Tulisan Terkini >>

Muhammadiyah Cari Kader Dakwah Lewat Lomba Pidato

Solo – Tahun ini Muhammadiyah telah menginjak usia 105 tahun miladiyah. Belasan pelajar SMA/SMK berlomba pidato dalam rangka Milad Muhammadiyah ke 105, di Balai Muhammadiyah Solo, Selasa (21/10). “Pesertanya pelajar SMA/SMK Muhammadiyah se-Kota Solo,” ungkap Ghofar Ismail, panitia Lomba Pidato Milad Muhammadiyah 105 di sela-sela lomba.

Lomba yang diikuti 16 peserta, menurut Ghofar, menggunakan kriteria penilaian, antara lain penguasaan materi, kaedah dan gaya bahasa, vokal dan aksentuasi, penampilan dan kepribadian, dan sebagainya.

Untuk tema, peserta bisa memilih dari empat tema yang disiapkan, antara lain, Birul walidyin, Generasi Muhammadiyah Menyongsong Masa depan, dan sebagainya.

“Target kami, ke depan bisa menjadi kader-kader Muhammadiyah yang handal, terutama di bidang dakwah,” jelasnya. [sp/timlo]


 

Inilah Keputusan Bahtsul Masa'il NU terkait Pemimpin Non-Muslim

KEPUTUSAN BAHTSUL MASA'IL AL-DINIYAH AL-WAQI'IYYAH 
MUKTAMAR XXX NU 

DI PP. LIRBOYO KEDIRI JAWA TIMUR

TANGGAL 21 s/d 27 NOPEMBER 1999

A. Pertanyaan
   Bagaimana hukum orang Islam menguasakan urusan kenegaraan kepada orang non Islam?

B. Jawaban
   Orang Islam tidak boleh menguasakan urusan kenegaraan kepada orang non Islam kecuali dalam keadaan darurat, yaitu:
a. Dalam bidang-bidang yang tidak bisa ditangani sendiri oleh orang Islam secara langsung atau tidak langsung karena faktor kemampuan.
b. Dalam bidang-bidang yang ada orang Islam berkemampuan untuk menangani, tetapi terdapat indikasi kuat bahwa yang bersangkutan khianat.
c. Sepanjang penguasaan urusan kenegaraan kepada non Islam itu nyata membawa manfaat.
   Catatan: Orang non Islam yang dimaksud berasal dari kalangan ahl al-dzimmah dan harus ada mekanisme kontrol yang efektif.

C. Dasar Pengambilan Hukum
1. Al-Quran Al-Karim

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

"dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman." (QS: An-Nisaa Ayat: 141)

2. Tuhfah al-Muhtaj dan Hawasyi al-Syarwani, Juz IX, h. 72
ولا يستعان عليهم  بكافر ) ذمي أو غيره إلا إن اضطررنا لذلك
قول المتن: ولا يستعان إلخ) أي يحرم ذلك اه. سم, عبارة المغني والنهاية: (تنبيه) ظاهر كلامهم أن ذلك لا يجوز ولو دعت الضرورة إليه لكنه في التتمة صرح بجواز الاستعانة به أي الكافر عند الضرورة

3. Hawasyi al-Syarwani, Juz IX, h. 73

نعم ان قتضت المصلحة توليته في شىء لا يقوم به غيره من المسلمين او ظهر من المسلمين خيانة و امنت في ذمي فلا يبعد جواز توليته لضرورة القيام بمصلحة ما ولى فيه، و مع ذلك يجب على من ينصبه مراقبته و منعه من التعرض لاحد من المسلمين

4. Kanz al-Raghibin dan Hasyiyah al-Qulyubi, Jilid IV, h. 156
ولا يستعان عليهم بكافر) لأنه يحرم تسليطه على المسلمين
قوله: ولا يستعان) فيحرم إلا لضرورة

5. Al-Ahkam al-Sulthaniyah, hal. 22

والوزارة على ضربين وزارة تـفويض ووزارة تـنـفيذ. اما وزارةالتـفويض فهى ان يستوزر الإسلام من يفوض اليه تدبـير الأمور برأيه وإمـضاء ها على اجتـهاده

6. Al-Ahkam al-Sulthaniyah, hal. 23

واما وزارة التـنـفيـذ فحكمها اضعـف وشروطها اقل لأن النـظر فيها مقـصور على رأي الإمام وتـدبـيره   

Kenangan Bersama Muhammadiyah Tempoe Dulu

Oleh: M. Rizki
Wartawan, penggiat Jejak Islam Bangsa (JIB)

Kuda-kuda berseliweran di jalanan. Kereta api, masuk dengan perlahan, asapnya mengepul. Sepeda-sepeda tertambat. Alun-alun begitu hidup. Keraton dan Mesjid Gede ramai dikerubuti orang-orang yang berdatangan. Tahun itu, 1941, hampir 30 tahun sudah, Muhammadiyah muncul. Sekolah-sekolah bermunculan bak jamur. Tenaga persiapan melawan penjajah siap sedia. Surau-surau hidup. Setiap sekolah mengkaji ayat, mengeja lafal kalam suci.

Gedung Sekolah Kweek School Muhammadiyah di Yogyakarta itu penuh sesak. Kongres ke-30 Muhammadiyah resmi digelar. Berdatangan dari jauh, seluruh Indonesia perwakilan pimpinan Muhammadiyah tiap kota, tiap daerah. Beragam suku, beragam bahasa, memimpikan Indonesia merdeka, dengan rahmat Allah.

Di sana, pertama kali sekali aku bertemu dengan Mr. kasman Singodimedjo, seorang yang namanya sedang naik daun karena baru saja keluar dari tahanan Belanda.

Mr. Kasman, Sarjana Hukum, seorang yang dulu pernah memimpin JIB (Jong Islamieten Bond), bisa dibilang organisasi pertama pergerakan Islam di Indonesia khusus pemuda, didikan Pak Salim. Mr. Kasman, beliau saat itu menjabat sebagai Pimpinan Konsul Muhammadiyah ‘Batavia’, sedangkan aku sendiri yang lebih muda delapan tahun dari beliau, diamanahi Pimpinan Consul Wilayah Sumatera Timur, Medan.

Mr. Kasman, adalah seorang yang terhormat, mendapat gelar Meester in de Rechten, Sarjana Hukum. Jarang saat itu orang bergelar Mr. pada Muhammadiyah. Rasa kekeluargaan begitu terasa, apalagi ada rasa bangga pada diri kami karena ada anggota Muhammadiyah yang ditangkap Belanda. Saat itu pula, pemimpin-pemimpin Muhammadiyah berdatangan seperti KH Mas Mansyur, ketua Pengurus Besar, Haji Abdullah darri Makasar, Tom Oli dari Gorontalo, Citrosuwarno dari Pekalongan, dan lainnya sangat banyak.

Yang membuat saya gembira juga, saat Mr. kasman yang terhormat itu saya kira tak ingin berkenalan cepat dengan saya, tapi nyatanya beliau menjabat tangan saya, dan saya merasa dia sangat santun dan menghormati sekitarnya. Pun setelah rapat-rapat, kami semua tinggal di Pondok sederhana. Tidak ada keistimewaan bagi Kiayi, atau ketua pengurus, atau orang yang bergelar Misteer sekalipun.

Pondok itu, sebuah ruang kelas besar. Saat malam semakin gelap, setelah rapat, kami semua masuk bersama ke Pondok. Satu hal yang tak akan dilupakan selama hidup, keistimewaan kita pada zaman penjajahan disbanding zaman kemerdekaan ini ialah persaudaraan yang mendalam antara kita. Semua sama, kami tidur bersama.

Suasana ini mengingatkan seperti dalam dek kapal. Tidur menumpuk semua di sana. Begitu sederhananya saat itu. Kadang, malah kita semua tidur siang di sana, karena malamnya harus berapat, bersiap, kelak Indonesia merdeka. Bertumpuk sudah, satu bantal berdua beralas tikar. Kadang saling tindih, kepala, kaki, menyebar dimana-mana.

“Berat saudara…berat…” Lalu diangkatnya kaki yang telah terletak di atas dadanya karena badannya kecil. Yang mengangkat kaki karena keberatan memikul itu ialah Wakil majelis Pemuda (WMP) Muhammadiyah dari Purwokerto, Sudirman namanya. Sedangkan kaki yang tertenggek di atas dada kawan karena sedap tidurnya ialah kaki Mr. Kasman Singodimedjo.

Baru lima tahun belakangan , kita melihat Qadla dan Qadar Allah bahwa Pemuda yang berat memikul kaki itu ialah Panglima Besar TNI yang pertama di Indonesia Jenderal Soedriman, sedangkan yang kakinya terletak di dada orang itu adalah Jaksa Agung yang pertama di Republik Indonesia dan turut menghadiri Zaman Proklamasi 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 (H), Mr. Kasman Singodimedjo.

Mr Kasman, kelak didaulat juga sebagai Ketua KNIP (Komite Nasional Indonesai Pusat) pertama (sebelum ada DPR), anggota tambahan PPKI, juga anggota Majelis Konstituante. Dua orang ini, bersama Muhammadiyah, hingga akhir hayatnya. Kini, tak terhitung lagi jumlah sekolah Muhammadiyah yang mencetak orang=orang besar seperti mereka. Mulai dengan pendidikan, Indonesia bisa merdeka, juga dengan pendidikan, generasi selanjtunya seharusnya bisa mengisi kemerdekaan. [sp/islampos]


Soekarwo : Berharap Muhammadiyah Dirikan Lebih Banyak SMK

Surabaya- Pendidikan merupakan salah satu fokus perhatian Muhammadiyah. Hal ini yang membuat Gubernur Jawa Timur (Jatim) Soekarwo mendukung Muhammadiyah mendirikan lebih banyak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jatim. Soekarwo berjanji akan mempercepat perizinan, penyediaan perlengkapan sekolah, hingga pelatihan tenaga pendidik.
 
