Tulisan Terkini >>

Muhammadiyah Siapkan Ribuan Lokasi Shalat Idul Fitri di Seluruh Indonesia

Sesuai dengan Maklumat PP Muhammadiyah yang menetapkan 1 Syawal 1435 H jatuh pada Senin 28 Juli 2014 maka berkaitan dengan hal tersebut Seluruh level Pimpinan Muhammadiyah dari tingkat ranting hingga pusat telah menyiapkan lokasi pelaksanaan shalat ied yang tersebar di seluruh Indonesia.

Penyelenggaraan Sholat Ied sudah dilaksanakan setiap tahun oleh Muhammadiyah, dan menurut catatan sejarah di Indonesia Muhammadiyah adalah pelopor penyelenggaraan sholat ied di lapangan melalui pengorganisasian termasuk lewat PHBI.

Untuk tahun ini berdasarkan data yang redaksi himpun dari grup facebook Muhammadiyah sholat ied yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah bertempat di berbagai stadion, lapangan, area terbuka, dan termasuk Masjid serta fasilitas Amal Usaha Muhammadiyah dengan bertindak sebagai Khotib dan Imam berasal dari lingkungan persyarikatan.

Selanjutnya kami infokan agenda khutbah Idul Fitri PP Muhammadiyah antara lain :

*Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin, M.A. (Ketua
Umum): Lapangan Oro-oro Parangtritis Yogya

*Dr. H. Haedar Nashir, M.Si. (Ketua): Plasa
Monjali (Monumen Jogja Kembali)

*Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag. (Ketua):
KBRI Kuala Lumpur

*Drs. H. A. Dahlan Rais (Ketua): Lapangan
Kartasura Surakarta

*Drs. H. Sukriyanto AR., M.Hum (Ketua):
Kampus 3 Unmuh Malang

*Dr. H. Agung Danarto, M.Ag. (Sekretsris
Umum): Lapangan Ambokembang Pekajangan
Pekalongan

*Drs. H. Marpuji Ali, M.SI (Sekretaris):
Lapangan Kotabarat Surakarta (SP)





Penjelasan Hasil Hisab 1 Syawal 1435 H

Data dan kesimpulan sebagaimana dimuat dalam Hasil Hisab Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang merupakan lampiran dari Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah didasarkan pada “hisab hakiki” dengan kriteria “wujudul-hilal”. Hasil perhitungan tersebut, khususnya mengenai terbenam Matahari dan tinggi Bulan menggunakan marjak Yogyakarta dengan koordinat: lintang (() = -07( 48( dan bujur (() = 110( 21( BT.

“Hisab Hakiki” adalah metode hisab yang berpatokan pada gerak benda langit, khususnya Matahari dan Bulan faktual (sebenarnya). Gerak dan posisi Bulan dalam metode ini dihitung secara cermat untuk mendapatkan gerak dan posisi Bulan yang sebenarnya dan setepat-tepatnya sebagaimana adanya. Adapun “wujudul-hilal” adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pada saat Matahari terbenam, Bulan belum terbenam. Dengan perkataan lain, Bulan terbenam terlambat dari terbenamnya Matahari berapapun selisih waktunya. Dengan istilah geometrik, pada saat Matahari terbenam posisi Bulan masih di atas ufuk berapapun tingginya. 

Untuk menetapkan tanggal 1 bulan baru Kamariah dalam konsep hisab hakiki wujudul-hilal terlebih dahulu harus terpenuhi tiga kriteria secara kumulatif, yaitu: 1) sudah terjadi ijtimak (konjungsi) antara Bulan dan Matahari, 2) ijtimak terjadi sebelum terbenam Matahari, dan 3) ketika Matahari terbenam Bulan belum terbenam, atau Bulan masih berada di atas ufuk. Apabila ketiga kriteria tersebut sudah terpenuhi maka dikatakanlah “hilal sudah wujud” dan sejak saat terbenam Matahari tersebut sudah masuk bulan baru Kamariah. Sebaliknya apabila salah satu saja dari tiga kriteria tersebut tidak terpenuhi, maka dikatakanlah “hilal belum wujud” dan saat terbenam Matahari sampai esok harinya belum masuk bulan baru Kamariah, bulan baru akan dimulai pada saat terbenam Matahari berikutnya setelah ketiga kriteria tersebut terpenuhi.


Ijtimak jelang bulan Syawal 1435 H terjadi pada hari Ahad Pahing tanggal 27 Juli 2014 pukul 05:43:39 WIB atau pukul 01:43:39 WAS (Waktu Arab Saudi) karena selisih waktu WIB dengan Arab Saudi 4 jam. Ijtimak terjadi pada pagi hari, ini berarti kriteria pertama (sudah terjadi ijtimak) dan kedua (ijtimak terjadi sebelum terbenam Matahari) sudah terpenuhi. Terbenam Matahari di Yogyakarta pada hari Ahad 27 Juli 2014 pukul 17:38:59 WIB. Umur Bulan pada saat itu 11 jam 55 menit 20 detik. Kriteria ketiga (pada saat Matahari terbenam Bulan belum terbenam) juga sudah terpenuhi karena berdasarkan perhitungan tersebut, pada saat terbenam Matahari di Yogyakarta tanggal 27 Juli 2014 itu Bulan masih di atas ufuk dengan ketinggian  03( 37( 48(, artinya pada saat Matahari terbenam Bulan belum terbenam, jadi hilal sudah wujud. Dengan demikian seluruh kriteria wujudul-hilal sudah terpenuhi, oleh karena itu pada saat terbenam Matahari di Yogyakarta hari Ahad 27 Juli 2014 mulai masuk tanggal 1 Syawal 1435 H (konversinya Senin 28 Juli 2014). 

Untuk mengetahui kawasan mana di muka Bumi ini yang sudah masuk tanggal 1 Syawal 1435 H pada hari itu dapat dilihat dengan memperhatikan garis pembatas dalam peta. Garis pembatas tersebut menunjukkan bahwa pada tempat-tempat itu terbenam Bulan berbarengan dengan terbenam Matahari, dan disebut garis batas tanggal.


Peta garis batas tanggal dunia menurut wujudul-hilal

Garis yang membentang dari barat ke timur adalah garis batas tanggal. Kawasan A adalah kawasan yang memulai masuk tanggal 1 Syawal 1435 H pada saat terbenam Matahari tanggal 27 Juli 2014 atau menurut konversinya tanggal 1 Syawal 1435 H bertepatan dengan tanggal 28 Juli 2014 M. Sedangkan kawasan B pada saat itu belum memasuki tanggal 1 Syawal 1435 H, di kawasan ini tanggal 1 Syawal 1435 H bertepatan dengan tanggal 29 Juli 2014 M.
Wilayah Indonesia secara keseluruhan termasuk dalam kawasan A, yakni kawasan yang memasuki tanggal 1 Syawal 1435 H pada saat magrib hari Ahad 27 Juli 2014 atau menurut konversinya hari Senin 28 Juli 2014 M.


Posko Mudik Muhammadiyah Jadi Favorit Pemudik

Baru sehari didirikan, Posko Mudik RS PKU Muhammadiyah Bantul menjadi tempat favorit pemudik untuk beristirahat. Bertempat di sisi timur Jembatan Srandakan Bantul yang berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo, para pemudik banyak yang berhenti meluangkan waktu untuk beristirahat dan memeriksa daya tahan tubuh setelah lama berkendara.
Hal tersebut disampaikan Wakil Direktur SDM RS PKU Muhammadiyah Bantul Budi Santoso saat dihubungi tim redaksi siang ini, Sabtu (26/7). Menurut Budi, Posko Mudik RS PKU Muhammadiyah Bantul baru memulai aktivitas pada kemarin siang 25/7, dan telah dipadati pemudik setelahnya. Jadi favoritnya Posko Mudik  RS PKU Bantul menurut Budi selain karena lokasi yang strategis dan berjajar dengan posko Polisi serta ORARI, tetapi juga pelayanan yang dijadwal selama 24 jam. “Semalam (25/7), pemudik cukup padat di jalan Srandakan yang melintasi jembatan, sehingga banyak dari para pemudik yang mampir ke posko,” jelasnya.
Lebih lanjut menurut Budi, RS PKU Muhammadiyah Bantul daalam operasi poskonya menyediakan berbagai layanan seperti, perawatan rawat jalan, penanganan keadaan darurat, rawat inap sementara, obat-obatan, cek kesehatan, hingga operasi minor yang kesemuanya diberikan tanpa dipungut biaya sebagai bentuk Syiar Dakwah Rumah Sakit. “Kami dalam beroperasi didukung oleh satu dokter dan tiga perawat, dan ditambah dengan perlengkapan posko serta ambulance yang siaga setiap saat,” ungkap Budi.(mac/muhammadiyah.or.id/sp)

Din Syamsudin : Jelang Idul Fitri Jangan Konsumtif

Hari raya Idul Fitri hanya tinggal menghitung hari. Khusus di Indonesia, ada beberapa tradisi yang menjadi ciri khas masyarakat menjelang lebaran yakni mudik dan membeli baju lebaran.

