "ilmiah" atau hasil riset. Yang saya temukan, selain buku-buku "ideologis" tersebut, justru bertolak belakang dengan semangat "Islam Berkemajuan" yang dibawa Muhammadiyah: buku "harakah", zikir, maupun polemik-polemik fiqh ibadah yang seharusnya sudah selesai melalui forum Tarjih.

Minim Produksi Pengetahuan?
Ini fenomena yang agak menyedihkan. Baru dua bulan yang lalu, di sebuah Konferensi di UIN Ciputat, saya bertemu dan berdiskusi dengan Prof. Mitsuo Nakamura, seorang Indonesianis asal Jepang yang banyak menulis tentang Muhammadiyah. Beliau memuji, sedikit banyaknya, perkembangan Muhammadiyah yangbegitu pesatnya terutama di Yogyakarta (beliau menulis tentang Muhammadiyah di Kotagede). Namun, agaknya perkembangan pesat Muhammadiyah ini justru tidak dibarengi oleh pengembangan sumber daya dan basis pengetahuan yang kuat.

Hal ini bisa dilihat pada satu masalah yang sering dikeluhkan oleh warga Muhammadiyah: "hilangnya" kader dan masjid Muhammadiyah ke tangan gerakan lain yang juga berebut kader muda: PKS, contohnya. 

Bagi saya, kekhawatiran dan keluhan yang berulang-ulang disampaikan di forum-forum perkaderan Muhammadiyah tersebut sebetulnya berlebihan dan, semestinya, diselesaikan dengan evaluasi dan perbaikan internal. Jujur saya akui bahwa saya adalah salah satu "warga" Muhammadiyah yang dulu sempat tertarik ke salah satu harakah. Selepas lulus kuliah dan berdinamika dengan banyak entitas, saya justru baru sadar bahwa persoalannya tidak sepenuhnya terjadi karena “kader yang lari” atau “ideologi yang keropos” (seperti sering disinggung pak Haedar), melainkan juga karena dinamika zaman yang kini semakin penuh tantangan.

Persoalan yang dihadapi oleh banyak kader muda Muhammadiyah, berkaca pada pengalaman saya, sebenarnya sederhana: tidak banyak wadah artikulasi yang diberikan oleh Muhammadiyah sehingga akhirnya kader banyak yang lari.Tidak adanya wadah artikulasi itu mungkin bukan salah kader-kadernya, tetapi bisa jadi soal kegagapan lembaga menghadapi tantangan-tantangan zaman yang semakin berkembang. 

Fenomena yang saya contohkan di atas sebetulnya agak menemukan kedekatan dengan fenomena yang saya contohkan di toko buku Muhammadiyah di Kauman tersebut. Saat ini, kita menghadapi pertarungan wacana yang begitu kuat, baik dalam hal media maupun produksi pengetahuan. Banyak gerakan-gerakan Islam yang merespons pertarungan wacana ini denganproduksi buku dan wadah pengkajian. Akibatnya, toko buku Muhammadiyah banyak diserbu oleh buku-buku harakah Ikhwanul Muslimin, Salafi, dan sebagainya.

Sementara itu, apa yang disediakan oleh Muhammadiyah? Bisa jadi, sedikit buku tentang Muhammadiyah yang diproduksi melalui Suara Muhammadiyah dan itu pun dengan skala produksi dan jangkauan yang tidak luas, desain dan konten yang bisa jadi tidak begitu menarik di mata anak muda. 

“Diaspora” Intelektual Muhammadiyah
Di sisi lain, saya menemui sesuatu yang "paradoks": banyak buku yang ditulis oleh intelektual dan anak-anak muda Muhammadiyah yang justru diterbitkan oleh Gramedia,  PustakaPelajar,  Ombak, Paramadina,  hingga di penerbit di luar negeri semacam ISEAS, Routledge, atau Palgrave (ini terjadi pada disertasi para intelektual yang hasilnya bagus), tapi justru tak mendapatkan tempat pembacaan di kalangan internal Muhammadiyah! Kajian mereka menjadi "asing" justru di Muhammadiyah sendiri.