Hal itu tidak lepas dari upaya Jatim mencetak lebih banyak lulusan SMK. 
"Pada kurun waktu 2014-2019, diharapkan rasio SMK 70 persen dan 30 persen SMA. Untuk mempercepat kita akan buat SMK mini yang mempunyai sembilan jurusan yang nantinya mempunyai keterampilan dan sertifikasi," ujar Soekarwo ketika menghadiri undangan di kantor Pimpinan Muhammadiyah Wilayah (PWM) Jatim di Surabaya, Ahad (19/10).

Meski begitu, Soekarwo menekankan, tenaga kerja lulusan SMK harus mempunyai standardisasi yang mumpuni. Dia menggambarkan, Australia pernah meminta tenaga kerja ke Indonesia sejumlah 150 ribu orang, namun tidak dapat dipenuhi karena peralatan dan pelatihan yang digunakan sudah kuno. 

Soekarwo menambahkan, beberapa waktu lalu, atase Jerman sekaligus alumni ITS juga pernah menawarkan standardisasi keterampilan lulusan SMK. Hal tersebut, menurut dia, karena Jerman tengah membutuhkan 6 juta tenaga kerja hingga 2025 mendatang. Menurut Soekarwo, Jatim salah satu yang diberikan kesempatan untuk mengisi pos tersebut.

“Satu langkah maju banyak tenaga ahli yang bersedia memberikan pelatihan bagi calon tenaga terampil kita. Saya juga telah meminta pemerintah pusat untuk membentuk asosiasi standardisasi nasional menjadi satu. Karena dalam peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan adalah langkah utama tidak bisa menyeluruh,” kata dia.

Namun demikian, pendirian SMK Muhammadiyah dirasa akan menghadapi banyak tantangan. Seperti yang dikeluhkan pengurus Muhamadiyah Bangkalan yang terkendala biaya pembangunan mesikipun lahan sudah tersedia. 

Begitu juga di Kabupaten Ngawi, di mana pengurus Muhammadiyah mengalami hambatan pengurusan sertifikat tanah wakaf.

“Nanti akan kita bantu untuk peralatan dan perlengkapan SMK. Kalau persoalan sertifikasi saya akan membantu karena sudah kewajiban pemerintah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Soekarwo.

Sementara itu Sekretaris PWM Jatim M Najib menyampaikan terima kasih kepada Gubernur atas dukungan terhadap niat Muhammadiyah mendirikan SMK. Najib menginformasikan, saat ini terdapat 942 lembaga pendidikan Muhammadiyah, yang terdiri dari  339 SD, 5 SLB dan 133 MI. 

Selain itu, ada 86 SMP, 179 Mts, 3 SMPLB, 84 SMA, 78 SMK, 34 MA, 1 SMALB, serta 24 perguruan tinggi. RIncian itu belum termasuk 1.732 lembaga pendidikan prasekolah yang dikelola lembaga sayap perempuan Muhammadiyah, Aisyiyah, yang memiliki 909 TK, 449 KB dan 374 PAUD. [sp/rol]


Belum Ada Sejarah Ketum Muhammadiyah Jadi Menteri

Susunan Menteri Hingga sore ini belum diumumkan. Belum ada sejarahnya Ketua Umum Muhammadiyah dipilih atau ditunjuk menjadi menteri oleh Presiden. Seperti itulah yang disampaikan oleh Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsuddin. 

Pasalnya, selama ini yang kerap ditunjuk sebagai menteri justru adalah Wakil Ketua Umum Muhammadiyah.

"Misalnya seperti Malik Fajar dan Bambang Soedibyo, keduanya merupakan Wakil Ketua Muhammaddiyah," katanya, di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (17/10/2014).

Din Syamsuddin yang juga Ketum Majelis Ulama Indonesia itu menambahkan, antene Muhammadiyah untuk terkait menteri, tidak sama seperti yang lain dan jangan samakan juga dengan partai politik.

"Maka itu Muhammadiyah tidak akan mengemis untuk kekuasaan dan tidak akan meminta juga (jatah menteri)," ujarnya.

Seperti diketahui Malik Fajar dan Bambang Soedibyo adalah Wakil Ketua Muhammadiyah dan keduanya pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan. [sp/inilah]

 

Muhammadiyah: Semoga Jokowi-JK Amanah dan Jujur

Salah satu Ketua PP Muhammadiyah, Yunahar Ilyas mengatakan agar Presiden dan Wakil Presiden Jokowi-JK mampu menjalankan amanah dengan baik dan jujur. Ia menjelaskan, program kesejahteraan rakyat menjadi hal yang penting untuk diprioritaskan pemerintah saat ini.

"Pertama kita ucapkan selamat kepada Jokowi-JK sudah dilantik sebagai presiden dan wakil presiden. Harapannya semoga amanah, jujur dan dapat mewujudkan apa yang jadi dambaan rakyat. Bagi rakyat tidak terlalu penting bentuk demokrasi yg terpenting tercapai kesejahteraannya.," ujar Yunahar Ilyas  saat dihubungi Republika, Senin (20/10).

Ia menambahkan, yang didambakan rakyat Indonesia yaitu pemimpin yang jujur. Sehingga jika seorang pemimpin jujur maka banyak hal yang bisa dikerjakan. Ia juga mengatakan, Indonesia sebagai negara muslim terbesar harus mampu mempertahankan iklim agama yang kondusif, damai dan secara aktif meningkatkan kualitas keagamaan.

Beliau juga beharap agar pemerintahan saat ini mampu mendorong bangkitnya ekonomi atau pemberdayaan ekonomi umat. Salah satunya dengan ekonomi syariah. [sp/rol]


Fatwa MUI : Hukum Doa Bersama Lintas Agama


FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA

Nomor:  3/MUNAS VII/MUI/7/2005

Tentang

DO’A BERSAMA

Majelis   Ulama   Indonesia   (MUI),   dalam   Musyawarah   Nasional   MUI
VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426 H. / 26-29 Juli 2005 M., setelah :

MENIMBANG  :
a. bahwa  dalam  acara-acara  resmi  kemasyarakatan maupun kenegaraan terkadang dilakukan do’a oleh umat Islam Indonesia dalam bentuk do’a bersama dengan penganut agama lain pada satu tempat yang sama;

b. bahwa hal tersebut telah menimbulkan pertanyaan di kalangan umat Islam tentang hukum do’a bersama menurut hukum Islam;

c. bahwa oleh karena itu, MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang do’a bersama tersebut untuk dijadikan pedoman oleh umat Islam.

MENGINGAT :
1. Firman Allah swt, antara lain:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

Atau siapakah yang memperkenankan (do`a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).(QS. al-Naml [27]: 62).

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.(QS. al-Ma’idah [5]: 73).

وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

…Dan do`a orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. (QS. Ghafir [40]: 50).

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya) (QS. al-Furqan 25]: 68).   

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (QS. al-Baqarah [2]: 42)

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ، وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ، وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ، وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ، لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِين6

Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyem-bah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukku-lah, agamaku”. (QS. al-Kafirun [109] : 1-6).

2. Hadis Nabi s.a.w.:

الدُّعَاءُ مُخُّ العِبَادَةِ

“Do’a adalah otak (inti) ibadah.” (HR. Tirmizi).

3.  Qa’idah fiqh:

الْأَصْل فِي الْعِبَادَةِ التَّوَقُّفُ وَالِاتِّبَاعِ

“Hukum asal dalam masalah ibadah adalah tauqifdan ittiba’(mengikuti petunjuk dan contoh dari Nabi).”

MEMPERHATIKAN : 1.  Pendapat para ulama (lihat, a.l.: Hasyiyatul Jamal Fathul Wahhab,juz V, h. 226; Hasyiyatul Jamal, juz II, h. 119; Mughnil Muhtaj,juz I, h. 323; dan al-Majmu’, juzV, h. 72 dan 66):

وَلَا يَخْتَلِطُونَ) أَهْلُ الذِّمَّةِ وَلَا غَيْرُهُمْ مِنْ سَائِرِ الْكُفَّارِ (بِنَا) فِي مُصَلَّانَا وَلَا عِنْدَ الْخُرُوجِ أَيْ يُكْرَهُ ذَلِكَ، بَلْ يَتَمَيَّزُونَ عَنَّا فِي مَكَان لِأَنَّهُمْ أَعْدَاءُ اللَّهِ تَعَالَى إذْ قَدْ يَحِلُّ بِهِمْ عَذَابٌ بِكُفْرِهِمْ فَيُصِيبُنَا. قَالَ تَعَالَى: {وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً} [الأنفال: 25] وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُؤَمَّنَ عَلَى دُعَائِهِمْ كَمَا قَالَ الرُّويَانِيُّ؛ لِأَنَّ دُعَاءَ الْكَافِرِ غَيْرُ مَقْبُولٍ، وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ قَدْ يُسْتَجَابُ لَهُمْ كَمَا اُسْتُجِيبَ دُعَاءُ إبْلِيسَ بِالْإِنْظَار (مغنى المحتاج

Kaum zimmidan orang kafir lainnya tidak boleh bercampur dengan kita, baik di dalam tempat salat kita maupun ketika keluar (dari kampung, tempat tinggal); dalam arti hal itu hukumnya makruh. Mereka di tempat terpisah dari kita, karena mereka adalah musuh Allah. Boleh jadi akan ada azab menimpa mereka disebabkan kekufuran mereka, dan azab tersebut dapat menimpa kita juga. Allah berfirman: “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu…” (QS. al-Anfal [8]: 25). Tidak boleh pula mengamini do’a mereka --sebagaimana dikemukakan oleh Imam Rauyani-- karena do’a orang kafir tidak diterima (dikabulkan). Sebagian ulama berpendapat, do’a mereka boleh jadi dikabulkan sebagaimana telah dikabulkan do’a iblis yang minta agar ditangguhkan.