Entah sejak kapan kebiasaan mengenakan baju, celana dan semua peralatan serba baru di hari lebaran diterapkan muslim Indonesia. Mulai dari anak kecil hingga yang lanjut usia.

Mengenakan pakaian serba baru di hari raya Idul Fitri tidak pernah diperintahkan dalam Islam. Justru Rasulullah menyerukan umatnya agar merayakan Idul Fitri dengan hati yang bersih, berpakaian bagus dan menggunakan wewangian, namun tidak harus baru serta tidak berlebih-lebihan. 

"Ied bukan soal baju baru tapi iman yang baru. Sehingga masyarakat tidak perlu berlebihan," kata Din Syamsuddin di kantor PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, Jakpus, Rabu (23/7/2014).

Ia menyebut seharusnya umat Islam tak memaksakan diri untuk memiliki pakaian serba baru di hari lebaran. Hal ini karena bisa jadi bukannya merayakan lebaran namun terjebak dalam prilaku konsumtif manusia.

"Hidup sederhana lebih baik dan tidak terjebak pada budaya konsumsif," tegasnya.

Menurutnya, perbaikan keimanan dan menjalin silaturahmi dengan saudara muslim lainnya adalah hal yang utama dilakukan di hari lebaran.(detik/sp)

Menteri Agama Prediksi Idul Fitri 1435 H Tidak Ada Perbedaan

Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin memperkirakan pelaksanaan Idul Fitri 1435 H di Indonesia tidak akan ada perbedaan antara pemerintah dengan ormas Islam khususnya Muhamadiyah. Alasannya, ketinggian hilal pada awal bulan Syawal di atas batas yang ditentukan. 

"Menurut penghitungan hisab itu nanti posisi hilal diperkirakan di atas 2 derajat," ujar Lukman usai acara buka puasa bersama ormas Islam di kediamannya di Widya Chandra III, Jakarta, Jumat (25/7/2014). 

Lukman menjelaskan, selama ini perbedaan penetapan tanggal 1 Syawal atau hari Idul Fitri disebabkan perbedaan cara pandang dalam menentukan batas minimum hilal dapat dilihat (rukyat). Pandangan pertama, lanjut waketum PPP ini, menyebutkan hilal dapat dirukyat jika di atas 2 derajat. Jika dalam metode hisab hilal kemungkinan di posisi di atas 2 derajat, maka ini disebut imkanur rukyat. 

Pandangan kedua, dia melanjutkan, hilal dapat dilihat tidak harus di atas 2 derajat, tetapi di atas 0 derajat pun sudah dapat dilihat. 

"Nah sekarang ini, menurut hisab, posisi hilal kemungkinan nanti sudah di atas 2 derajat," jelas Lukman. 

Mantan wakil ketua MPR ini mengatakan, sidang isbat (penetapan) 1 Syawal 1435 H akan digelar di Kementerian Agama pada Minggu 27 Juli 2014 mendatang. Seperti dalam sidang isbat sebelumnya, sidang nanti juga akan mengundang perwakilan dari ormas-ormas Islam, kedutaan besar negara sahabat, dan pakar astronomi. Informasi yang didapat dari hisab akan dikonfirmasi melalui rukyatul hilal.(detik/sp)

Yatim, Hapus Air Matamu Nak!


Jakarta - Gemuruh suara anak berlari-larian, ternyata mereka berlarian menjemput ayahnya yang baru pulang kerja dan membawa bingkisan.

Tidak seperti terlihat di pojokan rumah yang masih berdindingkan bilik dan hamparan tanah tanpa ubin, terlihat seorang anak perempuan kecil yang duduk tersipuh sambil menatap teman-temannya yang bergembira, air matanya pun berlinang tak kuasa terbendung saat ia terkenang kepada Almarhum Ayahnya tercinta.

"Mungkin, bila ayah masih ada..aku akan sebahagia mereka"

Bersyukur, adalah kata yang tepat untuk ditanamkan di hati kita sekarang, begitu banyaknya orang-orang di sekitar kita, hidupnya tak selayak kita, tak sebahagia kita.

Namun, kita selalu merasa kurang akan nikmat yang kita dapat. Untuk masalah keinginan, kita tidak akan jatuh pada satu keinginan saja melainkan biasanya sesudah mendapatkan ini.. Kita masih menginginkan itu.. Begitu seterusnya.

Seharusnya kita jangan mencintai apa yang belum kita dapatkan tanpa mencintai dan mensyukuri apa yang kita dapatkan.

Di hari-hari menjelang datangnya hari raya. Merekalah orang-orang yang akan sangat bersedih melihat lingkungannya karna ketidak sempurnaan hidupnya..yaitu dia si Anak Yatim.

Mari kita rangkul mereka, kita berbagi dengan mereka walaupun hanya sebagian kecil dari harta kita.

Karena sebagian harta kita itu adalah hak mereka, mereka yang membutuhkan.

Rasulullah pun mengajarkan kepada kita agar kita mencintainya sebagaimana dalam hadistnya ,bahwa Nabi saw bersabda : "barang siapa yang memberi makan dan minum seorang anak yatim diantara kaum muslimin, maka Allah akan memasukkannya kedalam surga, kecuali dia melakukan satu dosa yang tidak diampuni."

Keadaan seperti yang serba sulit ini, akan menambah kesedihan beberapa orang miskin, apa lagi mereka yang di mana tulang punggung keluarga tiada menemani perjalanan hidupnya.

Bisa dibayangkan, ketika anak kita yang belum sempat dibelikan sesuatu oleh kita karena ketidakpunyaan kita saja, itu rasanya seperti sangat menyedihkan. Apa lagi mereka yang tanpa ayah, atau mungkin tanpa keduanya.

Jika memang kita punya rejeki walau sedikit, kita bisa sisihkan untuk mereka, terlebih lagi jika kita ingin mengasuh mereka itu akan lebih baik.

Karena seperti salah satu dari Sabda Rasulullah berikut "Sebaik-baik rumah tangga muslim ialah yang di dalamnya ada anak yatim yang dilayani dengan baik" (H.R. Ibnu Majah)

Sungguh ironi, bila kita di rumah makan enak, sandang pangan tercukupi bahkan bisa dibilang berkecukupan sedangkan di samping rumah kita, di sekitar kita ada anak yang sedang tersipuh menahan kesedihannya.

Sepertinya kebahagiaan kita itu hanya semu, jika kita tak peduli dengan mereka. Padahal mereka adalah bagian dari kita.

Yatim, hapus air matamu nak!! Kami adalah bagian darimu, keluargamu juga.
Penulis adalah anggota komunitas One Day One Juz (ODOJ)
detikramadan

Panglima TNI Gelar Buka Puasa Bersama 2000 Yatim Piatu

Jakarta – Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko bersama Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Marsetio dan Kepala Staf Angkatan Udarta Marsekal Ida Bagus Putu Dunia, menggelar buka puasa bersama 2000 anak yatim piatu dan kaum duafa se-Jabodetabek di GOR Ahmad Yani Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (23/7/2014).

Buka puasa bersama juga dihadiri 1.419 personel Mabes TNI dengan mengambil tema 'Melalui Hikmah Puasa Ramadan 1435 H Kita Mantapkan Iman dan Taqwa Serta Komunikasi Sosial TNI dengan Anak Yatim Piatu dan Kaum Duafa Guna Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa".