Padahal, apa yang mereka lakukan sebetulnya justru mengikuti "wasiat" KH Ahmad Dahlan yang sayakutip di atas. Buku-buku mereka justru saya temukan di Social Agency dan Gramedia. Nama-nama mereka, mungkin semacam Zuly Qodir, Najib Burhani, Zakiyuddhin Baedhowy, atau banyak nama lainnya, lebih sering terdengar di luar Muhammadiyah, tapi jarang disebut di, misalnya, pengajian malam selasa yang notabene dikelola oleh Majelis Tabligh Muhammadiyah.

Kita pun akhirnya menemukan satu fenomena baru: ada semacam “diaspora” bagi intelektual-intelektual Muhammadiyah yang tak terwadahkan dalam Persyarikatan, baik di Komunitas maupun struktur organisasional.

Padahal hal ini penting di masa depan. Semestinya, kita bisa sama-sama lebih paham bahwa di masa yang akan datang, pergulatan pemikiran Islam ini bakal jauh lebih hebat. Intelektual-intelektual muda Muhammadiyah, baik dari kalanhgan progresif macam JIMM maupun yang lebih "Salafi" macam Majelis Pemikiran Islam mungkin perlu ruang yang mestinya hadir di Muhammadiyah. Suara Muhammadiyah harus menjadi lebih dari sekadar penerbitan majalah ataupun "buku ideologi" dan, secara lebih ekspansif, memproduksi wacana dan pengetahuan.

Saya kira, dengan modal sumber daya yang dimiliki sekarang, toko buku Muhammadiyah harus memproduksi pengetahuan. Hasil-hasil riset yang dilakukan di Universitas Muhammadiyah mestinya diterbitkan oleh Muhammadiyah sendiri. Lebih jauh lagi, Muhammadiyah harus punya jurnal. Sehingga, "akademisi" di Muhammadiyah bukan hanya bekerja di amal usaha, tetapi juga memproduksi pengetahuan yang, meminjam istilah Profesor Kuntowijoyo, bisa mencerahkan dan membebaskan umat Islam. 

Dua Agenda untuk Muktamar
Maka, ada dua hal penting yang harus menjadi bahan pikiran dan otokritik pada Muktamar Muhammadiyah yang akan digelar tahun 2015 mendatang. 

Pertama, mengoptimalkan lembaga Litbang atau Pengembangan Pemiikiran Islam di PP Muhammadiyah tidak hanya pada fungsi internal, tetapi juga pengembangan pengetahuan. Muhammadiyah mesti "mewadahkan" para peneliti dan pemikir di dalamnya agar bisa produktif menghasilkan pengetahuan. Hal ini tidak hanya di wilayah pengkajian Islam, tetapi juga secara interdisipliner dan melibatkan ilmu-ilmu yang lebih luas. Tak ada yang meragukan bahwa Muhammadiyah tentu tidak kekurangan akademisi dan peneliti. Muhammadiyah hanya perlu wadah bagi mereka untuk mengartikulasikan inisiatif akademik-intelektualnya, dan secara kelembagaan ini perlu dikembangkan di struktur Muhammadiyah.

Kedua, Muhammadiyah juga perlu punya penerbitan, baik penerbitan ilmiah ataupun Komunitas. Mungkin, Muhammadiyah perlu belajar dari "tetangga sebelah", NU, yang punya LKiS walau juga tidak begitu kental afiliasinya dengan NU. Muhammadiyah perlu memikirkan untuk, misalnya, punya Muhammadiyah University Press yang profesional dan akademik untuk menerbitkan hasil-hasil penelitian para akademisi di dalamnya. Atau, misalnya, Suara Muhammadiyah bisa lebih difokuskan untuk menjadi penerbitan Komunitas.

Dengan demikian, produksi pengetahuan menjadi terlembaga dan punya output yangj elas. Hal ini akan mendorong kader-kader muda Muhammadiyah untuk giat menulis dan berpikir.