2.  Rapat Komisi Fatwa MUI pada Sabtu, 13 Ramadhan 1421/9 Desember 2000.

3.  Pendapat Sidang Komisi CBidang Fatwa pada Munas VII MUI 2005.

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT
MEMUTUSKAN

MENETAPKAN :  FATWA TENTANG DO’A BERSAMA
Pertama : Ketentuan Umum
Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan :

1.  Do’a Bersamaadalah berdo’a yang dilakukan secara bersama-sama antara umat Islam dengan umat non-Islam dalam acara-acara resmi kenegaraan maupun kemasyarakatan pada waktu dan tempat yang sama, baik dilakukan dalam bentuk satu atau beberapa orang berdo’a sedang yang lain mengamini maupun dalam bentuk setiap orang berdo’a menurut agama masing-masing secara bersama-sama.

2.  Mengamini orang yang berdo’a termasuk do’a.

Kedua : Ketentuan Hukum

1.  Do’a bersama yang dilakukan oleh orang Islam dan non-muslim tidak dikenal dalam Islam. Oleh karenanya, termasuk bid’ah.

2.  Do’a Bersama dalam bentuk “Setiap pemuka agama berdo’a secara bergiliran” maka orang Islam HARAM mengikuti dan mengamini do’a yang dipimpin oleh non-muslim.

3.  Do’a Bersamadalam bentuk “Muslim dan non-muslim berdo’a secara serentak” (misalnya mereka membaca teks do’a bersama-sama) hukumnya HARAM.

4.  Do’a Bersama dalam bentuk “Seorang non-Islam memimpin do’a” maka orang Islam HARAM mengikuti dan mengamininya.

5.  Do’a Bersama dalam bentuk “Seorang tokoh Islam memimpin do’a” hukumnya MUBAH.

6.  Do’a dalam bentuk “Setiap orang berdo’a menurut agama masing-masing” hukumnya MUBAH.


Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 21 Jumadil Akhir 1426 H.
28 J u l i 2005 M


MUSYAWARAH NASIONAL VII
MAJELIS ULAMA INDONESIA
Pimpinan Sidang Komisi C Bidang Fatwa
Ketua
ttd
K.H. Ma’ruf Amin
Sekretaris
ttd
Drs. H. Hasanuddin, M.Ag


PENJELASAN ATAS FATWA DO’A BERSAMA

     Bagi umat Islam, Do’a Bersama bukan merupakan sesuatu yang baru. Sejak belasan abad, bahkan sejak agama Islam disampaikan oleh Nabi Muhammad s.a.w., hingga sekarang, mereka sudah terbiasa melakukannya, baik dilakukan setelah salat berama’ah maupun pada event-event tertentu.

     Do’a adalah suatu bentuk kegiatan berupa permohonan manusia kepada Allah SWT semata (lihat antara lain QS. al-Naml [27]: 62). Dalam sejumlah ayat al-Qur’an (lihat antara lain QS. al-Mu’min [40]: 60) Allah memerintahkan agar berdo’a. Oleh karena itu, kedudukan do’a dalam ajaran Islam adalah ibadah. Bahkan Nabi s.a.w. menyebutnya sebagai otak atau intisari ibadah (mukhkh al-‘ibadah). Sebagai sebuah ibadah, pelaksanaan do’a wajib mengikuti ketentuan atau aturan yang telah digariskan oleh ajaran Islam. Di antara ketentuan paling penting dalam berdo’a adalah bahwa do’a hanya dipanjatkan kepada Allah SWT semata. Dengan demikian, di dalam do’a sebenarnya terkandung juga unsur aqidah, yakni hal yang paling fundamental dalam agama (ushul al-din).

     Di Indonesia akhir-akhir ini, dalam acara-acara resmi kemasyarakatan maupun kenegaraan umat Islam terkadang melakukan do’a bersama dengan penganut agama lain pada satu tempat yang sama. Do’a dengan bentuk seperti itulah yang dimaksud dengan Do’a Bersama. Sedangkan do’a yang dilakukan hanya oleh umat Islam sebagaimana disinggung di atas tidak masuk dalam pengertian ini. Do’a Bersama tersebut telah menimbulkan sejumlah pertanyaan di kalangan umat Islam, terutama tentang status hukumnya. Atas dasar itu, Majelis Ulama Indonesia dalam Musyawarah Nasional VII tahun 2005 telah menetapkan fatwa tentang Do’a Bersama.

     Bagi sejumlah kalangan, Fatwa tersebut telah cukup dapat menjawab persoalan; akan tetapi bagi sebagian kalangan lain, Fatwa itu masih mengandung persoalan sehingga penjelasan lebih lanjut masih tetap diperlukan.

Berikut adalah Fatwa dimaksud serta penjelasannya.

A.  Bentuk-bentuk Do’a Bersama
1.   Satu orang berdo’a (memanjatkan do’a) sedang yang lain mengamininya (megucapkan AMIN).
2.  Beberapa orang berdo’a sedang yang lain mengamininya.
3.  Setiap orang berdo’a menurut agama masing-masing secara bersama-sama.
4.  Mengamini (megucapkan AMIN kepada) orang yang berdo’a. Hal itu karena arti AMIN adalah istajib du’a`ana(perkenankan atau kabulkan do’a kami, ya Allah).

B.  Bentuk-bentuk Do’a Bersama yang HARAM

1.  Setiap pemuka agama berdo’a secara bergiliran.
Dalam bentuk ini orang Islam HARAM mengikuti dan mengamini do’a yang dipimpin oleh non-muslim.

a.  Mengapa haram mengamini do’a non-muslim? Karena, sebagaimana telah dijelaskan, “mengamini” sama dengan berdo’a; dan ketika yang berdo’a adalah non-muslim, maka orang Islam yang mengamini tersebut berarti ia berdo’a kepada tuhan yang kepadanya non-muslim berdo’a. Padahal konsep dan aqidah mereka tentang tuhan, menurut al-Qur’an, berbeda dengan aqidah orang Islam (lihat antara lain QS. al-Ma’idah [5]: 73).
Dengan demikian, orang Islam yang megamini do’a yang dipanjatkan oleh non-muslim dapat dikategorikan kafir atau musyrik.

b.  Orang Islam yang karena alasan tertentu harus mengikuti do’a bersama, maka ketika non-muslim memanjatkan do’a, ia wajib diam dalam arti haram mengamininya.

2.  Muslim dan non-muslim berdo’a secara serentak (misalnya mereka membaca teks do’a bersama-sama).
Do’a Bersama dalam bentuk ini hukumnya HARAM. Artinya, orang Islam tidak boleh melakukannya. Sebab do’a seperti itu dipandang telah mencampuradukkan antara ibadah (dalam hal do’a) yang haq (sah, benar) dengan ibadah yang bathil (batal); dan hal ini dilarang oleh agama (lihat antara lain QS. al-Baqarah [2]: 42).
Do’a Bersama dalam bentuk kedua ini pun sangat berpotensi mengancam aqidah orang Islam yang awam. Cepat atau lambat, mereka akan menisbikan status do’a yang dalam ajaran Islam merupakan ibadah, serta dapat pula menimbulkan anggapan bagi mereka bahwa aqidah ketuhanan non-muslim sama dengan aqidah ketuhanan orang Islam. Di sini berlakulah kaidah;“sadd al-zari’ah”dan “daf’u al-dharar”.

3.  Seorang non-Islam memimpin do’a.
Dalam Do’a Bersama bentuk ketiga ini orang Islam HARAM mengikuti dan mengamininya; dengan alasan sebagaimana pada bentuk pertama.

C.  Bentuk-bentuk Do’a Bersama yang MUBAH
(Dibolehkan)
1.  Seorang tokoh Islam memimpin do’a.
2.  Setiap orang berdo’a menurut agama masing-masing.

D.  Penutup

1.  Do’a Bersama sebagaimana dimaksudkan dalam fatwa pada dasarnya tidak dikenal dalam Islam; dan karenanya termasuk bid’ah (bagian kedua angka 1). Akan tetapi, tidak berarti semua bentuk Do’a Bersama hukumnya haram. Mengenai status hukumnya dijelaskan pada angka 2 s-d 6).

2.  Ada tiga bentuk Do’a Bersama yang bagi orang Islam haram melakukannya. Dua bentuk (lihat Bangka 1 dan 3) disebabkan orang Islam mengamini do’a non-muslim, dan satu bentuk (lihat Bangka 2) disebabkan mencam-puradukkan ibadah
dan aqidah dengan ibadah Islam dan aqidah non-muslim.