Acara buka puasa ini bertujuan menumbuhkan satu pemahaman, pandangan dan kebulatan tekad bersama-sama dalam menjaga kedaulatan, bangsa dan negara.

"Hal ini ditujukan untuk soliditas TNI, membaur prajurit dengan masyarakat khususnya yatim piatu," kata Moeldoko kepada wartawan.

Dalam sambutanya, Moeldoko berharap anak Indonesia memiliki semangat yang kuat. Bahkan dirinya berharap banyak bercita-cita menjadi TNI/Polri.

"Kita tanamkan semangat yang kuat menjadi warganegara yang baik. Kita juga berharap sebagian jadi tentara dan kepolisian," lanjutnya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan buka puasa kali ini dapat memberikan sumbangsih dan mendekatkan diri kepada seluruh masyarakat. [sp/tribbunnews]

Sejarah Islam di Australia Dimulai dari Pelaut Makassar


MELBOURNE -- Apa hubungan antara pelaut Makassar, penunggang unta Afghanistan dan aktifis HAM AS Malcolm X? Ketiga faktor ini adalah bagian dari sejarah Islam di kalangan warga Aborigin Australia.
 
Banyak yang tidak mengetahui bahwa penganut Islam pertama yang hadir di Australia datang sebelum koloni Inggris pada tahun 1788. Pada sekitar tahun 1650an, nelayan beragama Islam dari Makassar sudah melakukan perjalanan rutin ke bagian utara Australia untuk mencari teripang guna membuat obat obatan dan memasak. Penduduk asli Ausralia juga sering berkelana ke Indonesia untuk bertukar tempurung kura kura, tembakau, dan barang lainnya.
Menurut Dr John Bradlet dari Monash University di Melbourne, hubungan dengan Makassar ini melambangkan hubungan internasional pertama yang dilakukan oleh Australia. “Mereka saling bertukar secara adil tanpa adanya diskriminasi rasial ataupun hukum berdasarkan ras,” katanya.

Warga Muslim dari Makassar dan Suku aborigin di Australia bertukar tidak hanya dalam bentuk barang, namun juga konsep religi. “Di bagian timur laut Arnhem Land kita dapat mendapati kehadiran budaya Islam dalam bentuk lagu, lukisan, tarian, dan bahkan ritual pemakaman,” jelasnya, baru-baru ini.

Ahli bahasa juga mengatakan bahwa seruan ‘Allah’ atau beberapa doa yang ditujukan kepada ‘Allah’ juga terdengar dalam nyanyian warga Aborigin.

Pertukaran teripang antara orang Makassar dan Aborigin ini terus berjalan hingga abad ke 20 hingga peraturan pajak yang berat muncul pada tahun 1901. Terlepas dari itu, hubungan antara kedua pihak masih sering dirayakan di bagian utara Australia.

Selain itu, industri mutiara di daerah pesisir utara Australia juga melibatkan kontak antara penduduk asli Australia dengan penganut agama Islam. Pada penghujung abad ke 19, beberapa penduduk Melayu dari Asia Tenggara datang ke Australia untuk bekerja sebagai pekerja paksa pada usaha jual beli kerang mutiara. Kebanyakan dari orang Melayu ini juga menganut agama Islam yang kemudian saling bertukar budaya dengan penduduk lokal Australia.

Penunggang Unta Afghanistan
Di antara tahun 1860 dan 1930, lebih dari 4000 penunggang unta datang ke Australia. Kebanyakan berasal dari Afghanistan, India, dan Pakistan.

Kebanyakan orang ini memiliki peran penting dalam membuka jalan di daerah gurun dan menyalurkan berbagai macam suplai ke daerah terpencil untuk membantu pembangunan infrastruktur seperti jalur telegram.

Para penunggang unta ini membangun beberapa Masjid di bagian tengah Australia, dan banyak dari mereka melewati proses akulturasi budaya dengan suku lokal aborigin.

Raymound Satour, keturunan jauh dari penunggang unta Afghanistan ini kini hidup di Alice Springs.

“Ayah dari kakek saya adalah penunggang unta,” kata pria berumur 62 tahun ini. “Mereka memiliki unta mereka sendiri, lebih dari 40 unta. Di kereta unta inilah mereka bertemu dengan para penduduk aborigin yang ketika itu berkemah di semak semak.”

Industri ini sendiri berakhir pada tahun 1930an, ketika kendaraan bermotor mulai bermunculan. Dewasa ini, warisan dari penunggang Afghanistan ini adalah ratusan ribu unta liar yang berkeliaran di daerah gurun di Australia.

Warisan lainnya, tentunya, adalah komunitas keturunan Aborigin dan Afghanistan yang meskipun tidak selalu menganut agama Islam namun bangga akan budaya Islam yang mereka miliki.

Saudara Malcolm
Berdasarkan sejarah, orang Makassar, Melayu, dan Afghanistan memang menjadi penghubung utama warga Aborigin dengan Islam, namun di masa yang lebih modern ini banyak yang mengenal budaya Islam melalui inspirasi dari aktivis AS Malcolm X.

“Kamu tidak akan bisa menemukan orang Aborigin beragama islam yang tidak pernah membaca autobiografi milik Malcolm X,” kata Mohammed (namanya telah diganti), seorang Aborigin yang menjadi mualaf enam tahun lalu.

Malcom X adalah pemimpin gerakan HAM di AS dan seorang pemuka agama Islam. Setelah beberapa tahun dipenjara, dia menjadi anggota dari Nation of Islam dan menjadi salah satu pemimpin paling berpengaruh. Pada akhirnya, dia menentang ajaran dari Nation of Islam dan memilih aliran Sunni. Malcolm dibunuh pada tahun 1965.

“Perjalanan Malcolm sangatlah luar biasa,” kata Justin Agale, seorang warga Aborigin yang menjadi mualaf 15 tahun lalu. “Dia adalah seseorang yang amat tertarik pada keadilan sosial, namun juga sangat tertarik pada perjalanan spiritual menuju kebenaran.”

Mantan juara dunia Tinju Anthony Mundine adalah penganut Islam Aborigin paling terkenal di Australia. Mundine, 38, adalah anggota dari komunitas Aborigin Bundjalung dan berpindah ke Islam pada tahun 1999.

“Kami memiliki keyakinan, kami memiliki keyakinan pada yang mahakuasa, yang maha besar,” katanya. “Manusia bisa membuat rencana, namun hanya Tuhanlah yang dapat membuat rencana paling baik. Apabila Tuhan telah menakdirkanku untuk menjadi apa yang saya inginkan, maka tidak ada satu halpun yang bisa menghentikan rencana Allah.”

Hari ini, terdapat sekitar 1.000 warga Aborigin yang mengaku menganut agama Islam, meningkat dari angka 600 pada sensus tahun 2001.

Mohammed, yang dulunya tuna wisma dan kecanduan alkohol, tertarik pada budaya Islam yang kemudian merubah hidupnya menjadi lebih baik. Kini dia telah bebas dari alkohol selama enak tahun dan memiliki pekerjaan yang stabil.

“Ketika saya menemukan ajaran Islam, saat itu adalah pertama kalinya saya merasakan indahnya menjadi manusia,” katanya. “Sebelumnya saya merasa hidup saya hanya setengah setengah dan tidak pernah lengkap.”

Seperti banyak warga Aborigin yang hidup di kota, Mohammed merasa dipisahkan dari budaya aslinya. Dia menolak kritik yang mengatakan bahwa dia meninggalkan budaya aslinya dan cara hidup Aborigin.

“Dimana budaya saya?” katanya. “Budaya saya telah dipisahkan dari saya dua generasi yang lalu. Di New South Wales ini, dimana budaya Aborigin berasal, saya tidak lagi memiliki praktik budaya.”

Bagi Mohammed, Justin Agale, Anthony Mundine, dan banyak warga Aborigin lainnya yang menjadi mualaf, Islam menjadi lambang positif dari perjalanan spiritual mereka. [sp/rol]

Pengembangan Empat Pilar Perkaderan Muhammadiyah


Secara implisit, judul makalah—sebagaimana yang dimintakan penyelenggara semiloka—ini paling tidak menyiratkan tiga hal. 
Pertama, pengakuan dan kesadaran bahwa empat pilar[1] perkaderan di Muhammadiyah tersebut selama ini tidak atau belum berkembang.  
Kedua, harapan dan sikap optimis bahwa empat pilar perkaderan itu masih bisa dikembangkan dan dioptimalkan fungsinya.  
Ketiga, karena itu, pilar-pilar perkaderan tersebut diakui memiliki peran dan fungsi strategis bagi dinamika dan keberlangsungan gerak Muhammadiyah.