Selama ini, kita mungkin punya beberapa penerbitan semacam UMM Press yang dikelola oleh Universitas Muhammadiyah Malang, Al-Wasath yang dikelola aktivis Muhammadiyah di Jakarta, atau mungkin beberapa jurnal macam Tsaqafa (milik LSBO PP Muhammadiyah) dan jurnal pribadi semacam Muhammadiyah Studies yang dikelola mas Najib Burhani.

Hal semacam ini sebetulnya positif. Namun, satu hal juga perlu dicatat: model penerbitan ini terkesan "avonturir", tercecer, mengandalkan inisiatif personal, dan lepas dari Muhammadiyah secara struktural. Kita perlu wadah penerbitan yang profesional dan bisa mengakomodasi tantangan intelektual ke depan.

'Ala Kulli Hal, saya berharap Muktamar Muhammadiyah ke depan tidak hanya menjadi wadah perebutan kepentingan politik, tetapi juga bisa menjadi semacam wadah pertemuan untuk mengembalikan ruh Muhammadiyah sebagai organisasi pergerakan 'moderen' Islam terbesar diIndonesia. Alangkah sayangnya jika Muhammadiyah punya nama yang besar, tapi potensinya tidak dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh.

Nashrun Minallah wa Fathun Qariib. 


*) Ahmad Rizky Mardhatillah Umar saat ini bekerja sebagai Asisten Peneliti di ASEAN Studies Center, Universitas Gadjah Mada dan aktif dalam forum-forum pengajian Muhammadiyah. Ia bisa dihubungi via ahmad.rizky.m@mail.ugm.ac.id

Informasi Pertukaran Mahasiswa Antar-Negara DPP IMM


Dalam rangka menduniakan gerakan, meningkatkan kualitas kader, mengembangkan sumberdaya ikatan, membuka cakrawala, memperluas jaringan dan meretas zaman untuk bersaing di kancah internasional sebagai bagian dari warga pemuda dunia. Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM), melalui bidang hubungan luar negeri (HUBLA), membuka seleksi Gelombang ke 2 Tahun 2014-2015 untuk Program-program diantaranya; beasiswa dibeberapa Negara tujuan pendidikan, peserta program Pertukaran PemudaAntar Negara (PPAN), Kursus singkat di luar Negeri, Seminar Internasional dan pengiriman-pengiriman kader untuk pengembangan potensi pada program-program keluar Negeri., Diantaranya :

1.      G20 Model United Nations 2014 UK
2.      G20 Youth Forum 2015 di Jerman
3.      16nd  Word Conference on Tobacco Healt. Abu Dhabi, United Arab Emirates
4.      London International Model United Nations ( Limun 2014)
5.      PertukaranPemuda Indonesia Australia (PPIA)
6.      PertukaranPemuda Indonesia Califonia (PPIC)
        PertukaranPemuda Indonesia Abu Dhabi (PPIAD)
       PertukaranPemuda Indonesia Korea (PPIK)
9       Muhammadiyah Scholarship
1     Dan lain-lain

Dengan ketentuan sebagai berikut:

A.  Persyaratan Calon Peserta
1.      Beriman dan bertakwa kepadaTuhan Yang MahaEsa.
2.      Telah aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah minimal 3 tahun.
3.  Jenjang pengkaderan Pokok dan Pendukung Minimal (DAM dan LIM), disertai dengan bukti syahadah.
4.    Mempunyai minat yang kuat dalam bidang Pemberdayaan Pemuda, kesukarelawanan/volunteering, Kepeloporan, dan Kesehatan yang dibuktikan dengan melakukan kontribusi di masyarakat melalui program pemberdayaan masyarakat/aktifitas social atau seni budaya atau kewirausahaan atau olah raga dan lain-lain secara nyata.
5.      Usia calon peserta seleksi, Bidang Hubla DPP IMM pada saat seleksi maksimal berusia 30 Tahun.
6.      Sehat jasmani, bebas narkoba dibuktikan dengan hasil Medical Check Up (MCU) lengkap.
7.      Belum menikah.
8.    Mempunyai wawasan gerakan internasioanal muhammadiyah, wawasan kebangsaan dan cinta tanah air serta pengetahuan yang luas Mengenai isu – isu nasional dan internasional lainya.
9.      Mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan baik secara lisan maupun tulisan
Dengan skor kompetensi minimum salah satu system tes kemampuan Bahasa Inggris
Sebagaimana ketentuan sebagai berikut :