3.  Ada dua bentuk Do’a Bersama yang hukumnya mubah(boleh dilakukan) oleh umat Islam (lihat C) hal ini karena yang berdo’a adalah orang Islam sendiri dan tidak mengamini do’a non muslim.

4.  Larangan Do’a Bersama dalam tiga bentuk di atas (huruf B) tidak dapat dipandang sebagai pemberangusan terhadap kebebasan untuk menjalankan ibadah menurut keyakinan masing-masing, melainkan untuk melindungi kemurnian aqidah dan ibadah umat Islam, serta merupakan penghormatan terhadap keyakinan setiap pemeluk agama.

5.  Menghadiri Do’a Bersama yang dipimpin oleh non-muslim tidak diharamkan dengan syarat tidak mengamininya. Namun demikian, sebaiknya orang Islam tidak menghadirinya. Jika terpaksa harus menghadirinya, ia wajib bersikap pasif (berdiam diri, tidak mengamini) ketika non-muslim berdo’a.

6.  Maksud kata “Mengikuti” dalam Fatwa, bagian kedua, angka 2 dan 4 adalah mengikuti do’a yang dipimpin oleh non-muslim yang disertai mengamininya atau mengikuti gerakan-gerakan dan tata cara berdo’a yang dilakukan oleh non-muslim walaupun tanpa disertai mengamininya. Oleh karena itu, bagi orang muslim mengikuti do’a non-muslim haram hukumnya, karena hal itu sama dengan mengikuti gerakan atau tata cara beribadah yang dilakukan oleh non-muslim. Sedangkan menghadiri semata do’a non-muslim, tanpa mengikuti gerakan-gerakan dan tata caranya dan tanpa mengamininya, tidak diharamkan sebagaimana dijelaskan pada angka 5 di atas.


Sumber : Situs Resmi MUI
 
 
 

Sekarang Ada Gerakan No Hijab Day di Twitter


Jakarta- Islam sering dituduh miring, dari kekerasan, pelanggar HAM. Hal ini dimunculkan untuk memberi kesan bahwa Islam membatasi HAM. Gerakan Islamofobia semakin marak di media sosial. Setelah komunitas anti-Islam muncul dengan provokasinya untuk melawan Islam, kini di twitter, hadir gerakan "No Hijab Day".

Gerakan ini memprovokasi agar setiap Muslimah berjilbab melepas hijabnya dalam satu hari, yakni pada 11 Oktober 2014 lalu. Gerakan tersebut juga mengunggah foto berjudul No Hijab Day. Dalam keterangannya, gerakan tersebut mengungkapkan pernyataan sebagai berikut.

"Dalam solidaritas terhadap perempuan Muslim yang dipaksa mengenakan jilbab atau dikatakan, Allah akan menghukum mereka karena tidak menggunakan jilbab. Semua pria dan wanita, Muslim dan non-Muslim, diundang untuk tidak menggunakan jilbab untuk sehari".

Gerakan ini pun mendapat banyak kecaman. Akun twitter beridentitas Hannah Hafiz menjelaskan, apa yang salah dengan menggunakan hijab sehingga No Hijab Day kemudian dibuat? [sp/mcc/rol]

Mushala Ini Bisa Digunakan Untuk Ibadah Semua Agama

Mushala, seperti yang kita ketahui adalah tempat ibadah umat muslim dalam bentuk ukuran kecil. Di Singapura, tepatnya di Bandara Changi, mushala juga dapat digunakan untuk beribadah bagi semua umat beragama.

Changi, Sebuah Bandara keren dan megah di Singapura. Bandara Internasional yang termasuk sebagai Bandara Terbaik di dunia ini benar-benar bersih, tertata dan sangat berbeda dengan kebanyakan bandara yang ada di negara kami.

Sambil menunggu pesawat yang akan membawa kami melanjutkan perjalanan, Kami menyempatkan untuk melaksanakan ibadah. Tidak sulit untuk mencari tempat ibadah. Walau Singapura bukanlah negara dengan mayoritas Muslim, kita ternyata dapat menemukan Mushala di Bandara Changi.



Mushala di Bandara Changi ini terbilang unik. Keunikannya bukan dari sisi estetika bangunannya, melainkan fungsi dari ruang musala. Mushala ini tidak hanya digunakan untuk ibadah umat Muslim, namun umat agama lain juga dapat memanjatkan doa dan beribadah di dalamnya. Ini tertulis dari papan di depan musala yang menyebutkan "Multi Religion Prayer Room".

Menemukan mushala ini tidak sulit, Jika Anda berada di ruangan tunggu sebelum take off, musala ini ada di dekatnya. Ada petunjuk lokasi ke mushala.(dttrvl/sp)


KIH ( Koalisi Indonesia Berkah )

Koalisi itu pada prinsipnya adalah kerja sama beberapa unsur politik yang memiliki tujuan sama. Koalisi politik boleh saja bersifat sementara, karena perbedaan kepentingan unsur-unsurnya. Sementara Indonesia berkah, dalam arti bangsa yang memiliki kebaikan melimpah (al-khair al-katsir) adalah tujuan bersama negara ini sepanjang sejarahnya.  


Oleh karena itu, tujuan menjadi Indonesia berkah itu tidak sementara. Pun, menuju Indonesia berkah tidak hanya menjadi tugas aliansi politik.  Koalisi Indonesia berkah menjadi tugas tiap kelompok orang, bahkan setiap warganegara.


Benang merahnya, karakter koalisi Indonesia berkah itu ada dua: bersifat permanen dan melibatkan semua unsur bangsa Indonesia. Bagaimana caranya? Allah telah mengikrarkan dalam surah al-A’raf ayat 96 yang artinya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”


Sesuai janji Allah dalam ayat tersebut, Indonesia akan menjadi negeri berkah dengan syarat jelas: penduduknya beriman dan bertakwa. Lalu, bagaimana kunci dan manivestasi iman—takwa itu?
Mengkaji Alquran mulai awal hingga akhir, kita akan menemukan tipsnya. Kita perhatikan, ternyata ciri orang bertakwa yang pertama kali disebutkan Alquran dalam urutan mushaf, tepatnya dalam al-Baqarah ayat ketiga, adalah “mereka yang beriman kepada yang gaib”.
 Ujian bagi kita sebagai manusia, hal-hal gaib itu, baik pahala maupun dosa, surga atau neraka, tidak langsung diperlihatkan oleh Allah. Sedang andai semua hal gaib tersebut langsung diperlihatkan oleh Allah di dunia ini, bisa dijamin, seluruh manusia akan berbuat taat, dan tidak akan ada satu pun yang berbuat maksiat!


Nah, menguatkan keyakinan dan kesadaran tentang adanya sesuatu yang gaib inilah kunci ketaatan bangsa ini, hingga dapat menemukan keberkahannya. Orang yang keimanannya pada hal gaib mantap, akan memiliki keyakinan kuat bahwa hidup ini ada tanggung jawabnya, dunia dan akhirat. Itulah ciri orang cerdas spiritual menurut Rasulullah, yaitu, “Orang yang paling banyak mengingat kematian, dan paling baik dalam mempersiapkan kehidupan setelah kematian.” (HR Ibnu Majah dan al-Thabrani) Orang ingat mati dan senantiasa mempersiapkan kehidupan setelah kematian, pasti akan berusaha melakukan yang baik, dan tidak akan melakukan perbuatan negatif, apalagi merugikan orang lain.


Secara pribadi, dia akan istikamah ibadah dan mengawasi ibadah keluarganya, terutama shalat. Siapa yang melakukan itu, hidupnya akan berkah (lihat: QS Thaha: 132). Karena yakin hidup ini ada tanggung jawabnya, seorang atau kelompok pedagang, wirausahawan, pemegang tender, akan berbisnis dengan jujur, tidak akan melakukan penipuan, dan itulah sebab datangnya keberkahan, seperti diriwayatkan Abu Wail (lihat al-Mausu’ah al-Fiqhiyah: 3/309).


Pun, seorang pejabat akan berlaku adil, karena dia yakin, bila lalim atau melakukan korupsi, dia akan dimintai pertanggungjawaban, dunia dan akhirat. Dengan begitu, roda pemerintahannya akan berjalan baik dan mendapatkan keberkahan.


Pendek kalam, setiap pribadi dan semua kelompok bangsa ini bertanggung jawab mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi negeri berkah. Tingkatkan keimanan pada sesuatu yang gaib, keyakinan bahwa hidup memilki tanggung jawab, lakukan kebaikan dan tinggalkan kemaksiatan.


Pasalnya, jelas ulama, kemaksiatan itu menyebabkan krisis, sedang ketaatan itu menjadi penyebab turunnya berkah (al-ma’ashi sabab al-jadb wa al-tha’ah sabab al-barakah). Itulah tips dan manivestasi iman-takwa menurut al-A’raf ayat 96 itu, yang akan meniscayakan guyuran berkah untuk negara dan bangsa ini.
 Oleh: Faris Khoirul Anam (rol/sp)


Kontroversi Hadits Cara Sujud dan Menggerakkkan Telunjuk Saat Tasyahhud

Di antara sebab berkepanjangannya kontroversi cara menuju sujud dan menggerak-gerakkan telunjuk saat tasyahhud ataukah tidak, karena kedua cara tersebut masing-masing memiliki dalil yang saling bertentangan lalu dinilai dan dipahami secara berbeda oleh para kritikus hadis.