Biasanya  di lingkungan Persyarikatan pilar perkaderan yang dikenal hanya ada tiga, yakni: keluarga, Ortom (AMM[2] [Angkatan Muda Muhammadiyah]) dan AUM di bidang pendidikan. Adanya tambahan Pimpinan Persyarikatan yang juga dipandang sebagai pilar perkaderan, hemat saya memiliki stressing point pada dua aspek: tanggung jawab moril dan materil pimpinan dalam pelaksanaan perkaderan;   serta secara kelembagaan orang yang berada dalam struktur kepemimpinan pada dasarnya pula tengah menjalani proses pembelajaran dan perkaderan  dengan melaksanakan amanah dan kewajibannya.

Dalam pola hubungan organisasi, semestinya terbangun interrelasi dan kebijakan yang pro-perkaderan di antara pimpinan Persyarikatan, Ortom AMM dan AUM. Pola relasi seperti ini sangat penting, karena berdasarkan pengalaman tanpa kebijakan yang responsif dan politik perkaderan yang kuat dari pimpinan Persyarikatan perkaderan tidak akan bisa berjalan secara sistemik, menyeluruh  dan  berkesinambungan.

Kemudian di lingkup AUM, kalau selama ini hanya bidang pendidikan yang dianggap bersenyawa dengan perkaderan, maka setidaknya pascamuktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang (2005) AUM di bidang kesehatan dan sebagainya juga dilibatkan dalam perkaderan. Dalam arti, AUM tersebut mengadakan perkaderan seperti Baitul Arqam, yang pengelolaannya dimintakan, umpamanya, kepada Majelis Pendidikan Kader Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Terkait dengan topik pengembangan empat pilar perkaderan di Muhammadiyah, makalah ini akan lebih fokus pada ikhtiar strategis untuk mengembangkan pilar perkaderan di kalangan Ortom[3] AMM.  Untuk pilar keluarga lebih tepat dielaborasi oleh narasumber PP `Aisyiyah; sementara pilar pimpinan juga lebih pas dikemukan oleh narasumber dari PP Muhammadiyah.

KADER DAN MASA DEPAN PERSYARIKATAN
Rencana strategis program nasional bidang kaderisasi—Tanfidz Keputusan Muktamar ke-45—menyatakan:   “Membangun kekuatan dan kualitas pelaku gerakan serta peran dan ideologi gerakan Muhammadiyah dengan mengoptimalkan sistem kaderisasi yang menyeluruh dan berorientasi ke masa depan.” Ada tiga kata kunci dalam rencana strategis tersebut: pelaku gerakan; ideologi gerakan Muhammadiyah; dan sistem kaderisasi. Khusus yang diistilahkan dengan  ”pelaku gerakan” cakupan subjeknya terdiri dari: pemimpin, kader, dan anggota/warga Persyarikatan.

Dalam ruang lingkup dan dinamika gerakan Muhammadiyah, maka secara organisatoris ketiga subjek tersebut saling membutuhkan dan pengaruh-mempengaruhi. Misalnya, seorang pemimpin pasti membutuhkan anggota/warga, baik sebagai  basis legitimasi kepemimpinan maupun  untuk kepentingan pelibatan mereka dalam berbagai program dan agenda kerja yang sudah dirancang. Terlebih lagi posisi kader, maka keberadaannya juga lebih strategis dan menentukan bagi bagi kemajuan organisasi. Nilai lebih ini karena kader menempati posisi signifikan di antara pemimpin dan anggota: sebagai tenaga pendukung tugas pemimpin serta menjadi penggerak dan pendinamis aktivitas partisipatif anggota/warga.

Secara leksikal kader (bahasa Perancis: cadre) merupakan bagian inti, pusat atau bagian terpilih yang terlatih. Dalam bahasa Latin adalah quadrum, yang berarti empat persegi panjang, bujur sangkar atau kerangka yang kokoh. Dengan demikian kader merupakan kelompok elite strategis dan terlatih yang samapta dengan kecakapan, kualifikasi dan nilai-nilai lebih yang harus dimilikinya.[4]

Untuk menjadi kader seperti dalam pengertiannya tadi tentu tidak bisa terwujud secara instant dan begitu saja. Terbentuknya sosok kader seperti itu adalah melalui penempaan dalam latihan dan proses didik diri yang berkelanjutan di fora perkaderan, baik yang dikategorikan sebagai perkaderan utama maupun fungsional.[5]

Forum perkaderan sebagai wahana didik yang intensif, bisa dijadikan ajang untuk menyeleksi kader dalam kualitas dan kualifikasinya, termasuk untuk menilai potensi  dan kapasitas kepemimpinannya. Dengan begitu, intensitas kaderisasi yang dilakukan oleh Persyarikatan dan Ortom AMM dalam berbagai jenis dan bentuknya yang berbobot menjadi investasi bagi masa depan Muhammadiyah.

Kader yang berkualitas dan proses kaderisasi yang mapan menjadi qonditio sine qua non bagi terlaksananya regenerasi dan alih estafeta kepemimpinan dalam sebuah organisasi. Sekaligus dengan upaya itu pula regenerasi yang bertumpu pada kaderisasi dapat menjamin kesinambungan dan pengembangan organisasi di masa depan secara dinamis, sesuai dengan ideologi dan identitasnya yang dikontekstualisasikan untuk menjawab tuntutan dan perubahan zaman.

Identitas dan keberadaan pemimpin serta kader merupakan komponen organisasi yang  tidak boleh tidak mesti dirawat dan dikembangkan. Upaya ini menjadi tanggung jawab yang besar dan sekaligus berat terutama bagi pemimpin Persyarikatan, sementara  pemimpin dan kepemimpinan itu sendiri merupakan bagian dari anasir yang terpenting dan fundamental dalam mengintensifkan gerakan  dan mengembangkan dinamika Muhammadiyah ke depan.

Dengan kata lain, aktiva dan pasiva gerakan Muhammadiyah untuk membuktikan identitas tersebut akan ikut ditentukan oleh kualitas kader dan kinerja kepemimpinan yang dijalankan oleh seluruh jajaran dan fungsionarisnya di semua lini.  Artinya, neraca gerakan Muhammadiyah dewasa ini–yang sudah memasuki  abad kedua–dan kelanjutannya ke depan yang tetap mengusung identitas tadi, tidak bisa dimungkiri lagi bakal ikut diwarnai dan ditentukan oleh kompetensi kader dan para elite yang saat ini diamanahi dalam struktur kepemimpinan Persyarikatan.

Dengan demikian, para kader dan orang-orang yang dipercaya menjadi pemimpin di Muhammadiyah itu, sesuai dengan levelnya masing-masing, memiliki amanah yang berat dan tanggung jawab yang besar untuk memajukan Persyarikatan serta mengembangkan sumberdaya kader dan anggotanya. Dalam konteks ini, selain memiliki integritas dan kredibilitas, kader dan pemimpin juga harus mempunyai kapabilitas, visi kepemimpinan yang jelas, dan kemauan untuk selalu meningkatkan kualitas dengan perkaderan[6] atau memiliki tekad kuat untuk mau belajar dan berlatih guna memperbarui diri.

Kebutuhan akan sosok kader dan pemimpin yang amanah dan cakap serta model kepemimpinan yang responsif dan  partisipatoris, bukan saja karena kebutuhan intern Muhammadiyah yang urgen, tetapi juga mengingat tantangan dan problem eksternal Persyarikatan di masa depan yang semakin tidak ringan. Tantangan ini juga tidak lepas dari konstelasi dinamis dalam skup nasional dan global, baik dalam dimensi sosial, budaya, ekonomi, politik, maupun keagamaan.