No.
Sistem test
Skor minimum
1.
TestofEnglish for International Communication
(TOEIC)
600
2.
Test of English as a Foreign Language (TOEFL)
500
3.
International English Language Testing System
(IELTS)
6
4.
Cambridge Exam
Preliminary English Test (PET)

1   Belum pernah terlibat dalam tindakan criminal dan atau dijatuhi hokuman berdasarkan Keputusan pengadilan, dibuktikan dengan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK).
1    Mampu berkomunikasi efektif dan mahir menggunakan media social seperti: e-mail,facebook, twitter dan lain-lain
Memiliki kontribusi di masyarakatdan prestasi di berbagai bidang, diantaranya Pemberdayaan masyarakat/aktifitas social atau seni budaya atau kewirausahaan atau Olah raga, kesehatandan lain-lain di tingkat provinsi, nasionaldan internasional.
1  Bersedia melakukan kegiatan pasca program yang dapat meliputi kegiatan pemberdayaan masyarakat/aktifitas social atau seni budaya atau bidang kewirausahaan atau olahraga dan lain-lain di tingkat provinsi, nasional dan internasional di provinsi masing-masing setelah mengikuti program dibuktikan dengan mengirimkan file dan foto kegiatan.

B. Persyaratan Administratif bagi Calon Peserta Seleksi
Peserta yang akan mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi ke Bidang Hubla DPP IMM tahun 2014 di minta menyampaikan:

I.Email kepada Bidang Hubla DPP IMM, dan melampirkan dokumen-dokumen berikut :
1. Surat permohonan untuk mengikuti seleksi ke Bidang Hubla DPP IMM 2 dengan melampirkan :
curriculum vitae (CV) terbaru dan Negara tujuan program pertukaran pemuda yang di inginkan.
2.   Scan Paspor yang masih berlaku;
3. Scan Akte kelahiran;
4. Scan KTP;
5. Scan Sertifikat kompetensi Bahasa Inggris (TOEFL/TOEIC/IELTS);
6. Foto berwarna dengan latar belakang warna putih dalam format jpeg dengan ukuran file maksimal 3 MB;
7.Scan Syahadah DAM/LIM, sertifikat/piagam prestasi tingkat provinsi, nasional, internasional atas nama peserta, Atau kelompok yang di dalamnya atas nama peserta;
8. Data akun facebook/twitter/email sebagai sarana komunikasi administrative sesama
peserta yang dikoordinasi Bidang Hubla DPP IMM.

II. Bagi peserta yang dinyatakan lulus seleksi administratif, pada saat proses seleksi di
Jakarta, membawa dokumen-dokumen berikut;
1.      Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) dari Kepolisian Daerah setempat;
2.      Surat rekomendasi daripihak DPD berdomisili
3.      Surat MCU lengkap
4.    Surat pernyataan kesanggupan mengikuti segala peraturan dan tata tertib program yang ditandatangani peserta di atas materai Rp.6.000,
5.  Surat persetujuan/izindari pihak orang tua untuk mengikuti program yang ditanda tangani diatas materai Rp.6.000
6.      Surat pernyataan bermaterai Rp. 6000,-tentang kesediaan untuk memberdayakan
Pemuda usia 16 s.d 30 tahun di lingkungan provinsi asal.
7. Bukti telah berkontribusi di masyarakat melalui program pemberdayaan masyarakat/community development dan bidang lainnya baik berupa akte pendirian/laporan kegiatan/bukti lainnya