  Syekh Al-Albâni –seorang kritikus hadis kontemporer – mensahihkan sanad hadis  menggerak-gerakkan telunjuk saat tasyahhud padahal ia telah mendaifkan sanad yang sama ketika membahas hadis mendahulukan kedua lutut. Tulisan ini akan membahas bagaimana sesungguhnya kualitas dua kelompok hadis tersebut berdasarkan standar kritik hadis.


A.   Cara Sujud
Ada dua hadis yang seringkali diungkap ketika membahas mengenai gerakan menuju sujud dalam shalat. Hadis pertama menuntunkan untuk meletakkan kedua lutut lebih dahulu sebelum kedua tangan, sedangkan hadis kedua menuntunkan untuk meletakkan kedua tangan lebih dahulu sebelum kedua lutut.
Mendahulukan kedua lutut sebelum kedua tangan didasarkan pada hadis dari Wâ’il bin Hujr ra bahwa ia melihat Nabi saw:
إِذَا سَجَدَ يَضَعُ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ وَإِذَا نَهَضَ رَفَعَ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ
“Apabila beliau sujud, beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya, dan apabila bangkit, beliau mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya.” (HR. Al-Tirmidzi, Al-Nasâi, Abu Dâwud)[1]
Sedangkan tuntunan untuk meletakkan kedua tangan lebih dahulu sebelum kedua lutut didasarkan pada riwayat dari Abu Hurayrah ra.:
إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلا يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيرُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ
Apabila salah seorang kalian sujud, maka janganlah mendekam seperti mendekamnya onta, hendaklah meletakkan kedua tangannya lebih dahulu sebelum kedua lututnya. (HR. Abu Dâwud, al-Nasâi, Ahmad dan al-Dârimi)[2]
Bagi kita yang belum mengetahui kualitas dari hadis-hadis tersebut maka untuk sementara, tidak mengapa memilih salah satu dari keduanya, yang penting keduanya masih ada sandaran dalilnya. Dan yang lebih penting, jangan pernah mendahulukan kepala, karena sama sekali tidak ada dalilnya.
Menurut Syekh Muhammad Nâshiruddîn al-Albâni bahwa hadis pertama dari Wâ’il berkualitas daif karena di samping Syarîk yang banyak kesalahannya ini sendirian dan jalur ‘Ashîm bin Kulayb dari Bapaknya bermasalah, juga karena bertentangan dengan riwayat Abu Hurayrah yang dipeganginya yang menuntunkan untuk meletakkan kedua tangan lebih dahulu dari pada kedua lutut.[3] Sebaliknya, menurut Ibn al-Qayyim bahwa justru matan hadis dari Abu Hurayrah inilah yang kacau dan ada kesalahan (wahm) sehingga terjadi syâdz (kejanggalan) berupa keterbalikan (maqlûb) dan ketidaksinkronan pada kalimat awal dengan kalimat akhir. Pada kalimat awal melarang sujud seperti onta, sedangkan pada kalimat akhir justru menganjurkan supaya meletakkan kedua tangan lebih dahulu sebelum kedua lutut, padahal jika dicermati, cara onta sujud dengan meletakkan dan menekuk kaki depannya baru kemudian kaki belakangnya. Inilah yang dikritik habis oleh Ibn al-Qayyim sebagai kejanggalan dalam matan hadis ini, seharusnya hadis ini berbunyi: hendaklah meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan.[4] Sayangnya redaksi usulan Ibn al-Qayyim inipun tidak ada hadisnya.[5] Tetapi ahli hadis lainnya mencoba mengkompromikannya dengan menyatakan bahwa itu tidaklah salah dan tidak bertentangan karena menurutnya lutut onta itu terdapat di kaki depannya. Di sinilah masalahnya menjadi kacau dan membingungkan karena perdebatan selanjutnya beralih kepada struktur anatomi onta yakni mana sebenarnya yang disebut lutut onta dan mana tangan onta yang kemudian mana yang tidak boleh dilakukan oleh manusia karena menyerupai cara sujud onta.[6]
Bagi Imam Ahmad, karena kedua cara tersebut masing-masing ada dasar hadisnya maka beliau mempersilahkan untuk dipilih salah satunya dan tidak usah dipertentangkan satu sama lain. Memang bisa jadi Nabi saw melakukan keduanya, misal: beliau mendahulukan lututnya dari pada tangannya ketika masih muda dan kuat bertumpu pada lututnya, namun ketika sudah mulai tua, dan tidak lagi kuat bertumpu pada kedua lututnya, maka beliau mendahulukan kedua tangannya dari pada kedua lututnya.
Bagaimana sesungguhnya kualitas kedua hadis tersebut?    
Sebagaimana kaidah penelitian hadis bahwa sebelum membahas matan hadis, maka harus diawali dengan penelitian sanad, walaupun pemicu awal kenapa hadis tersebut diteliti muncul dari matan yang tidak singkron, tidak logis dan meragukan sebagai hadis Nabi saw.
Menurut penelitian penulis bahwa jika al-Albâni menyatakan hadis dari Wâ’il bin Hujr yang menuntunkan untuk meletakkan kedua lutut lebih dahulu adalah lemah sedangkan hadis dari Abu Hurayrah yang menuntunkan untuk meletakkan kedua tangan lebih dahulu adalah sahih, justru hasil penelitian penulis membuktikan sebaliknya. Jalur hadis dari Wâ’il yang melalui Syarîk dari ‘Âshim bin Kulayb dari Bapaknya dikritik habis dan didaifkan oleh al-Albâni, padahal berdasarkan penelitian penulis terhadap jalur Syarîk dari ‘Âshim dari Bapaknya masih bisa ditolerir jika ada pendukungnya dari jalur sanad yang lain. Periwayat Syarîk menurut Ahmad: ia jujur, Ibn Ma‘în: jujur terpercaya, Abu Dâwud: terpercaya namun kadang salah, Abu Hâtim al-Râzi dan Ibn Hajar adalah jujur namun cukup banyak kesalahannya. Sementara itu ‘Âshim ini dinilai tsiqah oleh Ibn Ma’în & al-Nasâi sehingga Muhammad bin Sa’ad menilainya bisa dijadikan hujjah. Imam Ahmad: Tidak ada masalah dengannya. Ibn Hajar menilainya shadûq/jujur meskipun dituduh murji’ah. Menurut al-Tirmidzi, hadis ini hasan gharîb (hasan namun hanya punya satu jalur), padahal ‘Ali bin al-Madini memberikan catatan penting tentang jalur ‘Âshim bahwa bila sendirian maka hadisnya tidak bisa dijadikan hujjah. Tetapi ternyata dalam Sunan Abi Dâwud: 383, selain menyebutkan jalur Syarîk dst., juga menyebutkan hadis senada:
فَلَمَّا سَجَدَ وَقَعَتَا رُكْبَتَاهُ إِلَى الْأَرْضِ قَبْلَ أَنْ تَقَعَ كَفَّاهُ
“…maka tatkala sujud, beliau meletakkan kedua lututnya ke tanah sebelum meletakkan kedua telapaknya.” (HR. Abu Dâwud)
Hadis ini melalui Hammâm, dari Muhammad bin Juhâdah, dari ‘Abd al-Jabbâr bin Wâ’il (w. 112 H), dari Bapaknya dengan sanad bersambung. Meskipun ‘Abd al-Jabbâr tidak mendengar langsung dari Wâil bapaknya karena Wâ’il wafat ketika ia masih kecil, namun ia mendengar hadis Wâ’il melalui keluarganya, seperti: ‘Alqamah kakaknya, Ummi Yahya ibunya dan mawlâ/pengasuhnya. Meskipun hadis ini juga ditolak al-Albâni karena menurutnya sanadnya lemah dan matannya bertentangan dengan hadis Abu Hurayrah yang dipeganginya, namun karena ada jalur lain yang bisa menjadi pendukungnya sehingga hadis ini maqbûl yakni bisa dijadikan hujjah.[7]
Adapun hadis Abu Hurayrah yang disahihkan al-Albâni tentang larangan sujud seperti onta dan menganjurkan untuk mendahulukan kedua tangan lebih dahulu (وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ), berdasarkan penelitian penulis justru daif. Kedaifan hadis ini karena semua periwayatnya mesti melalui ’Abd al-‘Âziz bin Muhammad bin ‘Ubayd al-Darâwurdi (w. 187 H) dari Muhammad bin ‘Abdullah. Menurut Al-Thabrâni: banyak hadis ‘Abd al-‘Azîz Al-Darâwurdi yang salah (al-Thabrâni, al-Thabaqât al-Kubra, juz 5 hlm 424). Ahmad dan Abu Zur‘ah juga menilai: hapalannya buruk, meragukan, dan kadang kebolak-balik dalam meriwayatkan hadis. Al-Nasa’i menilainya: bukan orang kuat, tapi di waktu lain ia & Ibn Ma‘în juga menilainya tidak ada masalah dengannya (Ibn Hajar, Tahdzîb, juz 6, hlm 315). Meskipun al-Albâni menilai hadis ini sahih, tapi melihat ‘Abd al-‘Azîz al-Darâwurdi yang kacau hapalannya dan cuma sendirian (gharîb), maka hadis ini harus ditolak sebagai hujjah. Inilah sebabnya hadis ini dinilai daif oleh Ibn al-Qayyim karena kebolak-balik matannya, bahkan diduga kuat kalimat kedua sebagai tambahan. Hadis yang biasa dijadikan pendukung yakni hadis yang melalui ‘Abdullah bin Nâfi’ al-Shâ’igh (w. 206 H) –meskipun cukup kontroversial–,[8] ternyata tidak dapat dijadikan sebagai pendukung hadis di atas karena tidak merinci bagaimana cara sujud onta tapi Nabi saw hanya menyebutkan:
يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ فَيَبْرُكُ كَمَا يَبْرُكُ الْجَمَلُ
“Seorang di antara kalian telah bertopang dalam shalatnya lalu sujud seperti sujudnya onta.” (HR. al-Nasâ’i, al-Tirmidzi, Abu Dâwud, al-Bayhaqi).
Demikian pula riwayat dari Nâfi’ tentang Ibn ‘Umar yang meletakkan kedua lututnya lebih dahulu, juga tidak dapat dijadikan sebagai saksi pendukung (syâhid) karena di samping hanya merupakan hadis mawqûf yang disandarkan pada Ibn ‘Umar,[9] juga Ibn ‘Umar sendiri ada kendala pada kakinya sehingga beliau tidak bisa sujud dan duduk sebagaimana sunnah mestinya.[10] Sebaliknya, Ibn Abi Syaybah dalam Mushannaf-nya (juz 1/263) justru menyebutkan bahwa ‘Umar, Ibn ‘Umar, Abu Hurayrah, dan para tâbi’în lainnya mendahulukan kedua lututnya sebelum kedua tangannya.[11]
Penjelasan Matan Hadis
Menurut hemat penulis bahwa Rasulullah saw pada umumnya melarang sujud menyerupai binatang seperti onta, anjing, dan binatang lainnya karena kita adalah manusia yang memiliki struktur anatomi tersendiri. Lebih baik memilih dan melaksanakan yang lebih mudah dan lebih sesuai dengan struktur manusia dari pada menyerupai binatang. Jika dicermati, maka posisi berdiri binatang berkaki empat sudah siap menuju sujud, yakni kaki depan sebagai perlambang tangan sudah lebih dahulu menyentuh tanah, lalu menyusul lutut depan onta. Kalaupun diartikan bahwa lutut onta ada di kaki depan maka pertanyaannya adalah mana bagian onta yang akan diposisikan sebagai kedua tangan manusia? Jika dijawab bahwa onta tidak bertangan, padahal manusia bertangan? Tetapi kalau diartikan bahwa kaki depan onta diumpamakan sebagai “tangan” manusia maka akan lebih mudah dipahami bahwa semua bagian kaki depan termasuk “lutut depan” (siku untuk manusia) adalah bagian dari tangan manusia. Dan Nabi saw melarang sujud seperti binatang, seperti onta yang mendahulukan “kedua tangan”nya (yakni kaki depan onta), melarang sujud seperti anjing yang menjadikan sikunya sebagai alas (firasy) menempel di tanah dan memasukkannya ke dalam kedua ketiak. Posisi inilah yang dilarang karena lebih menyerupai posisi binatang berlutut. Sementara bagi manusia lebih mudah sujud jika menurunkan kedua lutut sebagai bagian anggota badan terdekat dengan tanah, lalu menyusul kedua telapak tangan baru kemudian wajah (yakni kening dan hidung). Cara seperti inilah yang ternyata lebih banyak dipilih para pengikut Mazhab Hanafiyah dan Syafi‘iyah dari pada tangan dahulu yang dipegangi Mazhab Maliki.
Posisi saat sujud yang benar adalah dengan menempelkan 7 tulang (sab’at a’dzum) di tanah yaitu wajah (yakni dahi dan hidung), kedua tangan, kedua lutut, dan kedua kakinya (Muttafaq ‘alayh). Kedua siku tidak masuk bagian yang menempel karena akan menyerupai binatang dan melanggar hadis yang hanya menyebutkan 7 tulang yang menempel di tanah. Kedua telapak tangan diletakkan sejajar dengan kedua telinga ( وَسَجَدَ فَوَضَعَ يَدَيْهِ حَذْوَ أُذُنَيْهِ. HR. Ahmad) atau dalam redaksi yang lain: wajahnya diletakkan di antara kedua telapak tangannya (وَضَعَ وَجْهَهُ بَيْنَ كَفَّيْهِ  HR. Ibn Hibbân, atau: يَسْجُدُ بَيْنَ كَفَّيْهِ  / سَجَدَ HR. Ahmad, Muslim) di mana jari-jemarinya dirapatkan (ضَمَّ أصابِعَه HR. Ibn Hibbân, al-Thabrâni, Ibn Khuzaymah) dan dihadapkan ke arah qiblat (HR. Al-Bayhaqi dan Ibn Abi Syaybah). Nabi saw juga tidak menjadikan kedua lengannya sebagai alas dan tidak pula menggemgam kedua tangannya ( وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلاَ قَابِضِهِمَا . HR. Al-Bukhâri, al-Bayhaqi), tapi menuntunkan agar mengangkat kedua siku dari lantai (وارْفَعْ مِرْفقَيْكَ. HR. Muslim, Ahmad, dan Abu ‘Awwânah) dan merenggangkan keduanya (فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ) dari ketiak dan lambungnya (Muttafaq ‘alayh), dan juga merenggangkan kedua pahanya (فَرَّجَ بَيْنَ فَخِذَيْهِ), tapi tidak menempelkan perutnya pada kedua pahanya (HR. Abu Daud dan al-Bayhaqi, dari Abu Humayd). Nabi saw menuntunkan supaya mengangkat pantatnya (رَفَعَ عَجِيزَتَه. HR. Ahmad, dari al-Barrâ’), namun tidak boleh berlebih-lebihan dengan memanjangkan sujud hingga perutnya mendekati lantai (جَخَّي).[12] Yang jelas, Nabi saw menganjurkan supaya proporsional pada saat sujud (اعْتَدِلُوا فيِ السُّجُود), dan jangan seperti binatang buas atau anjing (Muttafaq ‘alayh). Adapun posisi kedua telapak kaki, ditegakkan di mana ujung jari kedua kaki dihadapkan ke qiblat (وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ. HR. Al-Bukhâri, al-Bayhaqi), tanpa dirapatkan.[13]
Untuk sujud perempuan, memang ada hadis riwayat Abu Dâwud dalam Kitab al-Marâsîl (87/117) dari Yazîd bin Abi Habîb bahwa Nabi saw pernah menyuruh seorang wanita untuk merapatkan tangannya ke lambungnya. Namun hadis ini munqathi‘ (terputus sanadnya) karena mursal.[14]
Ketika bangkit dari sujud kedua pada rakaat ganjil dan akan berdiri pada rakaat genap, disunnahkan untuk duduk istirahat sejenak[15] dengan cara iftirâsy[16] kemudian baru berdiri (HR. al-Jama`ah kecuali Muslim) dengan menekankan telapak tangan (tanpa dikepalkan)[17] pada tanah lalu berpegangan pada kedua paha untuk berdiri tanpa mengangkat tangan dan langsung sedekap. Selanjutnya kerjakanlah  raka’at  kedua ini, seperti raka’at yang pertama, hanya saja tidak membaca doa iftitah.