POTRET ORTOM AMM
Berkaitan dengan kayataan seperti itu patut diakui bahwa dalam sejarahnya Muhammadiyah sejak dini sudah memikirkan arti penting dan fungsi strategis kader bagi kemajuan dan kesinambungan gerakannya. Sejak awal KH Ahmad Dahlan telah mulai merintis pembinaan kader-kader Muhammadiyah melalui pengajian, pendidikan formal-informal, organisasi kepanduan (Hizbul Wathon), organisasi kepemudaan, dan sebagainya.

Perkembangan selanjutnya, tradisi perkaderan tetap dilanjutkan oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah berikutnya. Kelahiran Nasyiatul `Aisyiyah (16 Mei 1931), Pemuda Muhammadiyah (2 Mei 1932), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (18 Juli 1961) dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (14 Maret 1964) merupakan bukti dari keseriusan Muhammadiyah terhadap arti penting kader bagi Persyarikatan.

Kepentingan akan peran kader yang ada di AMM tersebut pada dasarnya tidak sekedar untuk mencukupi hajat kebutuhan sesaat saja, tetapi bersifat jangka panjang dalam estafeta regenerasi untuk menjamin masa depan Muhammadiyah. Oleh karena itu, upaya-upaya untuk menyegarkan dan memperbarui vitalitas kader AMM perlu selalu didesain dengan sebaik-baiknya.

Ikhtiar yang terencana by design itu tidak bisa ditawar-tawar lagi, terlebih bila kita melihat potret AMM akhir-akhir ini. Ada asumsi bahwa gerakan AMM yang kurang artikulatif  sedikit banyak dibiaskan oleh nama besar dan prestasi sejarah Muhammadiyah. Masalah ini juga ikut dipengaruhi  oleh sikap  dan kebijakan (sebagian) Pimpinan Persyarikatan  dalam menghadapi dinamika AMM.

Artikulasi gerakan dan aktivitas AMM–yang terdiri dari Pemuda Muhammadiyah (PM), Nasyiatul `Aisyiyah (NA), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), dan Tapak Suci Putera Muhammadiyah–dinilai banyak pihak masih lemah dan belum lantang bergema ke luar. Lemahnya artikulasi gerakan dan aktivitas ini mempengaruhi posisi strategis AMM sebagai basis dan wadah kader Muhammadiyah.

Tentu tida fair juga bila buramnya potret AMM ditimpakan kesalahannya kepada Muhammadiyah semata. Menilik lebih jauh kepada inti permasalahnnya, peran dan fungsi ideal AMM misalnya untuk menyuplai kader-kader terbaiknya bagi kepentingan Muhammadiyah, umat dan bangsa sering terdistorsikan di masing-masing tubuh organisasi AMM itu sendiri.

Ada beberapa persoalan mendasar yang berkaitan dengan problem kaderisasi di AMM dan artikulasi gerakannya. Pertama, lemahnya sistem dan mekanisme perkaderan AMM secara “ide konseptual” dan “praktek operasional”. Kedua, masih terbatasnya orientasi perkaderan hanya untuk mencukupi hajat kebutuhan intern masing-masing AMM, dan itu pun seringkali berjalan tidak lancar. Ketiga, tidak adanya koordinasi dan sinkronisasi model perkaderan yang komprehensif yang melibatkan seluruh jajaran AMM. Keempat, masih kuatnya ego sektoral di masing-masing AMM. Kelima, tuntutan untuk bekerja sesuai dengan usia rata-rata AMM yang tidak mudah diaktualisasikan sesuai keterbatasan lapangan pekerjaan. Keenam, keterpukauan AMM oleh panggung politik sehingga menganggap tidak afdol kalau tidak terjun ke arena politik praktis seperti melalui partai politik.

Di luar masalah internal AMM tadi, dalam hubungan organisatoris maupun personal masih banyak Pimpinan Persyarikatan atau orang Muhammadiyah yang memandang AMM melalui pola pendekatan antargenerasi dan antarangkatan. Pola pendekatan ini memiliki kecenderungan dan implikasi  pemahaman terhadap AMM yang tidak utuh, parsial, dan fragmentaris. Dengan pola pendekatan seperi ini, AMM masih sering dianggap hanya sebagai unsur pelengkap dari organisasi besar Muhammadiyah dalam pola hubungan antara “anak” dan “bapak”.

Tampaknya pola pendekatan dan hubungan yang tidak kondusif tadi ada baiknya diubah dengan menggunakan pola pendekatan ekosferis–meminjam istilah HAR Tilaar. Pendekatan ekosferis merupakan pola yang memandang dunia anak-anak muda sebagai bagian yang dinamis dari wawasan kehidupan manusia dengan mempertimbangkan unsur-unsur lingkungan sebagai keseluruhan, dan unsur tujuan yang menjadi pengarah dinamika dalam lingkungannya itu.

Dengan pendekatan model seperti ini, Muhammadiyah tidak perlu lagi memandang AMM secara fragmentaris dan parsial. Tetapi Muhammadiyah melihat AMM secara utuh sebagai dunia tersendiri, dengan segala unsur dan dinamikannya yang khas sesuai dengan lingkungan dan wawasan kaum muda Muhammadiyah tanpa harus kehilangan nilai-nilai prinsipil Persyarikatan.

Lebih penting dari itu semua, hemat penulis, adalah  upaya kreatif AMM sendiri dalam menentukan sikap dan gerak langkahnya. Misalnya penyelesaian masalah keorganisasian untuk memperkuat artikulasi gerakannya semestinya  lebih ditentukan oleh kemandirian sikap dan keberanian AMM dalam mengambil keputusan dengan menanggung risikonya.

Sikap mandiri dan dinamis tersebut merupakan bagian dari identitas dan karakter kaum muda Muhammadiyah. Karena itu, bila langkah intensifikasi organisasi telah dijalankan dengan sungguh-sungguh, maka strategi gerakan tersebut harus ditindaklanjuti dengan upaya konstruktif AMM untuk membangun sejarahnya sendiri.

Membangun sejarah sendiri berarti AMM membebaskan diri dari  bayang-bayang kebesaran Muhammadiyah dengan segala konsekuensinya; dan memerdekakan diri dari sindroma romantisisme historis tentang kejayaan sejarah milik orang lain. Karenanya, dinamika dan aktivitas AMM harus tetap  berlandaskan pada kultur organisasi kepemudaan dengan semangat idealisme dan kemandiriannya dengan tetap loyal pada prinsip-prinsip Persyarikatan. Dengan keberanian seperti inilah AMM bisa membuat potret barunya, bukan saja agar bisa terlihat lebih cerah dan segar, tetapi juga mencerahkan dan menyegarkan. Bahkan, menjadi AMM yang bergerak dan menggerakkan.

REVITALISASI KADER DAN FORMAT PENGEMBANGAN
Sebagai basis dan wadah kader Muhammadiyah, AMM seharusnya juga bisa menghasilkan kelompok-kelompok elite kader yang bisa diandalkan. Karenanya, keberadaan AMM di samping untuk senantiasa berupaya dalam menjaga eksistensinya, juga mempunyai fungsi dan peran strategis untuk menyuplai kader-kader terbaiknya bagi kepentingan Muhammadiyah. Bahkan keistimewaan (yang berarti juga menjadi beban moral) AMM, sebagai basis kader ternyata tecakup dalam “spektrum kekaderan”: kader Persyarikatan,  kader umat dan kader bangsa.

Spektrum kekaderan AMM tersebut menunjukkan peran dan fungsinya yang multidimensi dan inklusif bagi kepentingan hidup umat dan kejayaan bangsa. Sekaligus dengan  spektrum kekaderan ini AMM membantah tuduhan dari sementara kalangan yang sering menyebutkan bahwa AMM hanya menjadi wadah kader bagi Muhammadiyah saja.

Seiring dengan perubahan dan perkembangan zaman, maka kebutuhan standar kader untuk saat ini dan masa yang akan datang akan berbeda dengan masa yang lalu. Karena itu, untuk selalu menampikan sosok kader yang siap pakai sesuai dengan zamannya, perlu diadakan upaya “revitalisasi kader AMM”. Langkah ini merupakan bagian terpenting dalam membangun format pengembangan sumberdaya kader.