C. Pembiayaan
1.      Proses seleksi Program-program keluar negeri tersebut Bidang Hubla DPP IMM calon peserta tidak dipungut biaya.
2.      Biaya pembuatan paspor tidak ditanggung oleh Bidang Hubla DPP IMM.
3.      Calon peserta seleksi menanggung biaya-biaya sebagaiberikut:
a.       Biaya perjalanan dari tempat tinggal keibu kota provinsi pulang pergi (PP).
b.      Akomodasi, transportasi local dan konsumsi selama mengikuti proses seleksi pusat di Jakarta.
4.      Bidang Hubla DPP IMM menanggung:
Dalam Pelaksanaan Program, jika dinyatakan lolos seleksi oleh Bidang Hubla DPP IMM:
a.       Biaya visa, airport tax dan tiket kenegara tujuan PP
b.      Biaya transportasi dari ibu kota provinsi-Jakarta (PP) untuk mengikuti program dan selama mengikuti program, kecuali keperluan pribadi
c.       Perlengkapan dan akomodasi selama mengikuti program keluar negeri bidang Hubla DPP IMM

D.Alur dan Proses Seleksi
1.    Pengumuman seleksi  Bidang Hubla DPP IMM di website web.dppimm@gmail.com
2.    Pendaftaran calon peserta seleksi pusat dimulai pada hari Rabu, 22 Oktober 2014 pada pukul 07.00WIB. Calon peserta seleksi diminta mengirimkan email berisi scan dokumen dokumen Yang tercantum pada poin B. Persyaratan Administratif Bagi Calon Peserta Seleksi ke email panitia seleksi bidang hubla DPP IMM : dppimm_bidanghubla@yahoo.co.id
3.    Pendaftaran calon peserta seleksi pusat bidang Hubla DPP IMM  di tutup pada hari Rabu 5  Nopember 2014
Pada  pukul 23.30 WIB. Email yang kami terima setelah waktu penutupan yang telah
Ditentukan tidak akan di proses lebih lanjut.
4.    Pengumuman daftar peserta seleksi, bidang hubla DPP IMM yang lulus seleksi administrative akan diumumkan dalam website web.dppimm@gmail.com pada hari Sabtu , 8 November 2014danakandisampaikan pula secara individual melalui email masing masing peserta.
5.    Seleksi Peserta 2014 bidang Hubla DPP IMM akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 15 Nopember 2014,bertempat di :
Sekretariat:
1.     Jl. Menteng  Raya No 62 Jakarta – 10340, Telp. (021) 3901565
2.     Saung Pencerah “Basecamp”  DPP IMM : Jl.Dakota V Kompleks Angkasa Pura Blok Q.26 RT.14.RW.06 Kemayoran Jakarta Pusat, Telp (021)65850464

Website: web.dppimm@gmail.com

6.    Seleksi akan melibatkan DPD IMM Seindonesia, bekerja sama dengan Kementerian pemuda dan olahraga, Lembaga Hubungan Luar Negeri Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Majelis Pemberdayaan Kader Muhammadiyah (MPKM), praktisi dan alumni Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) dalam 5 (lima) tahap seleksi:
a.Penulisan Essay
b. Diskusi dan Focus Group Discussion
c. Presentasi
d. Wawancara

7. Pengumuman hasil seleksi akan diumumkan pada, 8 Nopember 2014 di website web.dppimm@gmail.com dan akan diinformasikan pula melalui email masing masing peserta yang dinyatakan lulus.

F. Contact Person
Untuk keterangan lebih lanjut silahkan mengubungi IMMawati Ela Nofita Sari (Kabid Hubla DPP IMM) Hp.085213370201/ Yudi (Sekbid Hubla DPP IMM) Hp :087732189587.
Demikian pengumuman ini disampaikan, untuk diketahui sebagai mana mestinya.


Jakarta, 17 Oktober 2014
          28 Syawal 1435 H


Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM)
Bidang Hubungan Luar Negeri DPP IMM

Ketua                                                              Sekretaris

   t.t.d                                                                   t.t.d

  ELA NOFITA SARI                               YUDHI NAJHIBULLAH
NIA.1104266                                             NIA. 1007118


MEDIA

KIRIM ARTIKEL
 
Copyright © 2013. Sang Pencerah - All Rights Reserved
Team Website Sang Pencerah