B.  Hadis menggerak-gerakkan jari telunjuk saat tasyahhud
Mengenai menggerak-gerakkan telunjuk saat tasyahhud atau tahiyyat didasarkan pada hadis dari Wâ’il yang berbunyi: ثُمَّ رَفَعَ إِصْبَعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا : “Kemudian beliau mengangkat telunjuknya lalu aku melihat beliau menggerak-gerakkannya (untuk) berdoa dengannya.” (HR. Al-Nasâ’i, Ahmad, dari Wâ’il bin Hujr).[18]  Tetapi ada hadis yang berbunyi sebaliknya dari ‘Abdullah bin al-Zubayr bahwa justru Nabi saw tidak menggerak-gerakkan telunjuk saat tahiyyat: كَانَ يُشِيرُ بِأُصْبُعِهِ إِذَا دَعَا وَلا يُحَرِّكُهَا : “Beliau menunjuk dengan telunjuknya bila berdoa, dan tidak menggerak-gerakkannya” (HR. Al-Nasâi, Abu Dâwud, al-Bayhaqi, ‘Abd al-Razzâq, dari ‘Abdullah bin al-Zubayr).[19]
Sebagian ulama berupaya mengkompromikan kedua hadis tersebut. Al-Bayhaqi misalnya, berusaha mengkompromikan hadis ini dengan membahas makna يُحَرِّكُهَا dalam hadis Wâ’il yang tidak selalu bermakna lit-tikrâr (untuk pengulangan) sehingga berarti menggerak-gerakkannya, tapi bisa juga berarti menggerakkannya saja yakni untuk menunjuk. Jika diartikan demikian maka –menurut al-Bayhaqi– sudah tidak lagi bertentangan dengan hadis tidak menggerakkan telunjuknya riwayat ‘Abdullah bin al-Zubayr.[20]
Sementara itu Al-Albâni menilai hadis menggerak-gerakkan telunjuk ini sahih padahal hadis ini melalui ‘Âshim bin Kulayb dari Bapaknya yang telah ia daifkan saat menolak hadis sujud dengan mendahulukan kedua lutut sebelum kedua tangan (Lihat al-Silsilat al-Dla‘îfah, juz 2/426). Di sini tampak jelas inkonsistensi al-Albâni dalam menilai jalur sanad ‘Âshim bin Kulayb dari Bapaknya. Setelah melakukan penelitian berulangkali terhadap sanad ‘Âshim bin Kulayb dari Bapaknya ini, penulis sepakat dengan penilaian ‘Ali bin al-Madîni bahwa sanad ini bisa menjadi maqbûl jika memang ada pendukungnya. Karena itulah, al-Albâni mencari pendukung hadis menggerak-gerakkan tersebut dengan mengutip hadis aneh dalam Shifat al-Shalâh bahwa menunjuk/menggerak-gerakkan telunjuk saat duduk dalam shalat: لَهِيَ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِن الْحَدِيدِ :  ”Sungguh hal ini lebih keras dirasakan Syaithan dari pada (cambukan) besi.(HR. Ahmad, Musnad, tahqîq al-Arna’ûth, juz 2, no: 6000 & al-Bazzâr: 2/249). Tapi hadis ini ternyata daif sekali karena selain matannya aneh dan mustahil, juga karena jalur hadis ini melalui Katsîr bin Zayd yang hampir semua ulama mendaifkannya kecuali Ibn Hibbân (Lihat al-Haytsami, Majma‘., juz 2, hlm 334, no: 2850).
Karena tidak ada jalur lain yang mendukungnya, maka hadis ini tetap daif karena syâdz (menyimpang). Al-Arna’uth dalam Musnad Ahmad (juz 4/318, no: 18890) menilai hadis ini sahih kecuali kalimat يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا adalah syâdz karena hanya Zâ’idah bin Qudâmah (161 H) sendiri yang meriwayatkannya demikian. Tetapi kalaupun hadis ini maqbûl khususnya bagi yang meyakini hadis ini sahih, maka pada matan al-Nasa’i yang kedua (no: 1268) setelah kalimat يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا akan ditemukan kalimat : مُخْتَصَرٌ (diringkas) karena memang sebenarnya hadis dari Wâ’il ini masih ada tambahan komentar dari Wa’il sendiri sebagaimana disebutkan Ahmad, al-Thabrâni, dan Ibn Hibbân. Kata Wa’il selanjutnya:

… ثُمَّ جِئْتُ بَعْدَ ذَلِكَ فِي زَمَانٍ فِيهِ بَرْدٌ فَرَأَيْتُ النَّاسَ عَلَيْهِمْ الثِّيَابُ تُحَرَّكُ أَيْدِيهِمْ مِنْ تَحْتِ الثِّيَابِ مِنْ الْبَرْدِ


”…Kemudian setelah itu aku datang pada suatu musim yang dingin, lalu aku melihat orang-orang yang memakai kain menggerak-gerakkan tangan mereka dari bawah kain karena kedinginan.” (HR. Ahmad, juz 4/318: 18890; al-Thabrâni, al-Mu’jam al-Kabîr, juz 22/35; Ibn Hibbân, Shahîh, juz 5/170-171)


Membaca lanjutan hadis di atas, tampaknya Wâ’il ingin mengatakan bahwa Nabi saw menggerak-gerakkan telunjuknya disebabkan karena kedinginan sebagaimana umumnya orang menggerak-gerakkan tangannya bila kedinginan, bukan sebagai tuntunan yang disyari’atkan.
Adapun hadis dari ‘Abdullah bin al-Zubayr yang mengatakan bahwa justru Nabi saw tidak menggerak-gerakkan telunjuk ssaat tahiyyat: كَانَ يُشِيرُ بِأُصْبُعِهِ إِذَا دَعَا وَلا يُحَرِّكُهَا : “Beliau menunjuk dengan telunjuknya bila berdoa, dan tidak menggerak-gerakkannya” (HR. Al-Nasâi, Abu Dâwud, dari ‘Abdullah bin al-Zubayr)[21] adalah sahih.  Semua ahli hadis –tanpa kecuali– sepakat akan kesahihannya, sedang al-Albâni hanya menilainya hasan itupun dengan komentar: tidak menggerak-gerakkan adalah tambahan yang syâdz/munkar/menyimpang.[22] Hanya saja al-Albâni tidak mampu membuktikan secara sahih bukti penyimpangannya. Inilah yang dikritik oleh al-Yamâni terhadap Shifat al-Shalâh-nya al-Albâni dalam al-Bisyârah fî Syudzûdz Tahrîk al-Ishba’ fi al-Tasyahhud dengan disertai bukti yang rinci bahwa dari total 12 jalur sanad hadis yang menyebutkan tentang hal ini, 11 hadis menyebutkan tidak menggerak-gerakkan, dan hanya 1 hadis yang menyebutkan menggerak-gerakkan telunjuk & ternyata satu inipun bermasalah.
Jika langsung menggunakan metode tarjîh, maka hadis yang tidak menggerak-gerakkannya-lah yang harus dipegangi, sedangkan hadis yang menggerak-gerakkan karena menyimpang dan bermasalah sehingga harus ditolak (mardûd).
Dari beberapa keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa setelah duduk dengan tenang, Nabi saw menggerakkan telunjuknya untuk menunjuk 1 kali di awal duduk saat mulai membaca tasyahhud: al-tahiyyâtu…, tidak menunjuk/menggerakkan pada sebagiannya termasuk saat menyebut illa-llâh karena tidak ada hadisnya, dan tidak juga menggerak-gerakkannya secara keseluruhan karena di samping hadisnya syâdz (menyimpang & lain sendiri) juga menyalahi prinsip thuma’ninah (tenang) dalam shalat. Wa-llâhu a‘lam.