Revitalisasi kader ini merupakan sebuah proses yang berkelanjutan untuk meningkatkan vitalitas, daya juang, dan kualitas kader melalui berbagai macam pelatihan, pendidikan, dan perkaderan yang terarah dan terencana. Melalui revitalisasi kader ini, suplai kader tidak hanya berfungsi bagi pemenuhan kebutuhan internal organisasi saja, tetapi juga peran strategisnya akan terlihat dari kemampuannya dalam merespons dan menyikapi dinamika perkembangan zaman.

Pada sisi lain revitalisasi kader tersebut merupakan unsur terpenting dari upaya manajemen pengembangan sumberdaya kader dan anggota. Dalam sebuah organisasi, manajemen pengembangan sumberdaya kader ini merupakan program pokok yang strategis guna menghasilkan kader-kader yang berkualitas dan siap pakai untuk mendinamiskan gerakan organisasi.

Dalam praktiknya, manajemen pengembangan sumberdaya kader dan anggota ini tidak akan cukup diwujudkan dalam bentuk-bentuk training perkaderan dan pelatihan yang baku saja. Penyatalaksanaan manajemen ini harus sudah dimulai sejak perekrutan anggota dan selama aktif berkecimpung dalam organisasi.

Mutatis mutandis, revitalisasi kader AMM juga harus diterapkan dalam pelbagai bentuk kegiatan, pelatihan, dan institusi-institusi perkaderan baik yang termasuk jenis perkaderan utama maupun fungsional.[7] Satu hal yang perlu digarisbawahi, bahwa upaya revitalisasi kader AMM dengan mengintensifkan berbagai macam perkaderan tadi, jangan sampai hanya bersifat ideology oriented, hanya berorientasi semata untuk menanamkan nilai-nilai ideologis organisasi, tetapi tidak memperhatikan aspek-aspek lainnya yang dinamis dan juga penting.
Harus dipahami bahwa arti penting lain dari revitalisasi kader ini adalah agar supaya kader AMM memiliki link and match, baik ke dalam maupun ke luar. Maksudnya, ada keterkaitan dan keselarasan dengan tuntutan kebutuhan internal Persyarikatan, maupun kemestian bagi AMM untuk menguasai ilmu pengetahuan dan kecakapan agar mampu merespons perubahan sosial yang menyertai dinamika umat dan bangsa dalam percaturan global.

Berkaitan dengan revitalisasi tersebut, maka kualifikasi kader tidak sekedar dipahami pada kentalnya muatan ideologi, nilai identitas, dan teori-teori keorganisasian saja secara pro-forma. Muatan-muatan seperfi ini harus ditindaklanjuti dengan pemahaman kader terhadap realitas empirik di seputarnya secara pro-acsio, yang akan menjadi lahan untuk “membumikan” ideologi dan nilai-nilai identitasnya tadi. Dalam prosesnya, muatan dan pemahaman ini harus bisa sejalan secara dialektis, agar bisa melahirkan bentangan dialog antara nilai idealita dengan dunia realita.

Mengingat arti penting dan fungsi strategis kader dalam sebuah organisasi, maka sedari awal harus sudah digariskan rencana pengelolaan dan penanganan problemnya yang antisipatif dan berwawasan ke depan. Berkaitan dengan revitalisasi kader ini, setidaknya ada dua format pengembangan pilar perkaderan khususnya di kalangan Ortom AMM, yakni: transformasi kader dan diversifikasi kader.

Secara harfiah, transformasi[8] kader adalah pengubahan fungsi dan penggantian peran kader ke tahap yang lebih baik dan semakin berbobot. Sedangkan secara terminologi-konseptual transformasi kader merupakan sebuah proses dan mekanisme perkaderan yang sistematis, terarah, dan terencana untuk melakukan pengalihan fungsi dan peran seorang kader–berdasarkan pada standar kualifikasi, kompetisi, dan kapabilitas kecakapan dalam bidang keahlian khusus–untuk menempati posisi tertentu dalam sebuah organisasi.

Kongkretnya, transformasi kader ini bisa diterapkan antarsesama AMM, melalui promosi dan penokohan kader untuk beralih jenjang ke organisasi yang dipandang lebih sesuai daripada sebelumnya, umpamanya karena faktor umur dan tingkat pendidikan. Misalnya transformasi  kader dari IPM ke IMM, atau ke PM dan ke NA. Ada kecenderungan kalau terlalu lama di salah satu Ortom, apalagi diwarnai dengan ego sektoral, bisa-bisa sang kader itu menghabiskan umurnya di Ortom tersebut dan bersikap sinis terhadap Ortom lain.

Adapun transformasi kader untuk Muhammadiyah, adalah dengan melakukan promosi dan penokohan kader yang sesuai dengan standarisasi dan kebutuhan, dari kalangan AMM untuk menempati pos-pos tertentu dalam Muhammadiyah. Untuk memperlancar mekanisme dan sistem transformasi kader ini, baik di kalangan AMM maupun Muhammadiyah, terlebih dahulu harus melakukan penjajagan dan pemantauan kader-kader potensial secara intensif, misalnya melalui berbagai jenis dan jenjang perkaderan serta penugasan yang terencana.

Format berikutnya adalah diversifikasi[9] kader.  Secara formal-organisatoris, barangkali diversifikasi kader ini sudah terwakili dalam pengategorian AMM untuk kalangan pelajara (IPM),  kalangan mahasiswa (IMM), serta  kalangan pemuda dan pemudi (PM dan NA).

Namun demikian, pengertian dan konsepsi dari diversifikasi kader yang dimaksud menunjukkan sebuah sistem dan mekanisme perkaderan untuk menganekaragamkan dan mengembangkan kualitas kader AMM yang berdasarkan pada bakat, minat profesi keahlian, dan kompetensi masing-masing kader serta untuk merespons dinamika zaman. Diversifikasi ini menjadi  semacam pengelompokan dan pengategorian kader AMM dalam sistem pembinaan dan pengembangan lebih lanjut yang berdasarkan pada bidang-bidang profesi dan disiplin keilmuan yang dikuasainya serta dengan mempertimbangkan potensi dan bakatnya.

Dalam diversifikasi kader ini juga bisa dilakukan pengorbitan dan penyebaran “kader lepas” yang secara struktural keorganisasian tidak terikat formal. “Kader lepas” tersebut diberi kesempatan dan dukungan  untuk mengaktualisasikan dan mengembangkan potensi sumber dayanya di luar Persyarikatan dengan tetap membawa prinsip dan misi Muhammadiyah.

Terkait dengan diversifikasi kader, tampaknya dunia politik, dunia jurnalistik, dan dunia ekonomi serta profesi-profesi keahlian yang mengglobal masih belum diperhatikan oleh AMM dan Muhammadiyah secara serius dan terancang dengan sistemik. Sebagai contoh, kader Muhammadiyah yang terjun ke dunia politik nyaris tidak ada penyiapan, pembekalan dan perkaderannya yang khusus dan matang. Sehingga tidak terbangun jaringan komunikasi politik yang sinergis antara kader-kader politik itu dengan visi dan misi Persyarikatan. Hal ini terjadi baik di tingkat politik lokal maupun nasional.

PENUTUP

Perkadern yang berjalan secara sistemik, mapan dan berkesinambungan,  tidak hanya untuk mendukung dinamika dan penguatan eksistensi organisasi saja, tetapi juga untuk mendorong gerakan dakwah Muhammadiyah dan  peran kebangsaannya yang semakin membutuhkan kualitas sumberdaya kader dan anggota. Pembenahan problem kaderisasi dengan kesungguhan dalam pendanaannya yang tidak sedikit akan berperan besar dalam upaya pengembangan sumberdaya dimaksud.

Melalui penerapan “transformasi kader” dan “diversifikasi kader” diharapkan akan lebih mempercepat proses pengembangan dan peningkatan kualitas kader AMM yang sesuai dengan kompetensi dan kapabilitasnya yang relevan dengan perkembangan zaman. Dengan kedua sistem tersebut, sedikit banyak akan bisa mengatasi problem kaderisasi dan menjadi ajang perkaderan yang kondusif untuk mempercepat “mobilitas vertikal” dan “mobilitas horizontal” kader AMM, baik dalam lingkup kepentingan internal Muhammadiyah maupun untuk merespons dinamika kebangsaan yang tidak bisa lepas dari percaturan globalisasi yang menggurita.[]

[1]Secara leksikal pilar berarti: 1. n. tiang penguat (dr batu, beton, dsb); 2. ki. Dasar (yg pokok); induk. (Lihat: Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989: 683). Dalam konteks topik semiloka ini pilar dimaksud adalah sumber dan sekaligus penopang perkaderan Muhammadiyah.
[2]Secara substantif penulis menawarkan istilah KMM (Kaum Muda Muhammadiyah) karena, hemat penulis,  KMM tidak dibatasi berdasarkan usia atau kesamaan generasi, tetapi lebih pada pemikrian yang segar, semangat kemajuan dan jiwa progresif kendati orangnya sudah termasuk tua. Sedangkan istilah “angkatan” dalam AMM sangat kuat dengan kesan generatif yang dibedakan berdasarkan kategori umur dan periode kesamaan era waktu lahir. Di samping itu juga muncul persepsi di sebagian warga Muhammadiyah atau pihak luar, bahwa AMM adalah nama salah satu Ortom atau bagian dari struktur Muhammadiyah, padahal bukan.
[3]Tentang Organisasi otonom (Ortom) dalam Qa`idah Organisasi Otonom Muhammadiyah (SK PP Muhammadiyah No. 92/KEP/I.O/B/2007) dinyatakan sebagai berikut: BAB  II Pasal 2 Kedudukan Organisasi Otonom  adalah satuan organisasi yang  berkedudukan di bawah Persyarikatan. Pasal 3 Kategori (1) Organisasi Otonom dibedakan dalam dua kategori, yaitu Umum dan Khusus. a. Organisasi Otonom Umum adalah organisasi otonom yang anggotanya belum seluruhnya anggota Muhammadiyah. b. Organisasi Otonom Khusus adalah organisasi otonom yang seluruh anggotanya anggota Muhammadiyah, dan diberi wewenang menyelenggarakan amal usaha yang ditetapkan oleh Pimpinan Muhammadiyah dalam koordinasi Unsur Pembantu Pimpinan yang membidanginya sesuai dengan ketentuan yang berlaku tentang amal usaha tersebut. (2) a. Organisasi Otonom Umum yaitu Hizbul Wathan, Nasyiatul ’Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, dan Tapak Suci Putera Muhammadiyah. b. Organisasi Otonom Khusus yaitu ’Aisyiyah.
[4]Lihat Encarta Dictionary tentang kader (cadre): military military unit: a group of experienced professionals at the core of a military organization who are able to train new recruits and expand the operations of the unit; politics core of activists: a core group of political activists or revolutionaries; core group: a controlling or representative group at the center of an organization; small group of team-spirited people: a tightly knit, highly trained group of people; member of cadre: a member of a cadre. (Microsoft® Encarta® Reference Library 2004. © 1993-2003 Microsoft Corporation. All rights reserved.)
[5]Sebelumnya dalam Sistem Perkaderan Muhammadiyah (SPM) yang lama jenis perkaderan dikelompokan menjadi perkaderan formal, informal dan nonformal. Setelah mengalami revisi—sesuai amanat Muktamar Muhammadiyah ke-45–dalam SPM baru ini jenis perkaderan diganti menjadi perkaderan utama dan perkaderan fungsional (lihat: MPK PP Muhammadiyah. 2007. Sistem Perkaderan Muhammadiyah, hlm. 43-46).
[6]Perkaderan merupakan program  yang terencana, terarah, terus-menerus, dan terangkai dalam satu kesatuan yang terpadu dalam mempersiapkan anggota dan pimpinan sebagai subjek dan pendukung gerak Muhammadiyah untuk mewujudkan tujuannya. (Sistem Perkaderan Muhammadiyah, 2007: 8).
[7] Perkaderan utama adalah kegiatan kaderisasi pokok yang dilaksanakan dalam bentuk pendidikan atau pelatihan untuk menyatukan visi dan pemahaman nilai ideologis serta aksi gerakan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Persyarikatan atau MPK di setiap struktur pimpinan. Perkaderan ini dilaksanakan dengan standar  kurikulum yang baku dan waktu penyelenggaraannya dalam satuan waktu tertentu yang telah ditetapkan. Kegiatan kaderisasi yang dilaksanakan dalam bentuk pendidikan, pelatihan, kursus atau kajian intensif yang terstruktur namun tidak ditetapkan standar kurikulumnya secara baku untuk mencukupi kebutuhan dan fungsi tertentu dari majelis atau lembaga.
Perkaderan fungsional dilaksanakan sebagai pendukung perkaderan utama dan guna pengembangan sumberdaya kader. Kurikulumnya dapat dikembangkan secara fleksibel sesuai jenis pelatihan serta kebutuhan dan kreativitas masing-masing penyelenggara. (Sistem Perkadern Muhammadiyh, 2007: 44-45).
[8]Transformation antara lain diartikan sebagai  complete change: a complete change, usually into something with an improved appearance or usefulness. Microsoft® Encarta® Reference Library 2004. © 1993-2003 Microsoft Corporation. All rights reserved.
[9]Diversification antara lain berarti  provision of variety: the provision or development of greater variety Microsoft® Encarta® Reference Library 2004. © 1993-2003 Microsoft Corporation. All rights reserved.


Oleh: H. Asep Purnama Bahtiar, S.Ag., M.Si
Ketua MPK PP Muhammadiyah

Tauhid Akar Kemunculan Politik Islam

Tauhid menjadi asal muasal dari munculnya sistem politik Islam. Sebab di dalam Tauhid itu, kedudukan manusia semuanya sama. Tidak ada yang lebih unggul atau memiliki kuasa lebih dibanding manusia lainnya. Karena itulah, dalam Tauhid, manusia tidak diperkenankan meminta pertolongan kepada selain Tuhannya. Selain itu, Tauhid juga menjadi suatu kekuatan yang luar biasa untuk membangun keadilan.
Demikan disampaikan Buya Syafi’i Ma’arif saat menjadi pembicara dalam acara Pengajian Ramadhan 1435 bagi pimpinan dan dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang bertemakan “Internalisasi dan Integrasi Al-Qu’an dan Hadits dalam Pengembangan Keilmuan Bagi Dakwah Berkemajuan”. Pengajian Ramadhan ini diselenggarakan di ruang sidang gedung AR. Fakhurddin B lantai 5 Kampus Terpadu UMY, Kamis sore (17/7).
Akan tetapi, menurut Buya, Tauhid yang seharusnya menjadi kekuatan utama dalam sistem politik Islam itu, saat ini sudah tidak lagi diterapkan, baik itu di negara-negara Islam sendiri maupun di negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Hal tersebut menurut Buya disebabkan esensi keberadaan politik Islam yang mulai terpendam oleh debu sejarah. “Tauhid itu adalah suatu kekuatan yang luar biasa dalam politik Islam. Karena dari sana akan bisa menciptakan keadilan bagi seluruh manusia.Tapi sekarang hal itu sudah tidak diterapkan lagi, terutama di negara-negara Islam, karena terpendam oleh debu sejarah. Selain itu, hal lain yang juga menyebabkan tidak diterapkannya lagi Tauhid dalam tubuh politik Islam, itu karena para politikusnya masih berpikir bahwa bergerak di bidang politik itu sebagai ma’isyah atau mata pencaharian,” ungkapnya.
Buya Syafi’i juga mencontohkan salah satu akibat tidak berjalannya politik Islam dengan baik itu dengan peristiwa Gaza, Palestina yang kembali dibombardir oleh Israel sejak 9 Juli 2014 lalu. Negara-negara Arab atau Timur Tengah yang menurut Buya, seharusnya dapat memberikan bantuan lebih pada Palestina, justru belum berkutik. Hal itu menurut Buya disebabkan rasa persaudaraan sebagai sesama umat Islam sudah hancur dan tidak berjalan. “Masalah Palestina, tidak usah berharap lagi pada negara-negara Arab. Karena di sana persaudaraannya sudah hancur dan tidak jalan,” tegasnya.
Padahal, lanjut Buya lagi, dalam politik Islam itu yang terpenting adalah persaudaraan antar umat Islam. Jika persaudaraan antar umat Islam saja sudah terpecah belah karena perbedaan pandangan atau pendapat, terlebih lagi karena perbedaan kepentingan. Maka keadilan untuk semua umat itu juga tidak akan terwujud. “Islam melalui al-Qur’an sudah menjelaskan dan menganjurkan tata cara berpolitik, yaitu salah satunya dengan cara musyawarah. Jika ada perbedaan pandangan atau pendapat harus dimusywarahkan, demi mencapai kesepakatan dan kepentingan bersama, bukan kepentingan golongan. Dan yang terpenting lagi harus berangkat dari sikap egaliter. Kita itu bersaudara, kedudukan kita sebagai manusia itu juga sama, sejajar, tidak ada yang lebih baik atau lebih unggul diantara yang lainnya. Jadi tidak ada lagi perbedaan kedudukan yang membatasi demi mewujudkan keadilan dan kedamaian bagi semua,” paparnya.
Adapun kegiatan pengajian ini berangkat dari keinginan UMY untuk mengembangkan program pembudayaan al-Qur’an melalui kegiatan tahsin, tahfidz, dan tafhim Qur’an. Selain itu juga untuk mencari kesesuaian antara teori keilmuan dengan ayat-ayat al-Qur’an, dan bagaimana agar nilai-nilai ajaran al-Qur’an dapat menjadi “ruh” bagi pengembangan keilmuan itu sendiri.(umy.ac.id/sp)