* Dosen Mata Kuliah Hadis & Ilmu Hadis pada Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta; Kepala LPPI UMY; Anggota Majelis Tabligh & Dakwah Khusus PP. Muhammadiyah.
                [1] Hadis riwayat Al-Tirmidzi: 268; Al-Nasâ’i: 1089, 1154; Abu Dâwud: 838 semuanya melalui Syarîk bin ‘Abdillâh (wafat 177 H), dari ‘Âshim bin Kulayb, dari Bapaknya, dari Wâ’il bin Hujr ra.
                [2] HR. Abu Dâwud: 840; al-Nasâ’i: 1091; Ahmad: 8732: al-Dârimi: 1321. Sebagian riwayat (seperti: Abu Ya‘la & Ibn Abi Syaybah) menggunakan lafal al-fahl yang berarti kuda jantan, tapi jalur ini sanadnya dla‘îf (Ibn Hajar, Rawdlat al-Muhadditsîn, 1/hlm 370). Menurut al-Tirmidzi hadis ini gharîb karena semua periwayat hadis ini melalui ’Abd al-‘Âziz bin Muhammad, dari Muhammad bin ‘Abdullah bin Hasan (w.145 H), dari Abu al-Zinâd (w. 130 H), dari al-A’raj dari Abu Hurayrah ra. Al-Bukhari dalam al-Târîkh al-Kabîr mengatakan tidak mengetahui persis apakah Muhammad bin ‘Abdullah bin Hasan mendengarkan hadis dari Abu al-Zinâd. Tetapi melihat keduanya hidup sezaman dan sama-sama orang Madinah maka diduga kuat mereka sangat mungkin bertemu. Yang menjadi masalah sebenarnya adalah periwayat yang meriwayatkan hadis dari Muhammad bin ‘Abdullah yakni ’Abd al-‘Âziz bin Muhammad bin ‘Ubayd al-Darâwurdi (w. 187 H) yang semua periwayat hadis ini melalui dirinya. Pembahasan mengenai ‘Abd al-‘Azîz ini akan dibahas secara rinci kemudian.
[3] Al-Albâni, al-Silsilat al-Dla‘îfah, juz 2 hlm 426; al-Albâni, Tamâm al-Minnah, juz 1/193-199.
                [4] Lihat Ibn al-Qayyim al-Jawziyah, Cara Shalat Rasulullah saw, Jakarta: Pustaka Al-Akbar, Bab: Cara Sujud; al-Shan‘âni, Subul al-Salâm, juz 2, hlm 164.
[5] Ada hadis yang disebutkan oleh Ibn al-Atsîr (wafat 606 H) dalam Jâmi’ al-Ushûl fi Ahâdîts al-Rasûl (juz 5/378 no: 3518) dari Abu Hurayrah ra yang justru menjelaskan sifat sujud onta yang meletakkan kedua tangan lebih dulu sebelum kedua lutut yakni:
(د ت س)  أبو هريرة – رضي الله عنه – قال : قال رسولُ الله -صلى الله عليه وسلم- : «إذا سجد أحدكم فلا يْبرُكْ كما يَبْرُكُ البعير ، يضعُ يديه قبل ركبتيه».
Kode ( د ت س ) menunjukkan hadis ini bersumber pada Abu Dâwud, al-Tirmidzi dan al-Nasâ’i yang ternyata setelah diteliti pada kitab Sunan asli milik mereka, tidak ada redaksi seperti yang dikutip dalam Jâmi’ al-Ushûl. Tampaknya hadis inilah yang dikutip dalam HPT Muhammadiyah (1976, cet-3, hlm 92) yang ternyata tidak ada sumbernya pada kitab sumber utama (kitab primer) manapun kecuali disebutkan dalam HPT dikutip dari Kitab Taysîr al-Wushûl yang belum berhasil penulis temukan kitabnya namun pasti bukan kitab primer.
                [6] Lihat perdebatan panjang lebar mengenai mana lutut onta dalam al-Fatâwa al-Hadîtsiyah oleh al-Huwayni, juz 1 hlm 54-57. 
                [7] Lihat Syakir Jamaluddin (2009), Shalat Sesuai Tuntunan Nabi saw, hlm 81. Mengenai ‘Abd al-Jabbâr bin Wâ’il, lihat Ibn Hajar al-‘Asqalâni, Tahdzîb, juz 6 hlm 95.
[8] Kontroversi tentang ‘Abdullah bin Nâfi’ al-Shâ’igh karena Ahmad menilainya bukan ahli hadis, tapi murid fanatik dan pembela Imam Malik; Abu Hâtim menilai hapalannya lemah tapi tulisannya lebih baik dari pada hapalannya; Al-Bukhâri menilai ada masalah pada hapalannya, tapi Abu Zur‘ah & al-Nasâ’i menilai tidak ada masalah dengannya, bahkan Ibn Ma‘în menilainya tsiqah. Lihat: Ibn Abi Hâtim, al-Jarh., juz 5, hlm 183, no: 856; al-Dzahabi, al-Kâsyif, juz 1 hlm 602, no 3017;  al-Dzahabi, Siyar A‘lam al-Nubalâ’, juz 10 hlm 371-373.
[9] Al-Bukhâri dalam Shahîh-nya (1/hlm 276) mengutip hadis mawqûf ini secara mu’allaq dari Nâfi’ bahwa Ibn ‘Umar يَضَعُ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ : meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya. Tapi al-Bayhaqi (2/100, no: 2744), al-Hâkim (1/348: 821), Ibn Khuzaymah (1/318: 617) menyebutkannya secara marfû’ bahwa Nabi saw melakukan hal itu, padahal sanad hadis Ibn ‘Umar ini melalui ‘Abd al-‘Azîz al-Darâwurdi yang terkenal kacau hapalannya sehingga hadis ini sesungguhnya lemah. Sayangnya hadis ini dikutip pula oleh al-Hâfidz Ibn Hajar dalam Bulûgh al-Marâm sebagai pendukung yang menguatkan hadis Abu Hurayrah tentang larangan sujud seperti onta.
[10] HSR. al-Bukhâri, 1/284: 793; Mâlik, 1/89: 201
                [11] Syakir Jamaluddin, Shalat Sesuai Tuntunan Nabi saw, hlm 82-83, footnote 29.
                [12] HR. Ibn Khuzaymah, tahqiq: al-A’dzami juz 1, hlm 326 no: 647; Ibn al-Mundzir, al-Awsath, juz 4, hlm 396, no: 1397. Jakhkha berarti: tidak memanjangkan ruku‘ dan sujud. Dalam  Mu‘jam Ibn al-Muqri’, juz 2, hlm 316 no: 808, jakhkha berarti mengangkat perut dari tanah.
                [13] Lihat Mahmûd ‘Abd al-Lathîf, al-Jâmi‘ li Ahkâm al-Shalâh, juz 2, hlm 252-256; al-Albâni, Shifat al-Shalâh, hlm 141; Himpunan Putusan Majlis Tarjih, hlm 91-93. Sebagian HR. al-Bayhaqi, al-Hâkim & Ibn Hibbân yang menceritakan bahwa pada suatu malam ‘Aisyah kehilangan Rasulullah & menemukan beliau sujud dengan merapatkan kedua tumit (سَاجِدًا رَاصًّا عَقِبَيْهِ) ternyata janggal & daif karena hanya Yahya bin Ayyûb al-Ghâfiqi sendiri yang meriwayatkannya demikian, yang lainnya tidak (Lihat komentar al-Hâkim, 1/353: 832; Abu Zayd, Bakr bin ‘Abdillâh, Lâ Jadîda fî Ahkâm al-Shalâh, cet ke-3, hlm 36-41). Mengenai Yahya bin Ayyûb, hanya al-Albâni yang menilainya tsiqah, sementara yang menilainya jujur & shâlih hadisnya hanya datang dari Ibn ‘Addi & Ibn Ma’în, tapi al-Nasâ’i, Ahmad & al-Dâruquthni menilainya bukan orang kuat, jelek/kacau hapalannya serta meriwayatkan banyak hadis munkar, Ibn al-Qaththân & Abu Hâtim: tidak boleh dijadikan hujjah. Lihat al-Dzahabi, Mîzân al-I’tidâl, juz 7/160-162). Muslim (2/51: 1118) & Ahmad (6/201) misalnya, hanya meriwayatkan bahwa ‘Aisyah menyentuh atas bagian dalam kedua kaki Nabi saw (عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ) saat sujud, tanpa menyebutkan merapatkan kedua kaki. Dengan demikian, jarak antar kaki saat sujud sama dengan jarak antar kaki saat berdiri, yakni tidak dirapatkan dan tidak pula terlalu dilebarkan, tapi proporsional saja sebagaimana yang diharapkan oleh sunnah Nabi saw.
                [14] Lihat Bab Penutup dalam Agung Danarto, Cara Shalat Menurut HPT., dan Al-Albâni, Shifat al-Shalât. Hadis mursal adalah hadis yang diriwayatkan tâbi’în langsung pada Nabi saw.
                [15] Duduk istirahat sejenak ini dilakukan setelah bangkit dari sujud kedua sebelum bangkit berdiri menuju rakaat kedua dan rakaat keempat. Duduk istirahat ini termasuk sunnah Nabi saw berdasarkan hadis: فَإِذَا كَانَ فِي وِتْرٍ مِنْ صَلاَتِهِ لَمْ يَنْهَضْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَاعِداً : “Apabila berada pada rakaat ganjil dari shalatnya, beliau tidak langsung bangkit hingga duduk tegak.” (HSR. Al-Bukhâri, al-Tirmidzi dan Abu Dâwud). Dan hadis dari Abu Qilâbah bahwa Mâlik bin al-Huwayrits mencontohkan tata cara shalat Nabi saw yakni:  وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ عَنِ السَّجَدَةِ الثَّانِيَةِ جَلَسَ وَاعْتَمَدَ عَلَى اْلأَرْضِ ثُمَّ قَام: “Dan apabila mengangkat kepalanya dari sujud kedua, ia duduk dan bertumpu ke tanah lalu berdiri.” (HSR. al-Bukhâri, juz 1, 283 no: 790; al-Bayhaqi, juz 2, hlm 135, no: 2631)
                [16] Iftirâsy berasal dari kata fa-ra-sya (membentang) dan firâsy (alas tikar, kasur). Iftirâsy adalah sebuah istilah yang menjelaskan cara duduk dengan beralaskan bentangan kaki kiri.
[17] Tuntunan mengepalkan tangan ke tanah saat bangkit untuk berdiri didasarkan pada perbedaan interpretasi pada kata يَعْجِنُ yang bersumber pada hadis gharîb/asing dan daif riwayat al-Thabrâni (al-Awsath, juz 4/213 no: 4007). Kata tersebut disalahartikan dengan mengepalkan tangan seperti الْعَاجِنُ /pembuat roti saat membuat adonan roti, padahal hadis ini daif, bâthil bahkan tidak ada sumbernya. Menurut Ibn al-Shalâh, inilah yang diamalkan oleh kebanyakan orang Non-Arab dan dianggap sebagai syari‘at dalam shalat padahal tidak ada pesan tersebut berdasar hadis yang kuat. Kalaupun hadis ini kuat, maka maksud al-‘âjin di sini adalah orang tua lemah yang bertopang pada bagian dalam kedua telapak tangannya di tanah untuk berdiri, dan ini sangat mirip dengan pembuat roti yang menekankan kedua tangannya di lantai, bukan dengan mengepalkannya. Lihat Ibn al-Mulaqqin, Badr al-Munîr, juz 3 hlm 678-681; Ibn Hajar, Talkhîsh.,  juz 1 hlm 625-626; Ibn Rajab, Fath al-Bâri li Ibn Rajab,  juz 5/148.
            [18] HR. al-Nasâ’i: 889, 1268; Ahmad: 18391, 18890; al-Dârimi: 1357; Ibn Hibbân: 1860, melalui ‘Âshim bin Kulayb dari Bapaknya, dari Wâ’il bin Hujr. Hadis ini cukup kontroverisial sanad dan matannya. Analisis tentang periwayat ‘Âshim bin Kulayb ini sudah disinggung saat menjelaskan hadis tentang sujud dengan meletakkan lutut lebih dahulu.
                [19] HR. Al-Nasâ’i, no: 1270; Abu Dâwud: 989; al-Bayhaqi: 2615; Abd al-Razzâq: 3242, dari ‘Abdullah bin al-Zubayr ra.
                [20] Al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, juz 2, hlm 131-132.
                [21] HSR. Al-Nasâ’i: 1270; Abu Dâwud: 989; al-Bayhaqi: 2615; Abd al-Razzâq: 3242, dari ‘Abdullah bin al-Zubayr ra. Semua ahli hadis –tanpa kecuali– sepakat akan kesahihannya, meski al-Albâni menilainya syâdz/menyimpang.
[22] Lihat Sunan al-Nasâ’i, tahqîq: Abu Ghuddah, juz 3 hlm 37 no: 1270; al-Albâni, Silsilat al-Ahâdîts al-Dla’îfah wal-Mawdlû’ah, juz 12/ 136-138, no: 5572; Al-Albâni, Dla’îf Abi Dâwûd, juz 1/368-369.

Oleh: Syakir Jamaluddin, S.Ag., MA.* ( Majelis Tabligh PP Muhammadiyah)





MEDIA

KIRIM ARTIKEL
 
Copyright © 2013. Sang Pencerah - All Rights Reserved
Team Website Sang Pencerah