Sidang Itsbat 27 Juli 2014 Tertutup dan Biaya Lebih Murah

Ada potensi Lebaran sama-sama, hisab dan posisi hilal sudah ada kecocokan.
Pemerintah berencana menggelar sidang itsbat penetapan Idul Fitri pada 27 Juli 2014 sore. Seluruh Kantor Wilayah Kementerian Agama dikerahkan untuk memantau hilal atau bulan baru yang menandai 1 Syawal 1435 Hijriyah.

Sekretaris Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) Muhammadiyah Amin mengatakan, teknisnya hampir sama dengan penyelenggaraan itsbat penetapan puasa.

Menurut Muhammadiyah, penyelenggaraan sidang itsbat tetap akan berlangsung secara tertutup. Ormas Islam juga dilibatkan.

Tak seperti menjelang penetapan awal puasa, pada penetapan Syawal tak ada sarasehan dan biayanya diyakini lebih murah. “Alokasi dana belum pasti, tapi akan lebih murah dari sebelumnya sebesar Rp 152 juta,” kata Muhammadiyah, Selasa (22/7).

Kepala Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Kemenag Zubaidi menambahkan, teknis sidang itsbat secara tertutup membuat suasana menjadi lebih sejuk tanpa mengurangi esensi dari sidang, yakni menetapkan 1 Syawal serta mengumumkannya kepada masyarakat.

Menurut dia, tak semua orang siap mendengarkan pendapat secara bebas dalam mengikuti proses sidang nantinya.

Karena itu, pelaksanaan sidang itsbat dilakukan tertutup. Tentu, tanpa mengabaikan kewajiban pemerintah memberi kepastian kepada masyarakat soal Lebaran. [sp/rol]

Pendiri Bank Syariah Pertama Indonesia Telah Wafat

Jakarta - Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Mantan Ketua Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah Prof Dr M Amin Aziz wafat dalam usia 78 tahun di Jakarta.

Informasi yang diperoleh dari situs LPPOM MUI, Amin wafat pada pukul 03.00 WIB, Rabu (23/7/2014). Alamat rumah duka adalah di Jl Pertengahan, Gang Mawar No. 29, Cijantung, Jaktim.

Amin adalah pendiri Bank Muamalat dan Lembaga Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI). Selain itu, ia juga mendirikan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK).

Amin pernah menjabat sebagai Direktur LPPOM MUI yang pertama (1989 - 1993) dan Komisaris Bank Muamalat Indonesia (1992 - 2004). Ia juga mendirikan Pusat Pengembangan Agribisnis (PPA). [sp/detik]

Pemikiran Kaum Muda Muhammadiyah (JIMM) Diapresiasi Peneliti Asing


KEGIATAN Tadarus Pemikiran Kaum Muda Muhammadiyah hasil kerjasama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) yang berlangsung akhir pekan lalu (17-19/7) mendapat apresiasi khusus dari dua peneliti asing, yaitu Prof Dr Mitsuo Nakamura, profesor emeritus dari Chiba University, Jepang, dan Dr Azhar Ibrahim Alwee, visiting fellow pada Department of Malay Studies, National University of Singapore (NUS).
      Bahkan, karena penasaran dengan acara ini, Azhar sampai merelakan waktunya untuk berkunjung ke Malang agar bisa terlibat aktif sebagai peserta penuh pada kegiatan yang berlangsung selama tiga hari di kampus UMM ini. “Semula saya agak ragu datang ke acara ini, karena saya bukan Muhammadiyah, khawatir dianggap berbeda. Tapi ternyata, para aktivis JIMM ini sangat akrab dan bersahaja, sama sekali tidak tampak keangkuhan intelektual dalam diri mereka,” tuturnya saat ditemui selepas acara.
      Azhar menandaskan, mungkin saja pihak luar memandang bahwa label intelektual yang melekat pada JIMM sebagai kebutuhan akan pengakuan, namun saat datang langsung ke acara ini, hal itu tidak tampak. “Pada diri JIMM, saya melihat intelektualisme sebagai wujud dari tanggung jawab sosial, bukan sebagai jubah narsistik. Mereka tidak ingin menjadi selebriti intelektual,” terangnya.
      Tanggung jawab sosial itu, kata Azhar, tampak jelas pada isu-isu yang diangkat oleh JIMM, yaitu tentang keberpihakan, kemiskinan, serta ketertindasan. “Apapun perspektif yang diangkat oleh aktivis JIMM, dan bagaimanapun model pemikirannya, tujuan utamanya selalu sama, yaitu memihak kaum yang terpinggirkan secara sosial. Bentuk pemihakannya juga tidak bersifat karitatif, misalnya dengan memberi secara material, tapi lebih pada penyadaran, pencerahan dan pemberdayaan,” papar Azhar dengan antusias.
     Bagi Azhar, gerakan intelektual semacam ini biasanya muncul di luar kampus, semisal di lembaga swadaya masyarakat (LSM) ataupun komunitas intelektual yang berserakan. Menurutnya, kampus lebih menyukai kemapanan dan rutinitas akademik. “Karena itu, menarik sekali karena kegiatan ini diprakarsai oleh kampus, apalagi kampus Muhammadiyah. Semoga saja hal ini akan diikuti oleh kampus-kampus yang lain,” ujarnya.
     Jika diberi dukungan yang memadai, kata Azhar, sepuluh tahun ke depan JIMM akan bisa berkiprah secara signifikan. Apalagi, menurutnya, Muhammadiyah telah memiliki klaim sejarah yang besar, yang tampak pada pengaruh pemikiran yang ditampilkan. “Islam modernis di Asia Tenggara ini embrionya adalah reformis dari Muhammadiyah. Kaum muda di tempat saya itu (Singapura, red) hasilnya dari Muhammadiyah,” kata penulis buku Moral Vision and Social Critique ini.
      Sementara itu peneliti asal Jepang Mitsuo Nakamura memberi ucapan selamat pada UMM dan JIMM karena telah memberi ruang bagi para pemikir muda Muhammadiyah untuk membangun gerakan intelektual yang kritis. Melalui korespondensi email dengan ketua panitia Tadarus Pemikiran Pradana Boy ZTF, Nakamura menulis, “Let me congratulate you for initiating a gathering of young scholars-activists in and around Muhammadiyah at UMM. Semoga sukses dan selamat berpuasa! Salam hangat, Mitsuo Nakamura.” 
     Kegiatan Tadarus Pemikiran ini melanjutkan tradisi UMM untuk serius menggali pemikiran-pemikiran baru tentang Islam dan Muhammadiyah, terutama di kalangan muda. Beberapa kegiatan serupa pernah digelar di UMM, di antaranya Tadarus Pemikiran tahun 2004, Kolokium Nasional tahun 2008, Muhammadiyah Update tahun 2010, serta Konferensi Internasional Peneliti Muhammadiyah tahun 2012. (umm.ac.id/sp)

MEDIA

KIRIM ARTIKEL
 
Copyright © 2013. Sang Pencerah - All Rights Reserved
Team Website Sang Pencerah